Radical Break Rocky Demi Mencicipi Kekuasaan?

 

Oleh: Lukas Luwarso

Bacaan Lainnya

Indonesiadaily.net – Orang berubah pikiran atau haluan politik adalah hal biasa. Yang tidak biasa adalah jika ganti haluan itu harus dipoles dengan glorifikasi dalih agar terkesan “filosofis”. Rocky Gerung dilantik menjadi anggota Wantimpres, bersama 25 figur. Presiden Prabowo membentuk Wantimpres setelah lembaga itu kosong hampir dua tahun, lalu mengisinya dengan jajaran “Motley Crew” (rombongan acak-kadut, bajak laut). Ada Pratikno, Anwar Usman, Margarito, Qodari, hingga Rocky.

Motley crew adalah idiom bagi sekelompok orang yang memiliki latar belakang, penampilan, atau karakter yang sangat berbeda, acak, dan mustinya tidak cocok satu sama lain. Frasa ini populer pada abad ke-18 untuk menggambarkan kru kapal bajak laut yang pakaiannya tidak seragam. “Motley” adalah kain perca warna-warni, baju bekas yang pernah dipakai oleh badut kerajaan (jester). Ketika kelompok acak-kadut ini berkumpul demi satu tujuan — menjadi kru bajak laut.

Rocky bergabung dalam Motley Crew Wantimpres dengan menyusun tiga dalih: Pertama, tidak ada alasan menolak tawaran. Kedua, Wantimpres mengemban kedudukan etis, bukan mengevaluasi kebijakan teknis. Ketiga, ia hanya berpindah dari luar ke dalam (kekuasaan), sebagai sikap “radical break”. Mari kita uji, apakah ketiga dalih itu selaras dengan akal sehat yang sering ia gaungkan atau sekedar kontruksi kedunguan yang kerap ia lontarkan:

Satu,“Tidak ada alasan menolak tawaran”. Ini soal paling elementer, dalih sangat tidak logis.

Orang yang dikenal puluhan tahun membranding diri–membangun karir–sebagai pengritik berakal sehat mendadak tidak punya alasan menolak tawaran. Ini tipikal mentalitas penunggu tawaran. Tukang kritik yang selalu mencurigai kekuasaan, mendadak lidahnya kelu, saat mendapat tawaran masuk kekuasaan.

Dalam istilah Gramsci, trasformismo, ini contoh penjinakkan dan pencabutan taring oposisi, bukan dengan paksaan, tapi dengan memberi jabatan. Jika Rocky buntu pikiran, tidak punya alasan, mengapa harus menolak; mungkin perlu bertanya mengapa harus menerima? Pasti akan ketemu alasan yang valid: “kekuasaan itu nikmat, jendral…”

Dua,“Wantimpres mengemban kedudukan etis, bukan soal kebijakan teknis”. Ini seperti bilang tim dokter hanya menjaga etika rumah sakit, tidak mengobati penyakit. Justru karena Wantimpres berada di pusat lingkaran pengambilan keputusan, kebijakan presiden yang melenceng harus dievaluasi teknisnya.

Etika bukan asesori moral yang dipajang di ruang Istana. Etika kekuasaan diuji ketika harus mengatakan bahwa sebuah kebijakan, seperti MBG dan KDMP, keliru, tidak adil, atau merugikan publik. Kebijakan yang cuma indah di atas kertas (etis), tapi banyak masalah di lapangan (teknis), itu seperti ponzi game, cuma tipu-tipu. Rocky menjadi kontroversi bukan soal pengkritik yang menerima jabatan. Tapi perubahan epistemik, dari orang yang selalu menguji kekuasaan, menjadi pembela kekuasaan, sembari berdalih.

Tiga,“Sikap saya tidak berubah, hanya pindah dari luar ke dalam, sebagai radical break.” Ini dalih pretensius “paling Rocky”. Radical break adalah memutus kontinuitas posisi atau pemikiran sebelumnya. Agaknya Rocky tidak memahami istilah (jargon filsafat) ini dengan baik. Dalam wacana filsafat, radical break terjadi ketika seorang pemikir, atau sebuah era, memutus total tradisi berpikir sebelumnya dan menyusun epistemologi baru. Ini pernah dilakukan Immanuel Kant (yang tersadar dari tidur panjangnya menganut rasionalisme dogmatis, menjadi filsuf empirisme, setelah membaca karya-karya filsuf David Hume). Atau Ludwig Wittgenstein, yang melakukan radical break mengoreksi pemikirannya di buku Tractatus Logico-Philosophicus ke Philosophical Investigations, terkait pemaknaan bahasa.

Pada Rocky, radical break-nya, lebih mirip seperti pengamat bola yang pindah dari tribun penonton menjadi pemain bola, tetapi merasa, “Saya tetap pengamat.” Jika radical break ia pahami sekedar pindah haluan politik, maka ia tidak sedang break, apalagi radical. Ia cuma ingin radical brand. Bisa dapat jabatan, yang tidak pernah ia miliki.

Rocky bahkan sudah berdalih epistemik menjadi “humas” pemerintah sebelum menjadi Wantimpres. Menyatakan pendekatan top-down program MBG dan KDMP bisa dimaklumi, sembari menyerang para pengritik. Ia sepakat dengan makian Prabowo soal adanya “pakar goblok”. Ia membela MBG dan KDMP, dalihnya, bukan karena pro-Prabowo, melainkan karena perintah konstitusi. Satu dalih apologetik, sejenis akrobat logika berpikir birokratik.

Julien Benda dalam buku “The Betrayal of the Intellectuals” mengulas, pengkhianatan Intelektual terjadi bukan ketika mereka berbohong, melainkan ketika mereka menukar kebenaran dengan posisi. Dari penentang menjadi pengesah. Ia mengritik intelektual yang meninggalkan otonomi pikirannya demi kepentingan politik, kekuasaan, kelas, atau ideologi.

Dalam tradisi era Pencerahan, abad 18, tumbuh tradisi akal harus menjadi hakim bagi kekuasaan, bukan menjadi pembela kekuasaan. Pemikir seperti Voltaire, Diderot, dan para philosophes, menempatkan nalar dan kritik sebagai kekuatan untuk mempersoalkan kekuasaan. Bekerja untuk kerajaan atau negara (mengabdi kepada raja) adalah sesuatu yang “memalukan” karena bersifat klerikal. Kedekatan pada kekuasaan sering memunculkan problem etika-intelektual, ketika pemikir menukar kebebasan berpikir dengan loyalitas. Nalar dan pengetahuan tidak digunakan untuk mengoreksi kekuasaan, melainkan untuk memberikan rasionalisasi dan legitimasi.

Seorang pemikir (teknokratik) tentu boleh masuk istana; yang memalukan adalah ketika ia bersikap harus turut menjaga kenyamanan istana, menjadi pembenar raja. Era Pencerahan mengajarkan, akal sehat dan nalar kritis disuarakan agar membuat penguasa gelisah. Pengkhianatan terjadi ketika intelektual menggunakan pemikirannya, sebagai pembenaran, agar kekuasaan nyaman.

Rocky secara genetik mungkin bukan juru sorak (buzzer) profesional. Sampai April 2026 ia pernah menyatakan MBG sebaiknya dihentikan, ia menyindir DPR agar para pengambil kebijakan menjadi yang pertama memakan MBG. Ia juga mengkritik kabinet Prabowo yang terlalu gemuk. Tapi ia mulai menunjukkan gejala “berkhianat”, bahkan sebelum menjadi Wantimpres, saat masa transisi untuk negosiasi.

“Pembuat hoax terbaik adalah penguasa, karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik punya, media punya.” Itu kata Rocky, pada 2017, saat ia dikenal sebagai juru kritik kekuasaan paling vokal. Kita tunggu, apakah Ia bergabung dalam Motley Crew Wantimpres sekedar ingin mencicipi atau ingin menikmati kekuasaan. Masih bisa berpikir untuk mengritik kekuasaan. Atau ikut menjadi bagian dari perancang, atau pembenar, hoax kekuasaan.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *