Oleh: Firdaus, Alumnus Administrasi Bisnis FISIP-UI
Indonesiadaily.net – Ketika waktu menunjukkan Pk. 20.00, warung kopi milik Pak Amir di Jakarta Pusat sudah ramai. Tapi dia tak perlu lagi nitip warung buat ke bank. Cukup buka aplikasi Bank Jakarta di HP, transfer ke supplier, cek mutasi, sampai buka rekening tabungan baru untuk anaknya. Semua beres sambil nunggu air mendidih.
“Dulu bisa habis sejam antre. Sekarang sejam bisa buat layanin 20 pelanggan,” ujarnya sumringah.
Dinamika perubahan itu bukan cuma dirasakan Pak Dedi. Bank Jakarta dalam beberapa tahun terakhir memang gencar bertransformasi digital. Dorongan dari Bank Indonesia lewat BI-Fast, QRIS, dan regulasi E-KYC membuat bank milik daerah ini naik kelas. Tujuannya hanya tunggal: membuat layanan perbankan tidak lagi lagi menjadi beban waktu buat nasabah.
Di mata nasabah, teknologi itu diukur dari seberapa “tidak terasa” banknya. Artinya, tidak perlu datang ke cabang, tak perlu isi formulir kertas setebal kamus. Tapi cukup KTP, selfie, dan jaringan internet. Hasilnya: pembukaan rekening digital Bank Jakarta naik otomatis signifikan, dan transaksi nontunai lewat aplikasi tumbuh dua digit setiap tahun.
Bank Jakarta mulai menerapkan layanan electronic form (eForm) di Kantor Cabang Pembantu (KCP) Kebayoran Park sebagai bagian dari transformasi layanan perbankan yang lebih modern, cepat, dan efisien. Sejak 20 Juli 2026, seluruh transaksi di KCP Kebayoran Park didukung sistem eForm yang memungkinkan nasabah mengisi formulir transaksi secara digital melalui pemindaian QR Code sebelum dilayani petugas.
Layanan tersebut mencakup transaksi setoran tunai, penarikan tunai, hingga transfer. Implementasi eForm menjadi salah satu inovasi yang melengkapi konsep New Look Branch Bank Jakarta yang mengusung layanan lebih modern, mudah diakses, dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat.
Menurut Dirut Bank Jakarta Agus H. Widodo, transformasi yang dilakukan perusahaan tidak hanya menghadirkan wajah baru kantor cabang, tetapi juga mengubah cara Bank Jakarta melayani nasabah.
“Yang berubah bukan hanya wajah kantor cabang Bank Jakarta, tetapi juga cara kami melayani masyarakat. Perubahan yang sesungguhnya terjadi ketika masyarakat merasakan layanan yang lebih mudah, lebih cepat, lebih nyaman, dan lebih manusiawi,” ujarnya saat peresmian Kantor Cabang Pembantu (KCP) Kebayoran Park, Jakarta Selatan, Senin (20/7/2026).
Jelas, ini menunjukkan digitalisasi layanan di kantor cabang merupakan bagian dari upaya Bank Jakarta menghadirkan pengalaman bertransaksi yang lebih sederhana, tanpa menghilangkan interaksi langsung antara petugas dan nasabah.
Patut diketahui, transformasi di Bank Jakarta tidak hanya soal angka. Ada tiga pilar utama yang menjadi fokus, yaitu digitalisasi, manajemen risiko, dan pengembangan SDM. Ketiganya saling terkait dan menjadi fondasi bagi keberlanjutan bisnis.
Tidak hanya itu. Bank Jakarta terus menghadirkan inovasi berbasis teknologi. Tujuannya adalah untuk memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi, baik secara online maupun offline. Salah satu langkah konkretnya adalah pengembangan aplikasi mobile banking yang lebih responsif dan aman.
Apalagi dengan semakin ketatnya regulasi perbankan, Bank Jakarta memperkuat sistem manajemen risiko. Ini mencakup pengawasan terhadap kualitas aset, likuiditas, hingga mitigasi risiko operasional. Untuk itu, faktor Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi aset penting dalam transformasi digital. Bank Jakarta juga memberikan pelatihan berkelanjutan kepada karyawannya agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan nasabah.
Prestasi Kinerja
Di tengah persaingan ketat antarbank di negeri ini, Bank Jakarta ternyata mampu meraih sejumlah penghargaan di ajang TOP BUMD Awards 2026. Salah satunya adalah predikat TOP BUMD BPD Bintang 5 (Excellent). Agus H. Widodo juga dinobatkan sebagai TOP CEO BUMD 2026 dan meraih medali Golden.
Penghargaan ini tentu berdasarkan pada penilaian komprehensif terhadap kinerja bisnis, inovasi, tata kelola, serta kontribusi terhadap ekonomi daerah. Lebih dari 1.170 BUMD di seluruh Indonesia ikut dinilai dalam ajang tersebut.
Dari gambaran kinerja tersebut, Bank Jakarta sekarang berada di titik di mana adaptasi terus menerus menjadi keharusan. Perubahan cepat di industri perbankan, terutama yang dipicu oleh teknologi dan ekspektasi nasabah membuat transformasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Patut disadari bahwa industri perbankan saat ini menghadapi tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, persaingan semakin ketat dengan hadirnya bank digital dan fintech. Di sisi lain, peluang pertumbuhan masih terbuka lebar, terutama di segmen UMKM dan ekonomi digital.
Tidak mengherankan jika Bank Jakarta akhirnya mulai membidik segmen tersebut. Dengan menghadirkan solusi finansial yang lebih inklusif dan mudah diakses, bank milik Pemprov DKI Jakarta ini berharap dapat meningkatkan penetrasi pasar dan memperluas basis nasabah.
Dengan aset yang mencapai lebih Rp 100 triliun dan pertumbuhan dua digit di triwulan I-2026, Bank Jakarta menunjukkan bahwa transformasi yang dijalankan mulai membuahkan hasil. Namun, perjalanan masih panjang dan tantangan baru akan terus muncul. Semoga.(*)






