Oleh M. Syahran W. Lubis, Penulis buku Para Jawara Piala Dunia (2014) serta Piala Dunia, 96 Tahun Penuh Sesak Drama & Kontroversi dan 13 Kisah Tragis Sepakbola (2026). IG syahranlubis02
Indonesiadaily.net – Babak 32 besar Piala Dunia 2026 usai. Bagi saya, dan mungkin juga bagi banyak pencinta sepak bola, penampilan Tanjung Verde dengan kiper Vozinha-nya merupakan sajian paling atraktif, bahkan ketika mereka akhirnya menyerah 2–3 dari juara bertahan Argentina.
Bagaimana tidak, tiga di antara empat tim yang mereka hadapi berstatus juara dunia dan ternyata tim Afrika berjuluk Hiu Biru mampu memaksa imbang ketiga tim itu dalam waktu normal.
Josimar Jose Evora Dias, yang lebih dikenal sebagai Vozinha, adalah tembok kokoh di bawah mistar gawang Tanjung Verde, sehingga bisa meraih hasil imbang ketika timnya memaksakan skor tanpa gol melawan Spanyol, juara dunia 2010, dan Arab Saudi, serta 2–2 vs juara dunia dua kali Uruguai.
Di 32 besar, jumpa Argentina, mereka sama sekali tidak tampak inferior. Skor selama 90 menit 1–1. Berlanjut ke waktu tambahan, setelah tertinggal 1–2, tim besutan Bubista alias Pedro Leitao Brito mencetak gol kedua yang termasuk salah satu gol terbaik di turnamen ini.
Lopes Cabral melepas tendangan dari luar kotak penalti dari arah sisi kanan gawang Argentina, bola melambung dan melengkung masuk di pojok kiri atas gawang, yang sulit dijangkau kiper mana pun termasuk Emiliano Martinez, pemain kunci saat tim Tango juara Piala Dunia 4 tahun lalu.
Sayangnya, beberapa menit kemudian bek Tanjung Verde Edilson Alberto Monteiro Sanches Borges, yang panggilan resminya Diney, membelokkan bola sundulan bek Argentina Cristian Romero ke gawang sendiri dan kiper Vozinha gagal mencegah terjadinya gol bunuh diri. Skor akhir 3–2 untuk Argentina.
Jadwal 16 besar, Brasil Akhirnya Menang?
Kehebatan Tanjung Verde dan Vozinha bakal menjadi kenangan indah sepanjang masa. Sekarang kita songsong delapan pertandingan 16 besar. Kejutan apa lagi yang bakal tersaji di sisa perjalanan turnamen ini.
Berikut jadwal pertandingan babak 16 besar (WIB):
5 Juli pk. 00.00 Kanada vs Maroko
5 Juli pk. 04.00 Paraguai vs Prancis
6 Juli pk. 03.00 Brasil vs Norwegia
6 Juli pk. 07.00 Meksiko vs Inggris
7 Juli pk. 02.00 Portugal vs Spanyol
7 Juli pk. 07.00 Amerika Serikat vs Belgia
7 Juli pk. 23.00 Argentina vs Mesir
8 Juli pk. 03.00 Swiss vs Kolombia
Delapan laga itu tentu seru. Namun, jika harus menyebut pertandingan apa yang paling dinantikan khalayak pencinta bola, boleh jadi urutan tingkat keseruannya yang tertinggi Argentina vs Mesir, Meksiko vs Inggris, Paraguai vs Prancis, Portugal vs Spanyol, Brasil vs Norwegia, Kanada vs Maroko, Swiss vs Kolombia, terakhir AS vs Belgia. Ini tentu saja soal selera dan tim mana yang didukung.
Ada dua hal menarik di antara delapan pertandingan itu, Pertama, ternyata Brasil belum pernah menang atas Norwegia sepanjang sejarah.
Kedua tim bertemu empat kali dengan hasil dua kali Norwegia menang dan dua lainnya imbang. Tiga pertandingan berstatus persahabatan, satu lagi di Piala Dunia 1998 ketika Brasil kalah 1–2. Namun, memang ketika itu Brasil telah dipastikan juara Grup A.
Berkat kemenangan itu, Norwegia menjadi runner-up Grup A dan lolos ke fase gugur. Langkah Norwegia kemudian terhenti di 16 besar setelah kalah 0–1 dari Italia, sedangkan Brasil melaju hingga final dan dikalahkan tuan rumah Prancis 0–3.
Jadi, akankah Brasil untuk pertama kalinya mampu menundukkan Norwegia yang diperkuat tombak tajam bernama Erling Haaland?
Hal kedua yang menarik ditunggu ialah pada pertandingan Meksiko kontra Inggris. Sejarah menunjukkan Meksiko selalu kesulitan di babak gugur. Akibatnya, El Tri maksimal finis di 8 besar yakni pada edisi 1970 dan 1986, keduanya sebagai tuan rumah.
Di edisi 1986 Meksiko mencapai penampilan terbanyak di satu Piala Dunia yakni lima kali dan itu diulangi tahun ini. Kalau Meksiko mampu menaklukkan Inggris, itu rekor tersendiri bagi mereka karena kali pertama mampu mencapai pertandingan keenam di satu edisi Piala Dunia.
Khusus untuk 4 Juli WIB, dua laga seru ialah Kanada vs Maroko dan Paraguai vs Prancis. Sangat menarik dinantikan apakah Kanada mampu meneruskan kiprahnya di ajang ini.
Kanada telah menorehkan sejarah dengan lolos dari fase grup untuk pertama kali, terutama tertolong oleh kehadiran Qatar yang bisa dijadikan “ladang pembantaian” 6 gol tanpa balas.
Tim besutan Jesse Marsch ternyata mampu melanjutkan kiprah mereka ke 16 besar setelah di 32 besar mengalahkan Afrika Selatan 1–0. Kini Kanada menghadapi tantangan besar mengingat Maroko telah menunjukkan kekuatan mereka dengan menyingkirkan Belanda.
Kalau melihat perbandingan perjalanan kedua tim, pertandingan bakal ketat. Namun, Maroko lebih pantas merebut tiket ke 8 besar, walaupun mungkin melalui babak tambahan. Apa lagi pertandingan digelar di Houston, AS, bukan di Kanada yang sebenarnya salah satu tuan rumah turnamen ini. Mereka “terusir dari rumah” lantaran hanya finis sebagai runner-up Grup B di bawah Swiss.
Mengenai pertandingan Paraguai vs Prancis, dari sisi kualitas seharusnya kemenangan menjadi milik Les Bleus. Kylian Mbappe selalu meraih kemenangan dalam empat pertandingan yang mereka jalani di ajang ini. Bahkan, setelah “hanya” menang 3–1 atas Senegal di laga pembuka, tim asuhan Didier Deschamps selalu menggasak lawan-lawan mereka dengan selisih 3 gol.
Namun, Prancis tak boleh lengah, mengingat Paraguai menunjukkan kebangkitan setelah dibantai AS 1–4 di laga pembuka, kemudian mampu mengatasi Turki dan mengimbangi Australia, hingga akhirnya menyingkirkan Jerman di 32 besar walaupun harus melalui adu penalti.
Sepertinya di babak 16 besar kita akan disuguhi kejutan-kejutan baru. Semoga benar demikian.(*)






