Oleh M. Syahran W. Lubis
Penulis buku Para Jawara Piala Dunia (2014) serta Piala Dunia, 96 Tahun Penuh Sesak Drama & Kontroversi dan 13 Kisah Tragis Sepakbola (2026). IG syahranlubis02
Indonesuadaily.net – Selembar tiket final Piala Dunia 2026 telah digenggam Spanyol yang menaklukkan Prancis 2–0 dalam semifinal pertama pada 15 Juli pagi WIB dan sekarang giliran Inggris dan Argentina bertarung memperebutkan selembar tiket final lainnya.
Pertarungan Inggris vs Argentina dijadwalkan digelar pada 16 Juli mulai pk. 02.00 WIB di Stadion Mercedes-Benz di Atlanta, Amerika Serikat, dipimpin wasit tuan rumah, Ismael Elfath.
Ini untuk keenam kali kedua tim bertemu di putaran final Piala Dunia. Perseteruan Inggris dan Argentina layak disebut sebagai yang paling dahsyat dibandingkan dengan rivalitas antartim mana pun di level dunia. Selain permusuhan itu telah berusia 60 tahun, melibatkan tim dari dua benua, terlebih lagi bukan hanya urusan sepak bola, melainkan juga politik, bahkan beraroma perang dalam makna sebenarnya.
Pertemuan kedua tim pertama kali di Piala Dunia terjadi pada fase grup edisi 1962 di Cile yang dimenangi Inggris 3–1. Di tengah turnamen yang dijuluki banyak pihak sebagai Piala Dunia paling kotor dan kasar, pertemuan pertama mereka berjalan aman tenteram.
Kedua tim kembali bertarung di perempat final Piala Dunia 4 tahun kemudian yang menandai dimulainya perseteruan panjang hingga sekarang. Bertindak sebagai tuan rumah, Inggris menang tipis 1–0 berkat gol Geoff Hurst pada menit ke-78.
Gol inilah titik awal yang memantik perseteruan hingga puluhan tahun. Para pemain Argentina memprotes keputusan wasit Rudolf Kreitlein (Jerman Barat) yang mengesahkan gol itu, karena menganggap beberapa pemain Inggris offside.
Kepemimpinan Kreitlein sepanjang pertandingan juga sangat memihak tuan rumah, salah satu yang paling kontroversial terjadi pada menit ke-35 ketika mengusir kapten Argentina Antonio Rattin.
Rattin yang kebingungan dengan maksud sang pengadil tak segera meninggalkan lapangan karena dia dihukum atas dasar “bahasa tubuh atau ucapan kotor”, sementara wasit tidak bisa berbahasa Spanyol—yang digunakan masyarakat Argentina—dan Rattin tidak bisa berbahasa Jerman. Saat itu juga ketentuan kartu kuning dan merah belum ada, sehingga jika wasit hendak mengusir pemain yang dianggap membuat pelanggaran berat, dilakukan secara lisan yang didukung bahasa tubuh.
Setelah dua kali kalah dari Inggris di Piala Dunia, akhirnya Argentina bisa membalas di perempat final edisi 1986 di Meksiko, bahkan dengan cara yang menyakitkan. Pemain bintang Diego Maradona menjebol gawang Inggris menggunakan tangan untuk gol pertama dan beberaoa menit kemudian membuat salah satu gol paling indah sepanjang sejarah Piala Dunia dengan menggiring bola dari garis tengah lapangan melewati lima pemain lawan untuk menghasilkan gol kedua. Skor akhir 2–1.
Kemenangan Argentina itu dianggap bukan hanya balas dendam dalam urusan sepak bola, tetapi lebih dari itu menjadi pembalasan atas kekalahan Argentina dari Inggris dalam Perang Malvinas 4 tahun sebelumnya ketika kedua negara berebut Kepulauan Falkland di Samudera Atlantik.
Pertemuan panas kedua tim terjadi lagi di 16 besar Piala Dunia 1998 di Prancis. Pada menit ke-47, saat skor 2–2, gelandang Argentina Diego Simeone menabrak David Beckham dari belakang hingga jatuh tengkurap.
Ketika masih terbaring di lapangan, gelandang Inggris Beckham mengangkat kaki kanannya dan menendang bagian belakang betis Simeone.
Meskipun tendangan Beckham relatif perlahan, Simeone jatuh secara dramatis. Wasit asal Denmark Kim Nielsen kemudian memberikan kartu kuning kepada Simeone atas pelanggaran awalnya dan kartu merah langsung, tanpa didahului kartu kuning, kepada Beckham.
Bermain dengan 10 orang, Inggris berhasil menahan imbang Argentina hingga babak perpanjangan waktu, tetapi akhirnya kalah 3–4 lewat adu penalti dan tersingkir dari Piala Dunia.
Sekembalinya ke Inggris, Beckham menjadi musuh masyarakat nomor satu. Dia dihujat habis-habisan oleh media massa, menerima ancaman pembunuhan, dan patungnya digantung di luar sebuah pub di London.
Pertemuan kelima kedua tim di Piala Dunia terjadi di edisi 2002. Di fase grup di Jepang, Beckham membayar kesalahan 4 tahun sebelumnya dengan mencetak gol tunggal ke gawang Argentina dari titik penalti untuk membawa Inggris menang 1–0 sekaligus membuat tim Tango gagal lolos ke babak gugur. Meski demikian, jalannya pertandingan kali ini pun relatif “aman”.
Dengan tiga dari lima pertemuan sebelumnya di Piala Dunia bermasalah, sangat boleh jadi pertemuan keenam di perhelatan kali ini juga serupa.
Memiliki Peluang Berimbang
Sekarang kita tinjau situasi menjelang pertarungan keenam yang tinggal beberapa jam lagi.
Tim asuhan Thomas Tuchel yang berambisi meraih gelar juara kedua mereka menunjukkan semangat juang yang tak tertandingi di perempat final, membalikkan defisit satu gol untuk mengalahkan Norwegia 2–1 setelah drama perpanjangan waktu.
Argentina juga harus bermain 120 menit untuk mengalahkan Swiss di perempat final, dengan La Albiceleste mencetak 2 gol pada babak tambahan untuk memastikan kemenangan 3–1 atas lawan yang berjuang dengan 10 pemain.
Tim asuhan Lionel Scaloni berada di ambang final berikutnya, berupaya menjadi tim pertama yang mempertahankan gelar sejak Brasil melakukannya pada 1962, tetapi yang menghalangi mereka di semifinal sekarang adalah tim yang sangat ingin membalas kekalahan menyakitkan di masa lalu.
Meskipun menang 4–2 atas Kroasia di pertandingan pembuka turnamen di Grup L, Inggris gagal tampil mengesankan di fase grup, bermain imbang 0–0 dengan Ghana namun menang atas Panama 2–0.
Namun, skuat Three Lions tampil lebih baik di fase gugur. Setelah mengalahkan Republik Demokratik Kongo dari ketertinggalan satu gol, mereka mencetak 5 gol ke gawang Meksiko dan Norwegia untuk mencapai semifinal turnamen besar keempat sejak 2018.
Bintang Real Madrid Jude Bellingham menjadi arsitek perjalanan gemilang Inggris di babak gugur, mencetak dua gol berturut-turut untuk menambah total golnya di turnamen menjadi 6 gol, sama dengan pencetak gol terbanyak sepanjang masa negara itu, Harry Kane.
Setelah penampilan keren di Miami, Bellingham membalas Tuchel, yang vokal tentang ketidakpuasannya terhadap penampilan keseluruhan Inggris melawan Norwegia, yang memicu ketegangan menjelang pertandingan bersejarah ini. Tuchel berharap perselisihan publik ini lebih menjadi motivasi ketimbang gangguan.
Menghadapi Argentina adalah tugas berat, tetapi Inggris tetap memiliki peluang yang berimbang dengan sang lawan untuk meraih kemenangan dan ke final.
Kutukan atas Juara Bertahan
Sudah lebih dari 60 tahun sejak Brasil menjadi tim terakhir yang mampu mempertahankan trofi paling bergengsi di sepak bola, tetapi Argentina memiliki kesempatan emas untuk mengakhiri kutukan atas juara bertahan yang selalu kehilangan gelar di Piala Dunia berikutnya.
Anak asuh Scaloni telah memenangi keenam pertandingan di Amerika Utara dan 12 pertandingan Piala Dunia terakhir mereka secara keseluruhan, meskipun dua pertandingan babak gugur terakhir mereka menghasilkan banyak kontroversi atas dugaan keberpihakan wasit termasuk pengenaan kartu merah kepada tim lawan dan penganuliran gol yang masuk ke gawangnya.
Hal itu sepertinya tidak akan mengganggu juara bertahan Copa America, yang memasuki pertandingan ini sebagai tim paling produktif di turnamen dengan 17 gol, hanya satu gol di bawah rekor Piala Dunia sepanjang masa Argentina yang dicetak selama perjalanan mereka ke final 1930.
Meskipun Lionel Messi gagal mencetak gol melawan Swiss, La Albiceleste mencetak 3 gol dalam pertandingan Piala Dunia keempat berturut-turut, yang merupakan rekor terpanjang kedua mereka dalam sejarah kompetisi.
Messi tetap menjadi jantung tim Argentina ini dan harapan Scaloni untuk menjadi pelatih Albiceleste kedua yang memimpin timnya di dua final Piala Dunia—setelah Caros Bilardo pada 1986 dan 1990—kemungkinan besar akan bergantung pada pemain berusia 39 tahun itu.
Pemenang delapan kali Ballon d’Or itu harus kembali ke performa terbaiknya jika Argentina ingin mematahkan rekor buruk mereka melawan Inggris, di mana raksasa Amerika Selatan itu hanya memenangkan tiga dari 14 pertemuan antara kedua tim termasuk laga uji coba.
Laga ini jelas bakal berlangsung seru, bahkan kemungkinan berlanjut hingga adu penalti cukup terbuka. Siapa pun yang akhirnya melaju ke final, mereka memang pantas mendapatkannya.(*)






