Masih Banyak Korban Kekerasan Seksual yang Takut Melapor, Ketahui Ciri Anak Jadi Korban

Ilustrasi aksi bejad ayah kepada anak di Banten yang melakukan tindak pencabulan. (Foto: pixabay)
Ilustrasi aksi bejad ayah kepada anak di Banten yang melakukan tindak pencabulan. (Foto: pixabay)

Indonesiadaily.net – Berdasarkan ketarangan Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) diketahui masih banyak korban kekerasan seksual yang takut untuk melapor kepada orangtua mereka.

Namun, ada sejumlah ciri perubahan prilaku yang bisa diketahui ketika anak terindikasi menjadi korban pelecehan seksual. Ketua Satgas Perlindungan IDAI, Dr. Eva Devita Harmoniati mengatakan, korban kekerasan seksual takut untuk melapor pada orangtua, apalagi jika korban masih balita.

Bacaan Lainnya

“Takut disalahkan, akhirnya tidak bercerita, kalau tidak bercerita, akhirnya ia terus alami kekerasan seksual berulang, bisa juga karena ada ancaman dari pelaku, kalau laporkan bakal dikasih ancaman,” ujar Dr. Eva saat konferensi pers virtual, seperti dilansri dari Suara.com.

Orangtua wajib mengetahui prilaku anak yang berubah, berikut ini sejumlah prilaku yang bisa dicurigai anak tengah takut atau menjadi korban pelecehan.

  1. Kenali Perilaku Anak Berubah

Umumnya orangtua tahu ada yang berubah pada sikap anak yang tidak biasa, seperti mengurung diri, menutup diri, dan tidak mau berbicara sedikitpun.

“Anak-anak alami kekerasan seksual, pasti ada mengalami perubahan perilaku, anaknya mengurung diri, tidak mau ngobrol dengan terbuka, makan banyak jadi sedikit,” papr Dr. Eva.

  1. Alami Sakit Tidak Biasa

Setelah perilakunya berubah, karena tidak mau makan dan stres, hasilnya anak tersebut malah sakit-sakitan. Bahkan ia tidak mau keluar rumah bersosialisasi dengan teman-temannya, termasuk tidak ingin pergi ke sekolah.

  1. Sakit Ketika BAK dan BAB

Meski balita belum bisa cerita apa yang sudah dialaminya, dan tidak mengerti jika itu adalah kekerasan seksual. Maka orangtua wajib curiga jika tetiba anak merasa sakit saat buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB).

“Ketika dicebokin keluh sakit, pelan-pelan ditanya, coba dilihat, karena balita itu nggak bisa menceritakan dengan runtut,” jelas Dr. Eva.

  1. Ajak Bicara Anak Perlahan

Jika anak sudah menunjukan gejala mengkhawatirkan di atas, coba tanya perlahan dengan hati-hati dia belakangan main dengan siapa, tanya kenapa sakit pernah ada yang memegang tanpa izin atau alat genitalnya mendapat perlakuan tidak seharusnya.

  1. Ajak Periksa ke Dokter

Saat dugaan sudah semakin kuat, tapi anak masih enggan bercerita atau sedikitpun membuka mulut, maka menurut Dr. Eva tidak ada salahnya langsung membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan medis dan diagnosis pasti.

“Ketika curiga tapi nggak mau cerita, segera bawa ke dokter, maka dokter akan membantu elaborasi, analisis lebih jauh dan biasanya bekerja sama dengan psikolog,” Dr. Eva.(*)

 

Editor: Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *