Indonesiadaily.net – Microsoft memecat ratusan karyawan di beberapa divisi.
Kondisi ini menjadikannya pemain besar terbaru di bidang teknologi yang memangkas pekerjaan dalam menghadapi resesi ekonomi.
Dilansir dari Axios, PHK ini terjadi karena memburuknya prospek ekonomi ke depannya. Microsoft pun memberhentikan karyawan pada Senin (17/10) di beberapa divisi dan level.
“Seperti semua perusahaan, kami mengevaluasi prioritas bisnis secara teratur dan membuat penyesuaian struktural yang sesuai. Kami akan terus berinvestasi dalam bisnis kami dan mempekerjakan di area pertumbuhan utama di tahun depan,” ujar seorang juru bicara, melansir Engadget.
Meskipun raksasa teknologi itu tidak mengatakan divisi mana yang terpengaruh dan berapa banyak orang yang diberhentikan, Axios mengatakan ada kurang dari 1.000 karyawan kena PHK.
Microsoft menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka ingin beroperasi dengan tenaga kerja yang lebih ramping tahun ini ketika memperlambat perekrutan untuk grup Windows, Office, dan Teams, dengan alasan perlunya menyelaraskan kembali prioritas kepegawaian.
Pada Juli lalu, Microsoft memberhentikan kurang dari satu persen (sekitar 1.800) dari 180.000 tenaga kerjanya dan kemudian menghapus daftar pekerjaan terbuka untuk cloud Azure dan grup keamanannya.
Microsoft mengatakan PHK pertama tersebut merupakan bagian dari penyesuaian struktural tahunan, yang menurut Microsoft dilakukan secara rutin setiap musim panas.
Microsoft menarik daftar pekerjaan untuk divisi cloud dan keamanannya – keduanya memiliki kinerja yang baik, secara finansial.
Namun, Microsoft menegaskan akan menghormati tawaran pekerjaan yang telah dibuat dan akan membuat beberapa pengecualian untuk peran penting.
Microsoft diperkirakan akan mengumumkan pendapatan kuartal III/2022 pada 25 Oktober, Microsoft diprediksi akan mengungkapkan jumlah karyawan yang di PHK.
Microsoft tidak sendirian dalam mengurangi jumlah karyawan atau menerapkan pembekuan perekrutan. Pasalnya, beberapa perusahaan teknologi besar melakukan langkah serupa.
Apple, pada Agustus memberhentikan sejumlah karyawannya, dalam upaya nyata untuk memperlambat perekrutan dan menekan pengeluaran. (*)
Editor : Nur Komalasari






