Oleh : Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital
Indonesiadaily.net -Awal November tahun lalu, sebuah pesan WhatsApp masuk dari John Tobing. “Bantu aku, coy. Cuma kau yang bisa.” Ia ingin menggelar konser musik karya-karyanya. Seperti biasa, aku tak langsung mengiyakan. Aku bertanya panjang-lebar tentang konsep, tujuan, dan teknis pelaksanaannya. Perdebatan kecil pun terjadi—hangat, nyaris memanas—sebagaimana gaya kami sejak mahasiswa di Filsafat UGM dahulu.
John enam tahun lebih tua dariku. Ia angkatan 1986, sedangkan aku masuk empat tahun setelahnya. Sejak awal kami akrab, mungkin karena sama-sama anak Sumatra—ia Batak, aku Aceh. Nada suara kami sering terdengar keras, tetapi tanpa kemarahan. Begitulah cara kami berbicara: lugas dan tanpa tedeng aling-aling.
“Sudahlah, pokoknya kau bantu aku. Ke siapa lagi aku minta bantuan?” katanya lagi.
Aku tertawa membaca pesannya. “Makin tua makin paten kau, John,” balasku, setengah mengejek.
Bagiku, John tak pernah benar-benar tua. Di mataku ia selalu mahasiswa aktivis yang berdiri di bulevar kampus pada awal 1990-an, gitar tersampir di punggungnya, berteriak lantang menentang ketidakadilan. Rambut ikalnya berkibar diterpa angin, suaranya menggelegar lewat megafon. Pada masa itu, tak banyak yang berani bersuara. John termasuk segelintir yang nekat.
Ia pernah menjadi Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta. Ia turun ke desa-desa, membersamai petani, menyuarakan hak-hak mereka. Kepada adik-adik angkatan, ia sering berpesan, “Kalau ingin dicintai rakyat, jangan lakukan hal-hal yang dibenci rakyat.” Petuah itu sederhana, tetapi kuat.
Meski dikenal keras, John sesungguhnya romantis. Ia mencipta lagu. Salah satu lagunya, “Darah Juang”, lahir sekitar 1991, ketika gerakan mahasiswa belum semarak. Lagu itu menjelma nyala api di dada banyak mahasiswa pada tahun-tahun berikutnya. Liriknya tentang perlawanan dan harapan. Ia tak pernah menyangka lagunya akan dinyanyikan lintas generasi.
Suatu sore, bertahun-tahun kemudian, John bertandang ke rumahku. Bicaranya agak lambat dan sedikit pelo. Dua kali stroke telah menggerogoti tubuhnya. Ia bertanya dengan polos, “Coy, laguku bisa ditagih royaltinya?”
Aku terdiam sejenak. “Sulit, John. Lagu itu sudah jadi milik bersama. Kecuali kalau dipakai untuk kepentingan komersial.” Ia hanya tersenyum tipis, lalu meminta gitar. Ketika intro “Darah Juang” mengalun pelan dari petikan tangannya, aku melihat semangat lama itu masih menyala, meski
tubuhnya tak lagi perkasa.
Akhir November, stroke kembali menyerangnya. Aku sempat berbicara dengannya lewat telepon sebelum ia masuk ruang perawatan intensif. “John, cepat sembuh. Kita jadi buat konser,” kataku.
Ia tertawa kecil. “Hehehe… ya, konser…”
Itulah suara terakhir yang kudengar darinya.
Beberapa pekan ia dirawat, sempat membaik, lalu kondisinya menurun lagi. Hingga suatu malam, lima belas menit sebelum pukul sembilan, kabar itu datang: John telah pergi.
Aku tertegun. Ingatanku melayang pada sosoknya yang gagah berdiri di bawah terik matahari, gitar di punggung, suara menggelegar menantang ketidakadilan. Kini ia terbaring diam, meninggalkan lagu yang terus hidup.
Pelan-pelan aku menyanyikan “Darah Juang” dengan suara berbisik. Aku berharap, entah di mana pun ia berada, ia masih bisa mendengarnya.
Barangkali konser itu tetap jadi—bukan di panggung dunia, melainkan di tempat yang lebih lapang dan abadi.(*)






