Indonesiadaily.net – Perang melawan korupsi masih menjadi agenda penting yang belum tuntas diselesaikan oleh bangsa Indonesia sejak reformasi bergulir dua puluh lima tahun yang lalu.
Praktek korupsi masih marak bahkan dilakukan terang-terangan kendati berbagai regulasi dan institusi seperti KPK sudah hadir dan bekerja melawan para penggarong duit rakyat. Kasus terbaru adalah ditangkapnya Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate atas dugaan korupsi BTS senilai 8 Trilyun Rupiah.
“Penangkapan Plate ini sangat ironis dan seperti sebuah kado pahit bagi bangsa ini menjelang peringatan 25 Tahun Reformasi”, ujar Fendry Ponomban, juru bicara Solidaritas Aktivis ’98, di Jakarta, Sabtu, 20/5.
Ia mengaku prihatin karena dalam momentum dua puluh lima tahun peringatan reformasi, seorang pejabat setingkat menteri justru ditangkap karena dugaan korupsi dengan nilai yang sangat fantastis.
Merespon berbagai peristiwa itu serta situasi politik nasional jelang Pemilu 2024 nanti, Solidaritas Aktivis ’98 akan mengadakan acara Refleksi 25 Tahun Reformasi bertempat di Kedai Tempo, Teater Utan Kayu, Jakarta, 20 Mei 2023 hari ini.
Forum refleksi ini akan dihadiri juga oleh dua tokoh mahasiswa pada zamannya, Afnan Malay dan John Tobing.
“Bung Afnan adalah pencipta “Sumpah Mahasiswa” yang legendaris itu, sementara Bung John Tobing adalah pencipta lagu “Darah Juang” yang menjadi penyuntik energi bagi teman-teman demonstran di tahun 1998,” kata Fendry.
Afnan Malay adalah alumnus Fakultas Hukum UGM. Ia baru-baru ini menjalani residensi sebagai penulis di Cile. Ia akan membacakan beberapa karya puisinya bertemakan korupsi.
Sementara, John Tobing yang juga alumnus Fakultas Filsafat UGM akan menyanyikan lagu terbarunya tentang RUU Perampasan Aset.
Selain itu, eks tahanan politik orde baru, Suroso juga akan membawakan beberapa puisi. Roso, alumnus ISTN Jakarta saat ini bekerja sebagai karyawan profesional dan aktif dalam berbagai aktivitas kebudayaan.
Forum refleksi ini akan diakhiri oleh pernyataan sikap bersama dari Solidaritas Aktivis ’98 yang berasal dari berbagai kota dan kampus di Indonesia seperti UGM, UI, ITB, dan Trisakti.
“Refleksi penting untuk memastikan bahwa Reformasi perlu tetap berjalan di rel yang dicita-citakan bersama,” kata Fendry yang juga lulusan Filsafat UGM tersebut. (*)






