Indonesiadaily.net – Sebulan ini banyak sekali pertemuan aktivis pro demokrasi yang temanya terkait dengan politik. Soal yang lumrah. Pertama, politik dunianya aktivis sejak masih mahasiswa. Kedua, awal tahun depan sudah pemilu. Ketiga, Mei momentum bersejarah, bulan jatuhnya Soeharto, penguasa Orde Baru.
Beberapa kawan bercerita, sedang bersiap diri berlaga di Pemilu 2024. Ada yang maju untuk DPR RI, DPD RI, DPRD Propinsi hingga Kabupaten. Ada juga yang sedang berhitung untuk menjadi kepala daerah. Meriah, namanya juga pesta demokrasi. Apalagi semua pemilihan akan dilakukan serentak dimulai pemilu kali ini. Doa dan hormatku kepada seluruh kawan yang masuk dunia ke dalam politik praktis, selamat bertarung dan menang.
Aktivis sejak mahasiswa mimpinya memang mengambil peran dalam kepemimpinan. Soal (me) mimpi (n)ini, beberapa kawan nasibnya baik, mereka berhasil. Meski masih banyak yang masih berjuang dan terus berupaya. Memang kalau dilihat secara statistik, jumlah aktivis di dunia kekuasaan belum menjadi mayoritas. Aktivis baru mengisi kurang dari 10% posisi kepemimpinan yang tersedia. Mungkin kalau jumlahnya sudah 50%+1 istilahnya kuorum, sah untuk berbuat sesuai mimpi dan cita-cita.
Selain urusan kontestasi, obrolan para aktivis ini ngalor ngidul tentang hidup dan kehidupan hari ini. Namanya juga aktivis mahluk sosial yang punya hati, perjumpaan jadi waktu yang pas untuk curhat, tukar pikiran, beradu ide, hingga membahas prilaku kawan. Aktivis juga manusia biasa toh, perlu mengupdate kabar kawan-kawan lainnya. Karena kami percaya, solidaritas yang menyatukan hingga hari ini, tak peduli warna bendera partainya. Kemanusiaan jauh lebih penting.
Ada hal yang membuat kaget di pertemuan, seorang junior bilang : “semua kawan sudah pragmatis sekarang, makanya aku pun ikut pragmatis ajalah sekarang ini.” Kaget sekali mendengarnya, meskipun aku sadar, manusia memang perubahan itu sendiri. Aku merasakan suasana kecewa terhadap kondisi. Dilema, mungkin juga putus asa melihat perkembangan situasi republik. Menemui kenyataan hari ini tidak lebih baik dibandingkan saat masih menjadi mahasiswa.
Aku membayangkan, jika saja hari ini adalah 20 tahun yang lalu, mungkin kawan ini sudah berdiri di depan istana merdeka atau MPR/DPR bersama toanya. Kalau dulu masih punya tenaga untuk berteriak, saat ini mungkin waktu dan tenaga sudah habis untuk sekedar bertahan hidup dan mengurus rumah tangga. Pilihan manusiawi juga sebagai manusia biasa.
Lalu aku berpikir, apakah memang prilaku elit, pemerintah, pengusaha hari ini memang jauh lebih buruk dari puluhan tahun lalu ? Mengapa ada aktivis yang malah bersuara lantang tiga periode kekuasaan ? Bukankah itu bertabrakan dengan konstitusi, kontrak sosial kita dimasa reformasi ? Ya Tuhan tunjukanlah kebeneran kepada kami, jauhkanlah kami dari gimick dan pencitraan di era post truth. Dan satu lagi pikiran yang mengganggu, mengapa banyak sekali aktivis yang begitu bersemangat menjadi tim sukses atau relawan. Lebih menyedihkan lagi, merelakan diri menjadi buzzer demi sepiring nasi. Ya Tuhan… Bukankah kita sadar, kepemimpinan akar persoalannya. Lalu, bagaimana caranya menjadi (pe)mimpi(n) ?
Karena waktu tak banyak, aku cuma bilang, kalau memang dengan pragmatis itu kau bisa dapat semua yang kau mau, lakukanlah. Tapi kalau sudah pragmatis tapi kau tidak dapat apa yang kau mau, apakah kau tidak menyesal melunturkan nilai dan prinsip yang selama ini kau genggam erat ? Bukankah selama ini kita bernilai karena prinsip, nilai dan cita-cita yang kita perjuangkan entah sampai kapan itu ? Aku tidak sedang mengagitasi junior ini, tapi mengajak sejenak merenung bersama. Hidup memang butuh makan. Dan banyak jalan untuk cari makan yang bermartabat. Perut kenyang, kepala tetap tegak. Kita ini mamalia, mahluk bertulang belakang yang menyusui, bukan benalu.
Berulang kali aku sampaikan kepada beberapa kawan. Buatlah buku tentang dua dekade pasca reformasi. Apa masalah yang sudah selesai, dan apa yang masih perlu diperjuangkan. Bagaimana sesungguhnya republik yang layak dari kacamata para aktivis 1998. Bukan sibuk bikin relawan ini, atau dukung si anu. Gagasan dan harapan adalah segalanya dalam politik. Sampaikanlah gagasan tentang bernegara sesuai dengan fokus pengabdian hari ini. Bagaimana hukum menurut kami, petani, buruh, polisi, TNI, sumber daya alam, laut, partai, media dan lainnya. Buku adalah produk intelektual kaum berpikir. Dan sejatinya politik dunianya kaum berpikir. Sehingga, generasi hari ini dan yang akan datang maklum kalo besok ada orang tua cerewet bercerita soal gagasan ideal bernegara.
Sejarah mencatat, tulisan para pejuang dan intelektual masa lalu yang membawa negeri ini merdeka, menjadi sebuah republik. Sebut saja Tirto Adi Soeryo, Tan Malaka, Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Wahid Hasyim, Moh.Yamin, Agus Salim, Soepomo dan masih banyak lagi. Di tangan intelektual, politik berisi cita cita, gagasan, perlawanan, keberpihakan, penuh nilai, dan bermartabat. Sudah saatnya mengembalikan politik ke habitatnya. Jika politik sudah menjadi industri, apalagi di jaman medsos apapun bisa terjadi. Jangan aneh, kalau besok ada yang pura-pura sukses dagang martabak, mencalonkan diri jadi presiden, eh menang. Apa ndak sial nasib bangsa ini. (*)






