Final Piala Dunia: Kolektivitas Spanyol vs Skill Individu Argentina, Messi Berjuang Lewati Mbappe

 

Oleh M. Syahran W. Lubis
Penulis buku Para Jawara Piala Dunia (2014) serta Piala Dunia, 96 Tahun Penuh Sesak Drama & Kontroversi dan 13 Kisah Tragis Sepakbola (2026). IG syahranlubis02

Bacaan Lainnya

 

Indonesiadaily.net – Spanyol bertarung kontra Argentina di partai final Piala Dunia 2026 yang digelar di Stadion MetLife di New Jersey, AS, pada 20 Juli mulai pk. 02.00 WIB.

Ini final ideal. Argentina memang berada di posisi teratas di Ranking FIFA per Juni 2026, ketika pesta akbar sepak bola ini dimulai, sedangkan Spanyol peringkat 2.
Kedua tim juga tengah menggenggam gelar juara di kontinen masing-masing. Argentina juara Copa America 2024 dan Spanyol juara Euro 2024. Eropa dan Amerika Selatan merupakan yang paling kuat di antara enam konfederasi di bawah FIFA. Sejak 1930 juara Piala Dunia hanya datang dari dua benua itu.

Di babak kualifikasi pun, kedua tim bersinar terang. Spanyol menuntaskan perjalanannya ke putaran final Piala Dunia 2026 dengan nilai 16 hasil lima kemenangan dan hanya satu imbang, sementara Argentina juara kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Amerika Selatan.

Laga puncak makin menarik lantaran mempertemukan Argentina sebagai tim paling produktif di Piala Dunia kali ini dengan sudah mencetak 19 gol melawan Spanyol sebagai tim yang paling sedikit kemasukan atau pertahanan paling tangguh yakni hanya 1 gol.
Di sisi lain, Spanyol telah mencetak 13 gol, tidak terlalu buruk, sebaliknya Argentina yang berstatus juara bertahan sudah kemasukan 7 gol, yang sepatutnya diwaspadai pelatih Lionel Scaloni untuk memperkuat barisan pertahanan.

Pencapaian 3 Rekor Baru

Pertandingan final ini juga akan menjadi kesempatan bagi Lionel Scaloni, Lionel Messi, dan Timnas Argentina sendiri untuk berburu rekor.

Jika Argentina juara, Scaloni mengikuti jejak Vittorio Pozzo sebagai pelatih yang sukses membawa tim yang sama menjuarai dua Piala Dunia, bahkan secara beruntun.

Pozzo adalah pelatih legendaris Italia yang membawa timnas negara itu juara Piala Dunia 1934 dan 1938. Mantan pemain tengah Torino itu menangani Gli Azzurri selama 22 tahun mulai 1926 hingga 1948. Dialah pemegang rekor pelatih satu timnas paling lama menjabat.

Sementara itu, kapten Argentina Lionel Messi berpeluang mencatatkan diri sebagai top skor Piala Dunia 2026 dan juga top skor sepanjang masa Piala Dunia. Dia sudah mencetak 8 gol di hajatan kali ini dan 21 gol di putaran final Piala Dunia sejak 2006.

Kesedihan Prancis akibat kalah 4–6 dari Inggris pada 19 Juli pagi WIB dalam perebutan tempat ketiga tak sejalan dengan Kylian Mbappe yang justru bisa mengakhiri turnamen dengan hati berbunga-bunga. Hal itu disebabkan kapten Prancis tersebut mencetak 2 gol ke gawang Inggris. Dengan demikian, dia sekarang menjadi top skor sementara Piala Dunia 2026 dengan 10 gol dan top skor sepanjang masa Piala Dunia dengan 22 gol.

Messi tentu masih berpeluang melewati catatan gol Mbappe. Dia perlu sedikitnya menjebol gawang Spanyol satu kali untuk mengembalikan namanya sebagai top skor sepanjang masa Piala Dunia dengan 22 gol bersama Mbappe, tetapi perlu 2 gol untuk menjadikannya kembali ke posisi top skor turnamen dengan 10 gol, juga bareng Mbappe.

Bagi Timnas Argentina sendiri, jika sukses tampil sebagai juara, menjadi tim ketiga yang mampu mempertahankan gelar Piala Dunia. Setelah Italia pada 1934 dan 1938, Brasil adalah tim kedua yang sukses menjuarai dua Piala Dunia berturut=turut pada edisi 1958 dan 1962.

Kolektivitas vs Skill Individu
Salah satu hal menarik untuk disaksikan adalah cara bermain kolektivitas sebagai tim milik Spanyol bertarung dengan skill individu yang bertumpu pada diri sang kapten Lionel Messi.
Tiki-taka Spanyol sangat berbeda dengan lawan-lawan yang terdahulu dihadapi Argentina. Apa lagi jika dibandingkan dengan Inggris yang dipaksa menyerah di semifinal dari skuat Tango.

Kesalahan terbesar Inggris di semifinal yang berujung kemenangan lawan sangat jelas adalah meladeni gaya bermain Argentina yang menerapkan ritme serangan cepat.

Entah mengapa pelatih Inggris Thomas Tuchel seperti membiarkan tim asuhannya didikte lawan dan terperangkap dalam permainan cepat Argentina. Padahal mereka sebenarnya harus memutus ritme permainan cepat dengan berbagai cara, termasuk sebagaimana yang sering diperagakan Vietnam dan Bahrain, yang tentu khalayak pencinta bola nasional sudah sangat memahaminya: berpura-pura cedera sehingga permainan terhenti.

Spanyol tentu tidak akan bermain mengikuti ritme cepat Argentina. Tiki-taka adalah permainan kolektif dari kaki ke kaki dengan ritme awal yang relatif perlahan, tetapi semakin cepat begitu masuk pertahanan lawan.

Catatan Tak Elok Wasit Vincic

Satu hal lagi yang menarik untuk dicermati ialah menyangkut netralitas wasit. Tak bisa dipungkiri bahwa perjalanan Argentina melaju ke final ternoda oleh beberapa keputusan wasit terutama yang menganulir gol ketiga Mesir di 16 besar.

Gol itu sangat indah melalui skema serangan balik yang luar biasa, tetapi dirusak oleh keputusan pengadil asal Prancis Francois Letexier, hanya karena satu pelanggaran minor yang terjadi ketika si kulit bundar masih jauh dari gawang Argentina, di wilayah pertahanan Mesir.
Penganuliran gol ketiga Mesir itu merontokkan mental para pemain negara Afrika Utara tersebut dan sebaliknya membangkitkan semangat Argentina yang kemudian berhasil mencetak 3 gol balasan hanya dalam 14 menit mendekati ujung laga.

Fakta lain, Argentina merupakan tim yang paling banyak mendapatkan hadiah penalti yakni tiga kali. Dua di antaranya dieksekusi Lionel Messi, semua gagal berbuah gol, satu lagi dieksekusi Lautaro Martinez berhasil menjebol gawang Yordania.

Terlepas dari layak atau tidaknya hadiah penalti itu, Argentina meneruskan catatan Piala Dunia 4 tahun lalu sebagai tim yang paling banyak mendapat hadiah penalti. Ketika di Qatar 2022 Argentina mendapatkan lima penalti di luar adu penalti, semua dieksekusi Messi, satu di antaranya gagal menjadi gol yaitu ke gawang Polandia.

Itu berkontribusi menjadikan Messi sebagai pemain yang paling banyak gagal mengonversi tendangan penalti menjadi gol di putaran final Piala Dunia yaitu empat kali.

Dia juga gagal menjebol gawang Islandia dari titik penalti pada Piala Dunia 2018 dan di edisi 2026 ini gagal membobol gawang Mesir dan Austria dari titik putih.

Semoga wasit Slavko Vincic asal Slovenia leluasa menjalankan tugasnya dengan adil tanpa pengaruh FIFA atau pihak mana pun. Bagaimanapun Argentina adalah tim kuat yang sebenarnya tidak memerlukan bantuan wasit ataupun FIFA untuk menjadi juara Piala Dunia keempat kali setelah 1978, 1986, dan 2022.

Sayangnya, Vincic punya catatan tak elok yang justru terjadi di luar lapangan. Pada Mei 2020 Vincic menerima undangan untuk pertemuan bisnis di Bosnia, yang berlokasi di dalam satu bangunan yang digambarkan sebagai “peternakan perdesaan”.

Ketika dia berada di dalam bangunan itu, ternyata pesta seks sedang berlangsung dan pihak berwenang Bosnia menggerebek mereka.

Selain melanggar aturan karantina wilayah di era pandemi, pihak berwenang menemukan kokain, senjata api, rompi pelindung, uang tunai, dan pelacur sebagai bagian dari perdagangan manusia dan organisasi kriminal yang lebih luas yang diduga dijalankan oleh Tijana Maksimovic yang juga dikenal sebagai Tijana Ajfon.

Beberapa laporan media menyatakan Vincic, yang sekarang berusia 46 tahun, mengenal Ajfon, tanpa penjelasan lebih lanjut. Saat digerebek, Vincic disebutkan melarikan diri dari tempat kejadian bersama tiga pria lainnya dengan perahu, tetapi dia sendiri mengklaim dia sedang duduk di meja.

Bersamaan dengan penangkapan lebih dari 30 pria dan wanita lainnya, pihak berwenang juga menangkap Vincic. Namun, tak lama kemudian pihak berwenang setempat membebaskannya dan menyatakan mereka tidak menemukan bukti kesalahan Vincic dan dia ditahan sementara untuk diinterogasi hanya sebagai saksi.

Vincic menyatakan dia tidak bersalah dan tidak melakukan kesalahan apa pun, bahwa ia tidak mengenal sebagian besar orang di dalam gedung tersebut, dan bahwa dia tidak menyadari aktivitas kriminal yang terjadi di dalam gedung tersebut saat berada di sana.

Semoga Vincic mampu menenggelamkan reputasi buruknya dan hanya ingin berbuat baik agar namanya juga dikenang sebagai pengadil di final Piala Dunia yang memang adil. Kedua tim layak juara, mereka pantas mendapatkannya. Khalayak pencinta bola sekadar ingin sportivitas benar-benar ditegakkan.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *