Tradisi Nyadran Agung Sambut Ramadhan di Kulon Progo

Yogyakarta, Indonesiadaily.net — Beragam kegiatan tradisi dilakukan umat muslim di Indonesia dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta misalnya, sejak lama terdapat tradisi Nyadran Agung untuk menyambut bulan Ramadhan.

Nyadran Agung di Kulon Progo ini kerap digelar sejak tahun 2004. Kini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo kembali menggelar Nyadran Agung untuk menyambut Ramadhan tepatnya pada Rabu, 6 Maret 2024.

Bacaan Lainnya

Nyadran Agung kali ini mengarak 12 gunungan dari setiap Kapanewon (kecamatan) dan dari setiap BUMD/BUMN yang ada di wilayah Kulon Progo. Gunungan yang diarak ini berisi hasil bumi, seperti sayur mayur, buah-buahan beserta tumpeng.

Dari 12 gunungan tersebut ada 3 gunungan utama. Gunungan pertama berisi Apem. Apem ini dimaksudkan Nyuwun Pangapunten atau permohonan maaf kepada Allah SWT atas segala kesalahan manusia. Gunungan kedua berisi tumpeng yang mempunyai makna doa keselamatan. Dan gunungan ketiga berisi hasil bumi yang mempunyai arti rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, prosesi kirab gunungan dimulai dari pelataran kantor DPRD Kulon Progo menuju Alun-alun Wates yang berjarak sekitar 1 kilometer. Barisan pertama dari kirab adalah Bregodo Sutomoyo dari Pripih, Hargomulyo, Kokap. Di belakang Bregodo Sutomoyo adalah 3 gunungan utama. Dan diikuti oleh gunungan dari berbagai Kapanewon maupun BUMD/BUMN yang berada di wilayah Kulon Progo.

Sesampainya di Alun-alun Wates selanjutnya dilakukan Ikrar Nyadran dan doa bersama. Setelahnya, acara terakhir yang sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat yang menghadiri Nyadran Agung ini yakni Rayahan (rebutan) gunungan. Warga masyarakat yang hadir saling berebut mengambil seluruh isi yang ada dalam gunungan.

Penjabat (Pj) Bupati Kulon Progo, Ni Made Dwipanti Indrayanti, dalam sambutannya menjelaskan bahwa tradisi Nyadran yang diselenggarakan tiap tahun ini merupakan salah satu jalan untuk melestarikan budaya yang sudah menyatu dengan masyarakat Jawa yang dilaksanakan pada bulan Ruwah/Sya’ban menjelang bulan Ramadhan.

Pj. Bupati Kulon Progo mengungkapkan bahwa tradisi Nyadran diharapkan bisa menjaga hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Allah SWT.

Sementara Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dalam sambutan yang dibacakan oleh Aris Eko Nugroho, mengatakan, sesungguhnya Nyadran adalah tradisi Islam Jawa yang intinya adalah penghambaan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tradisi nyadran adalah tradisi Islam Jawa yang diajarkan oleh Walisongo.
“Walisongo banyak merintis berbagai kegiatan kreasi tradisi dan seni Islami. Banyak khasanah budaya lokal yang diubah melalui ekspresi baru melalui cara-cara yang halus dengan mengubah estetikanya dan memasukkan sistem nilai yang islami,” ungkapnya.

Nyadran Agung tahun ini diawali dengan Mujahadah bersama Gus Muwafiq, Kirab Agung, dan diakhiri dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Suranto HS dengan judul Pandawa Laku Puter Puja.
(Hari Sutanta)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *