Oleh : Hendijo. Sejarahwan muda dan aktivis Yayasan Pijar Indonesia
Indonesiadaily.net – Jika masih hidup, tahun ini usia sastrawan Pram (Pramoedya Ananta Toer) dan pejuang HAM, Poncke (J.C. Princen) mencapai satu abad. Mereka adalah satu generasi, lahir tahun 1925, sama-sama dipayungi shio kerbau, shio para manusia kepala batu. Meskipun pernah berjuang di bawah bendera yang sama yakni eks prajurit Divisi Siliwangi, namun mereka mengaku awalnya tak pernah saling kenal.
Mungkin itu terjadi karena saat Poncke membelot ke TNI pada 1948, Pram masih mendekam di penjara Bukit Duri, Jakarta, menjadi pesakitan karena dianggap “ekstrimis” yang harus bertanggungjawab atas penyebaran pamflet-pamflet anti pendudukan Belanda di Indonesia.
“Aku mulai mendengar tentang Bung Poncke pada tahun 1950. Kucoba mengenang kembali wajah serdadu-serdadu Belanda tahanan yang pernah kukenal di penjara Bukit Duri. Tetapi sayang, wajah Bung Poncke tak pernah bisa kubayangkan,” kenang Pram dalam suatu kesempatan.
Juli 1950, Pram dan Poncke baru mengenal, saat mereka sama-sama tengah mengunjungi rumah penulis Aoh Kartahadimadja di Sukabumi. Sebagai sesama bekas gerilyawan dan penyuka sastra, mereka pun cepat akrab. Namun setelah pertemuan itu, anehnya mereka tak pernah bersua lagi lantaran sibuk di tempat berbeda.
Ketika kekuasaan rezim Sukarno sedang kuat-kuatnya, Pram mendengar Poncke kerap keluar-masuk penjara. Terakhir nama Poncke didengarnya pada 1968 sebagai “pembongkar peristiwa pembunuhan massal orang-orang kiri di Purwodadi”. Saat itu, kata Pram, dia tengah ada dalam keadaan tertekan, lapar dan tersiksa di Pulau Buru, Gulag-nya Orde Baru.
“Tanpa bercadang, aku percaya berita itu benar dan pasti benar,” ujar Pram.
Sejak pembongkaran itu, perubahan terjadi di tempat tahanan Pram dan kawan-kawannya. Palang Merah Internasional pun datang ke Pulau Buru dan menjadikan semua berubah, tindakan represif berkurang dan pasokan gizi justru bertambah.
Singkat cerita, Pram pun bebas dari Pulau Buru. Setiba di Jakarta, salah satu orang yang berani mengunjungi rumahnya adalah Poncke. Mereka pun kembali saling tatap, bersalaman dan berpelukan, layaknya sobat lama saat berjumpa lagi.
“Aku tahu kemudian Bung Poncke kerap membelaku dalam surat-surat protesnya terhadap pelanggaran hak-hak asasi. Dia tidak melupakan hak-hakku sebagai manusia, sebagai warga negara Indonesia. Aku tak akan melupakan itu,” kata Pram.






