Piala Dunia Berlalu, Pelajaran Kejujuran ala Inggris & Musnahnya 3 Kepongahan di Ujung Jalan

 

Oleh M. Syahran W. Lubis
Penulis buku Para Jawara Piala Dunia (2014) serta Piala Dunia, 96 Tahun Penuh Sesak Drama & Kontroversi dan 13 Kisah Tragis Sepakbola (2026). IG syahranlubis02

Bacaan Lainnya

 

Indonesiadaily.net – Piala Dunia 2026 usai sudah. Setidaknya dua pelajaran bisa dipetik dari hajatan ini yaitu jangan pongah sebelum perjalanan benar-benar selesai dan kejujuran tak harus selalu dikedepankan dalam urusan sekadar permainan.

Sebelum final Spanyol vs Argentina, banyak yang yakin tim Tango meneruskan kejayaannya menaklukkan lawan-lawan mereka sehingga juara. Saya sendiri, seperti saya tuangkan dalam artikel kemarin, tak yakin Argentina bisa mengimbangi permainan tiki-taka Spanyol dan itulah yang akhirnya terjadi.

Tumbangnya tim Tango di kaki para pemain Spanyol sekaligus juga menyungkurkan tiga kepongahan yang saya lihat terpendam di dada Lionel Messi, sang kapten yang memang piawai bersepak bola melebihi pemain lain siapa pun.
Messi memulai turnamen dengan mencetak hattrick ke gawang Aljazair, membuatnya langsung menyamai Miroslav Klose, mantan striker Jerman yang menyandang status top skor sepanjang masa Piala Dunia sejak edisi 2014 dengan koleksi 16 gol.

Berkat 5 gol tambahan, hingga H-2 final Messi masih menjadi top skor Piala Dunia 2026 dengan 8 gol, sama dengan kapten dan striker Prancis Kylian Mbappe. Bahkan Messi masih sendirian menyandang gelar sebagai top skor sepanjang masa Piala Dunia dengan 21 gol.
Namun, langkah Messi untuk mempertahankan posisi top skor turnamen dan top skor sepanjang masa Piala Dunia digulingkan Mbappe setelah dalam pertandimgan perebutan tempat ketiga pada 19 Juni WIB, pemain berdarah campuran Kamerun dan Aljazair itu dua kali menjebol gawang Inggris meski timnya kalah 4–6.

Dengan tambahan 2 gol, Mbappe mengoleksi 10 gol sepanjang turnamen ini dan total 22 gol sepanjang keterlibatannya di tiga putaran final Piala Dunia sejak 2018.

Ironisnya, Messi gagal menambah golnya di tiga pertandingan terakhir ketika Argentina menundukkan Swiss 3–1 dan Inggris 2–1 serta kalah 0–1 di final vs Spanyol.

Dengan demikian, dua impian Messi untuk menjadi top skor turnamen sekaligus top skor sepanjang masa Piala Dunia rontok dan musnah. Dengan usianya yang saat ini sudah 39 tahun, hampir pasti dia tak lagi menjadi bagian skuat Argentina ketika bertarung di Piala Dunia 4 tahun mendatang di mana Albiceleste sudah dipastikan lolos sebagai co-host.

Katakanlah Messi masih sanggup bermain dalam usia 43 tahun, dalam kondisi normal nyaris dapat dipastikan energi yang menopang penampilannya sudah banyak menyusut kecuali jika dia secara luar biasa mampu melewati kehebatan fisik ujung tombak Kamerun Roger Milla yang masih bisa menjebol gawang Rusia di Piala Dunia 1994 ketika telah berusia 42 tahun 39 hari dan sampai sekarang masih memegang rekor sebagai pencetak gol tertua di putaran final Piala Dunia.

Dengan disalip di ujung turnamen, Messi tercatat dua kali kalah bersaing dengan Mbappe sebagai top skor satu turnamen. Di Qatar 2022, Messi mencetak 7 gol, sedangkan Mbappe 8 gol dan menjadi top skor.

Di Piala Dunia 2026 ini Messi juga meraih rekor unik, yaitu satu-satunya penyandang top skor sepanjang masa Piala Dunia yang gelarnya hanya berusia hitungan bulan, tepatnya 1 bulan 2 hari sejak mencetak hattrick ke gawang Aljazair sampai Mbappe mencetak 2 gol ke gawang Inggris.

Bandingkan dengan penyandang gelar top skor sepanjang masa sebelumnya yang mulai diperhitungkan sejak Piala Dunia 1958 ketika penyerang Prancis Just Fontaine mencetak 13 gol di Swedia.

Rekornya baru bisa dipecahkan bomber Jerman Barat Gerd Muller 16 tahun kemudian di Piala Dunia 1974 dengan total 14 gol hasil koleksi dua Piala Dunia sejak 1970.

Rekor Muller baru bisa dipecahkan legenda Brasil Ronaldo Nazario di Jerman pada 2006 atau berselang 32 tahun kemudian dengan 15 gol. Klose lalu memecahkannya dengan 16 gol 8 tahun nerikutnya di Brasil, hasil penampilannya di empat Piala Dunia sejak 2002.

Rontoknya kepongahan ketiga Messi adalah sejalan dengan kegagalan Argentina mempertahankan gelar setelah dibekuk Spanyol 0–1 di final.

Kepongahan Messi, dan juga Argentina, sangat tampak dari dua hal. Pertama, ketika dia mendapat hadangan sedikit keras dari pemain lawan, semua rekannya di lapangan langsung menyerang pemain lawan yang melakukan pelanggaran seolah-olah Messi adalah dewa yang tak boleh dikerasi siapa pun.

Kepongahan kedua adalah ketika H-1 final Messi tampak hanya duduk di tepi lapangan ketika rekan-rekannya menjalani sesi latihan, memperlihatkan dengan terang-benderang bahwa kekuasaannya dalam mengatur tim melebihi pelatih Lionel Scaloni.

Dan jangan lupa, di luar urusan Piala Dunia, Indonesia juga pernah menjadi korban kepongahan Messi yakni ketika dia menolak datang bersama skuat Albiceleste saat mereka menang atas Timnas Garuda pada 19 Juni 2023.
Lebih ironis lagi, selain tiga kepongahan itu rontok, di ajang kali ini Messi bahkan mencatatkan rekor buruk yang sulit diulang dan juga tidak ingin dipecahkan siapa pun. Berkat kegagalannya membuat gol dari titik penalti ke gawang Austria dan Mesir, Messi sekarang mencatatkan diri sebagai pemain yang paling banyak gagal mengonversi penalti menjadi gol sepanjang 96 tahun sejarah Piala Dunia yaitu empat kali.

Kejujuran yang Tak Perlu ala Inggris

Di luar urusan kepongahan Messi, ada lagi satu pelajaran yang bisa diambil yaitu sepak bola ini bukan masalah akhirat, jadi tak harus jujur bermain meskipun juga jangan zalim di lapangan.

Kekalahan Inggris dari Argentina di semifinal dengan skor tipis 1–2 ialah disebabkan Three Lions terus bermain dengan jujur meladeni lawan dengan sepenuhnya bermain sepak bola.
Semestinya, Harry Kane dan kawan-kawan beserta pelatih asal Jerman Thomas Tuchel menghentikan arus deras serangan Argentina bukan dengan taktik bermain sepak bola, melainkan dengan menerapkan “gaya keram dan rebahan di lapangan” ala Timnas Bahrain dan Vietnam.

Tim-tim Eropa memang selalu bermain sepak bola dengan jujur, tanpa trik sebagaimana yang dilakukan hampir semua tim dari Amerika Selatan atau juga sedikit tim Asia, khususnya dua negara di atas.

Setelah satu kali sundulan kepala pemain Argentina menyambar tiang gawang Inggris, semestinya para pemain mereka bersiasat dengan menghentikan atau mengganggu ritme serangan Argentina yang bak air bah.

Hampir bisa dipastikan tensi sumbu pendek ala Amerika Latin langsung naik ke kepala jika skuat Argentina dihadapkan pada gaya bermain ala Bahrain dan Vietnam semacam itu.

Memang itu tak elok. Tapi ingat, cara bermain seperti itu, atau sejenisnya, juga bukan tak lazim diperagakan Argentina terurama di masa lalu dan ingat bahwa itu sah-sah saja dalam sepak bola.

Jadi, pelajaran intinya adalah: ini hanya permainan, bersiasatlah apa saja sepanjang tidak menyimpang dari koridor yang dilegalkan.
Pesta telah usai. Spanyol juara dan mereka memang sangat pantas mendapatkannya dengan permainan di final bahkan seperti latihan rutin saja. Semoga kita masih berjumpa dengan Piala Dunia 2030.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *