Indonesiadaily.net – Perbedaan tak selalu menghadirkan jarak. Di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, justru menjadi ruang tumbuhnya toleransi yang hangat dan menenangkan. Saat sebagian besar umat Muslim masih menunaikan ibadah puasa Ramadan, ratusan jamaah Thariqah Syathaariyah di Pondok Pesantren Daarul Islaam Liahlissunnah Waljamaah telah lebih dahulu merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Sejak pagi, jamaah berdatangan ke halaman masjid dengan wajah teduh dan pakaian terbaik. Mereka bersalaman, berbaris rapi, lalu menunaikan salat Id dengan penuh kekhusyukan. Tak ada gegap gempita berlebihan, hanya ketenangan yang terasa mengalir di setiap sudut.
Usai salat, suasana berubah menjadi hangat. Jamaah membuka bekal dari rumah, duduk bersama, dan makan dalam kebersamaan sederhana yang justru terasa begitu bermakna.
Pengasuh pondok, Kiai Parlan Ahmad Khumaidi, menjelaskan bahwa penentuan awal Ramadan hingga Idul Fitri dilakukan berdasarkan perhitungan tersendiri, sehingga waktu perayaan bisa berbeda.
Namun, di balik perbedaan itu, ada komitmen yang dijaga saling menghormati.
Gema takbir tidak dikumandangkan keluar melalui pengeras suara. Takbir tetap dilantunkan, tetapi hanya di dalam masjid—sebuah bentuk kesadaran agar tidak mengganggu umat Muslim lain yang masih berpuasa.
“Semua punya metode masing-masing. Yang terpenting adalah kerukunan dan niat ibadah kepada Allah,” ujarnya.
Jamaah yang hadir pun datang dari berbagai daerah, mulai dari Madiun, Kediri hingga Jawa Tengah. Mereka berkumpul bukan hanya untuk merayakan hari kemenangan, tetapi juga merawat nilai kebersamaan dalam perbedaan.
Di tengah suasana yang hangat itu, aparat kepolisian turut berjaga memastikan ibadah berlangsung aman dan lancar. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya menjaga ketenangan, tanpa mengurangi kekhusyukan yang tercipta.
Penulis : Agus Triwasono






