Menembus Ego Sektoral via Portal “All Indonesia”

 

Oleh:  Shinta Kusumadewi, Staf Ditjen Bea Cukai cabang Tanjung Emas

Bacaan Lainnya

Indonesiadaily.net – Ketika melihat pemandangan antrean mengular penumpang di gerbang kedatangan internasional bandara maupun pelabuhan, hal tersebut seringkali menjadi potret buram pelayanan publik di wilayah perbatasan. Karena itu, kondisi seperti  ini membutuhkan pembenahan sistemik secara menyeluruh.

Seperti kita ketahui selama ini, proses pemeriksaan kepabeanan, keimigrasian, dan kekarantinaan (Customs, Immigration, Quarantine atau CIQ) berjalan dalam sekat-sekat sektoral yang kaku. Setiap instansi hadir membawa platform digital maupun formulir fisik masing-masing secara terpisah.

Ini tentu saja membuat para pelintas rute internasional terpaksa harus mengisi form pendaftaran kepabeanan secara elektronik melalui e-CD (electronic Customs Declaration) milik Bea Cukai. Selain itu, mereka wajib melengkapi dokumen keimigrasian serta deklarasi kesehatan e-HAC (electronic Health Alert Card).

Praktik pemeriksaan yang terfragmentasi seperti ini tidak hanya memicu inefisiensi alur pelayanan di perbatasan, tetapi juga memperpanjang durasi pemeriksaan penumpang serta menyerap energi operasional di lapangan.

Ego sektoral antar-kementerian dan lembaga acap kali menjadi tembok tebal memperjelas  terhambatnya proses modernisasi sistem pengawasan. Padahal, dinamika mobilitas global serta persaingan ekonomi antarnegara menuntut efisiensi waktu yang serba cepat.

Dalam lanskap pelayanan publik kontemporer, transparansi dan efisiensi bukan lagi sekadar pilihan fleksibel. Kedua aspek penting tersebut kini merupakan keharusan mutlak bagi seluruh jajaran birokrasi.

Ketidakmampuan meruntuhkan sekat ego sektoral di pintu perbatasan hanya akan memperburuk citra Indonesia. Selain itu, efektivitas pengawasan keamanan nasional di pintu masuk negara juga akan semakin melemah.

Lompatan penting kini dihadirkan melalui peluncuran Portal Tunggal All Indonesia secara resmi. Transformasi digital ini mengintegrasikan seluruh tahapan deklarasi hingga kedatangan penumpang ke dalam satu portal terpadu.
Kebijakan strategis ini diperkuat oleh regulasi resmi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, yang mewajibkan seluruh pelintas rute internasional melakukan deklarasi kedatangan secara terpadu melalui satu aplikasi.

Bagi regulator kepabeanan, pergeseran dari era multi-sistem yang rumit menuju sistem single window merupakan bentuk reformasi birokrasi yang adaptif. Pengguna jasa tidak perlu lagi menginput data secara berulang kali.

Pengisian data identitas diri dan barang bawaan kini cukup dilakukan satu kali saja. Kemudahan platform ini memangkas kerumitan administrasi yang selama ini dikeluhkan oleh masyarakat.

Melalui integrasi portal tunggal ini menghadirkan manfaat ganda yang sangat nyata bagi publik. Keuntungan tersebut dirasakan langsung oleh pengguna jasa maupun efektivitas kerja petugas pengawas lapangan.
Bagi para pelintas batas, baik warga negara

Indonesia maupun wisatawan mancanegara, portal ini menjamin pengalaman perjalanan lebih cepat. Mereka menikmati pelayanan yang ramah tanpa antrean fisik yang cukup melelahkan sebelumnya.

Dari kacamata pengawasan perbatasan, All Indonesia membekali petugas kepabeanan, keimigrasian, dan kekarantinaan dengan kapabilitas pre-arrival risk profiling. Pemetaan potensi risiko kini jauh lebih akurat.

Tiga Pilar

Sebelum penumpang menjejakkan kaki di perbatasan, petugas telah dapat memetakan serta mendeteksi potensi risiko kepabeanan maupun ancaman kesehatan sehingga tandar keamanan nasional dapat terjaga secara optimal.

Keberhasilan implementasi All Indonesia di lapangan tentu sangat bergantung pada pilar-pilar utama pendukung. Seluruh pilar tersebut wajib berjalan secara harmonis demi menjamin keberlanjutan operasional sistem.

Pilar pertama adalah konsistensi interkoneksi data secara real-time antar-instansi CIQ di pintu masuk negara. Sementara itu, pilar kedua mencakup keandalan infrastruktur server IT yang selalu siap beroperasi.
Pilar ketiga adalah perlindungan ketat terhadap keamanan siber dan kerahasiaan data pribadi penumpang. Jaminan keamanan data sangat krusial agar tidak timbul kebocoran informasi sensitif.

Edukasi dan sosialisasi secara masif kepada masyarakat luas, maskapai penerbangan, serta agen pelayaran internasional sangat penting agar alur pengisian data dipahami sepenuhnya.

Pemahaman menyeluruh dari pengguna jasa akan mempercepat adopsi teknologi digital di perbatasan. Berbagai hambatan teknis pengisian dokumen dapat ditangani lebih awal sebelum perjalanan dimulai.

Inilah bukti konkret efektivitas integrasi ini telah memperlihatkan secara nyata pada sektor kemaritiman. Implementasi portal tunggal ini terbukti sukses diterapkan saat melayani kedatangan kapal pesiar internasional.

Contohnya, Kantor Bea Cukai Tanjung Emas berhasil menerapkan sistem terpadu ini pada kedatangan kapal pesiar mewah MV Viking Orion yang membawa ratusan wisatawan mancanegara menuju pelabuhan Indonesia. Para wisatawan umumnya merasa puas atas pelayanan portal baru All Indonesia.

Menurut Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Tanjung Emas, Agung Slamet Waluyo, pemeriksaan terintegrasi ini mampu memangkas waktu pelayanan kepabeanan secara signifikan.  Artinya, pemangkasan waktu pelayanan tersebut berhasil dicapai tanpa sedikit pun mengurangi kualitas pengawasan hukum. Penegakan aturan kepabeanan di kawasan pelabuhan tetap berjalan dengan ketat dan akurat.

Keberhasilan di sektor maritim ini membuktikan fleksibilitas platform All Indonesia pada berbagai moda transportasi, baik di pelabuhan maupun di bandara. Portal integrasi All Indonesia pada akhirnya menegaskan komitmen kuat institusi Bea Cukai bersama  kementerian terkait lainnya untuk menanggalkan ego sektoral, demi kepentingan nasional yang jauh lebih besar.

Kehadiran portal ini memastikan konektivitas data antar-tiga kementerian berjalan secara langsung dan real-time. Sinergi terpadu membuktikan bahwa pengawasan ketat dan pelayanan publik dapat berjalan selaras dan harmonis. Hanya dengan satu aplikasi praktis di genggaman tangan, Indonesia kini berdiri jauh lebih siap bersaing di era global, dimana pelayanan publik di pelabuhan semakin modern, profesional  serta tepercaya di mata gerbang perbatasan dunia.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *