Manifesto Kaukus 89

Manifesto Kaukus 89
Sudirman Said dan Kaukus 80-90.

Indonesiadaily.net – Setelah 78 tahun kemerdekaan dan 25 tahun reformasi, nasib rakyat tidak banyak berubah. Hari ini kita menyaksikan jeritan rakyat, karena harga beras yang terus merangkak naik. Rakyat kelas bawah sudah kesulitan membeli beras, bahkan untuk beras kualitas yang paling rendah.

Masalah beras dan pangan pada umumnya adalah soal fundamental bagi rakyat, ini soal hidup mati. Rezim Jokowi sudah berkuasa dua periode, sepuluh tahun, waktu yang seharusnya lebih dari cukup untuk mengangkat kesejahteraan rakyat, namun harapan itu tidak pernah terwujud.

Bacaan Lainnya

Untuk menggambarkan kondisi kesejahteraan rakyat hari ini, kita bisa meminjam diksi yang biasa diucapkan Jokowi sendiri, bahwa kondisi sekarang sedang tidak baik-baik saja, artinya secara tidak langsung Jokowi telah mengakui, bahwa rezimnya memang gagal. Bila kita ingat kembali salah satu frasa terkenal Bung Karno, kemerdekaan adalah jembatan emas menuju kesejahteraan, kegagalan rezim Jokowi semakin tampak, yang membuat kita tak tega untuk membahasnya lebih lanjut.

Hari-hari ini kita juga menyaksikan sendiri bagaimana tindakan aparat dalam kasus Pulau Rempang, saat warga menolak relokasi dengan melakukan aksi perlawanan, kemudian direspons aparat berupa tindakan represif dan penembakan gas air mata.

Tindakan kekerasan yang sama juga dilakukan bagi warga di Pegunungan Kendeng (wilayah Rembang dan Pati) dan Wadas (Purworejo), sekadar menyebut beberapa contoh kasus pelanggaran HAM di era Jokowi. Kita menyaksikan bersama, tindakan kekerasan negara di era Jokowi semacam duplikasi rezim militeristik Orde Baru.

Bagi generasi baru yang melakukan Aksi Kamisan di depan Istana Negara, bisa melihat langsung, ketika aksi protes dalam kasus Munir, kasus penculikan aktivis, kasus Kendeng, kasus Wadas, dan seterusnya, tidak ada pejabat berwenang sekadar menghampiri, mobil dinas mereka hanya melintas di depan peserta aksi, dengan sirene strobo tetap berbunyi. Tindakan pejabat yang terus membunyikan sirene strobo, adalah gambaran paling riil dari rezim Jokowi terkait kasus HAM: dingin dan cenderung angkuh.

Bagaimana rezim Jokowi bisa dipercaya dalam penuntasan pelanggaran HAM di masa lalu, seperti kasus Munir dan Wiji Thukul, bila pelanggaran HAM baru tetap saja berlangsung. Kita tidak bisa berharap lagi pada rezim ini atas penuntasan pelanggaran HAM, ketika otak di balik penculikan Wiji Thukul dan kawan-kawan, justru masuk dalam elite lingkaran kekuasaan.

Belum lagi soal korupsi. Kata-kata yang paling keras sekalipun, rasanya tidak cukup untuk menggambarkannya, oleh karenanya kami lebih memilih tidak menggunakan kata umpatan, toh rakyat sudah bisa melihat sendiri. Kasus terbaru adalah korupsi jalan tol MBZ, dengan angka sangat fantastis, yakni 1,5 triliun. Selain nominalnya yang jumbo, kasus korupsi jalan tol MBZ juga menjadikan kita malu sebagai bangsa, karena dana yang dikorupsi adalah hibah dari negara sahabat, bukan bersumber dari APBN atau investasi swasta.

Ratusan halaman tidak akan cukup untuk menjelaskan lobang besar dan warisan buruk rezim Jokowi, untuk itu kita sudahi saja membahas soal itu. Tutup buku sudah soal rezim Jokowi. Kini telah terbit fajar harapan baru, yaitu pasangan capres-cawapres Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, yang kini dikenal dengan tagline AMIN.

AMIN adalah optimisme baru. Dalam pandangan Kaukus 89, AMIN adalah yang paling pantas memimpin negeri ini, sejak tahun 2024. Bagi Kaukus 89, AMIN bukan lagi capres dan cawapres, mereka berdua sejatinya sudah Presiden dan Wakil Presiden, yang tinggal menunggu hari pelantikannya saja. AMIN adalah perwujudan mimpi-mimpi aktivis generasi 80-an dan 90-an, tentang masa depan Indonesia yang lebih demokratis, berkeadilan, dan sejahtera, sesuai dengan visi pasangan Anies dan Cak Imin.

Dikarenakan faktor alamiah, mungkin waktu kami tidak panjang lagi, usia manusia terbatas, bahkan sebagian sahabat-sahabat kami sudah pergi untuk selamanya, antara lain Bambang Harri (Bandung), Amir Husin Daulay (Jakarta), Agus Lenon (Jogja), Kacik (Surabaya), Didit (Malang), dan seterusnya. Dan kita masih dalam suasana berduka atas kepergian Mas Raharjo Waluyo Jati, yang baru berpulang belum lama ini.

Apa yang kami lakukan hari ini, sekadar meneruskan cita-cita mereka dahulu, saat masih bersama-sama dalam pergerakan melawan rezim otoriter Orde Baru. Bila kami sekarang “turun gunung” itu juga berdasarkan panggilan nurani, seperti perjuangan kami di masa lalu. Jangan pernah sekalipun membayangkan, munculnya gerakan Kaukus 89 berdasar pamrih pribadi segenap eksponennya, semisal untuk mencari jabatan. Sama sekali tidak.

Bagi kami sudahlah cukup, bila kami masih diberi kesempatan menyaksikan anak cucu kami, generasi baru Indonesia yang sehat, cukup pangan dan nutrisi, pendidikan gratis sampai jenjang S-1, serta hidup di lingkungan yang hijau. (*)

Deklarator Kaukus 89 (Aktivis 80-90)

1 Abdul Hakim
2 Adnan Balfas
3 Afret Su’aidi
4 Ahmad Gozali
5 Ahmadi Wardus
6 Airianto Assa
7 Akuat
8 Al Kaba
9 Ali Azhar
10 Andi Syahputra
11 Aris Santoso
12 Asep Kusmana (Cusmin)
13 Azwar
14 Bambang Sumiarto
15 Bastian Hendro Wibowo
16 Beny Sukadis
17 Dadang Juliantara
18 Dadang Soewarto (Garut)
19 Deden Agus Setiawan (Bima)
20 Dudi R Salam
21 Efilasmi
22 Eko S Dananjaya
23 Fery Haryono Machsus (Mpe)
24 Hakim Hatta
25 Hari Prastiadi
26 Hari Sutanto (Gombloh)
27 Harris Palisuri
28 Heriyadi (Redy MZ
29 Herlan Artono
30 Ikram Mahmud
31 Imron Zein Rolas
32 Ishak Rafick
33 Jayadi Santoso
34 Kadri
35 Karyono Beno
36 M. Juli Anwar
37 M. Soleh (Gibran)
38 M. Yazid
39 M. Zein
40 Mansyur
41 Mochammad Picter Santoso
42 Muflizar
43 Rasyid Ridho
44 Riza Miranda
45 Rizal Darmaputra
46 Saptono
47 Setya Darma Palawi
48 Standarkiaa Latief
49 Sunandar (Yuyuy)
50 Syaifudin Jai
51 Syaiful Bahari
52 Syamsul Sundoro
53 Syauqi
54 Teguh Ermawan (Leak)
55 Untoro
56 Wayan Bob
57 Yulianto
58 Zamzam Zomantara

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *