Ketua DPRD Kabupaten Bogor Kaitan Kasus Pencabulan dengan Sistem Pendidikan

DPRD kabupaten bogor tentang pencabulan
Ilustrasi

Indonesiadaily.net – Maraknya kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur yang terjadi di Kabupaten Bogor, menurut Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Rudy Susmanto ada kaitannya dengan sistem pendidikan.

“Bukan hanya kita tekankan untuk melaksanakan program-program tersebut. Kalau hal ini terjadi, coba kita yang kilas kembali sistem pendidikan kita bagaimana sehingga tindakan asusila ini sering kali terjadi terutama kepada anak dibawah umur,” ungkap Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor, Rudy Susmanto.

Bacaan Lainnya

Rudy Susmanto mengatakan, jikalau terjadi hal-hal tindakan negatif tersebut secara berulang-ulang. Perlu di evaluasi adalah sistem pendidikan. Menurutnya, investasi terbaik adalah investasi sumber daya manusia.

“Apakah sistem pendidikan agama di sekolah-sekolah tersebut yang kurang atau sistem pendidikan moralnya. Tentunya bukan hanya sekolah yang punya peranan tetapi keluarga juga memiliki peranan dalam mendidik putra putri nya,” ucap Rudy Susmanto

Melihat hal tersebut, Rudy menyoroti bahwa hal tersebut merupakan penyimpangan seks. Dirinya menjelaskan bahwasanya hal tersebut sudah terjadi dan pemerintah serta seluruh elemen masyarakat harus bicara perihal solusi jangka panjang.

“Minimal kita tata dahulu dari awal untuk meyiapkan putra putri kita sebagai penerus bangsa supaya memiliki sumber manusia yang baik. Dengan memiliki akhlak yang baik tentunya sistem pendidikan kita pun harus memumpuni,” pungkas Rudy.

Ia pun mengatakan, dengan kemajuan teknologi dan masuknya ranah pendidikan kedalam era globalisasi dan digitalisasi harus betul-betul ada sistem pendidikan yang maksimal. Dalam arti kata, bukan hanya sekedar akademis tetapi secara akhlak dan moral juga harus dibangun sejak dini.

“Apalagi kemarin di tengah pandemi Covid-19 siswa-siswi anak didik kita, tidak melakukan pembelajaran secara tatap muka sehingga karakternya tidak terbangun. Kita kehilangan dua tahun berarti harus ada sebuah sistem yang baru, bagaimana kita kita mengejar ketertinggalan selama dua tahun belakang,” tutupnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *