Festival Layang-layang Internasional Garut Hadirkan Talkshow Kopi Agroforestri di Kawasan Perhutanan Sosial

 

Indonesiadaily.net – Talkshow bertajuk “Pola Kopi Agroforestri” menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam Festival Layang-layang Internasional yang digelar di Agro Tepas Papandayan, Desa Karamatwangi, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026.

Bacaan Lainnya

Festival tersebut menjadi ajang layang-layang internasional pertama yang diselenggarakan di Kabupaten Garut. Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai negara di Asia, antara lain Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok. Sementara dari Eropa hadir peserta dari Swiss, Swedia, Prancis, Italia, dan Belgia. Indonesia sebagai tuan rumah diwakili peserta dari Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Kalimantan, Bali, serta sejumlah provinsi lainnya.

Ketua Silvae Populi Nusantara (SILINUSA) & Pendamping Perhutanan Sosial Garut, Chairudin Ambong,  mengatakan festival ini bertujuan mempromosikan potensi pariwisata Kabupaten Garut sekaligus melestarikan budaya layang-layang tradisional di tingkat internasional. Kegiatan tersebut juga menjadi wadah bagi pegiat layang-layang dari dalam dan luar negeri untuk menampilkan karya seni terbaik mereka.

“Festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi dan pertunjukan, tetapi juga sarana pertukaran budaya antarbangsa melalui seni pembuatan dan penerbangan layang-layang tradisional,” ujar Chairudin.

Selain itu, festival ini diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisata ke Agrowisata Tepas Papandayan yang dikelola BUMDes Karamat Jaya, sekaligus memperkenalkan kopi agroforestri Garut yang dihasilkan dari kawasan hutan melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Menurut Chairudin, kopi Garut memiliki cita rasa khas karena dibudidayakan di kawasan hutan dataran tinggi dengan menerapkan prinsip pengelolaan hutan lestari oleh masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Perhutanan Sosial (KPS).

Saat ini, Pemerintah telah memberikan akses kelola kawasan hutan seluas sekitar 14.000 hektare kepada 54 Kelompok Perhutanan Sosial di Kabupaten Garut melalui berbagai skema, seperti Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Desa, dan Kemitraan Kehutanan.

Dalam talkshow tersebut juga disampaikan bahwa sistem agroforestri merupakan pola pengelolaan lahan yang mengombinasikan tanaman kehutanan dengan tanaman perkebunan, seperti kopi, serta tanaman bernilai ekonomi lainnya, di antaranya alpukat, nangka, lamtoro, dan berbagai tanaman sela. Pola ini dinilai mampu menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.

Selain talkshow, Festival Layang-layang Internasional Garut juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya, hiburan musik, serta stan UMKM yang menampilkan aneka kuliner lokal dan produk kopi agroforestri khas Garut.

Melalui penyelenggaraan festival ini, Garut diharapkan semakin dikenal sebagai destinasi wisata berbasis alam, budaya, dan hasil hutan lestari yang mampu bersaing di tingkat internasional.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *