Indonesiadaily.net – Universitas Gunadarma kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan melalui peluncuran Robot Catur Cerdas Tartakower, inovasi terbaru yang dirancang untuk meniru gaya bermain maestro catur dunia Savielly Tartakower. Robot ini dibekali modul khusus yang mengadaptasi pembukaan andalan Tartakower, Queen’s Gambit Declined, yang juga kerap digunakan pecatur legendaris seperti Garry Kasparov dan Anatoly Karpov.
Robot Tartakower hadir dengan sejumlah fitur modern, antara lain kemampuan mendeteksi langkah ilegal, sistem pembukaan otomatis, serta integrasi dengan papan catur Digital Game Technology (DGT) yang memungkinkan pencatatan langkah berlangsung secara real-time dan akurat.
Rektor Universitas Gunadarma, Prof. Dr. E.S. Margianti menyatakan bahwa pengembangan robot catur ini merupakan bagian dari upaya kampus memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis teknologi, khususnya di bidang olahraga prestasi.
“Melalui inovasi ini, kami berharap lebih banyak pecatur muda dapat memanfaatkan teknologi sebagai pendamping latihan dan analisis permainan,” ujar Prof. Margianti dalam keterangan tertulis.
Robot Tartakower merupakan produk ketiga dalam seri robot catur cerdas besutan Universitas Gunadarma, setelah Robot Catur Bogoljubov dan Robot Catur Capablanca. Di antara keduanya, Robot Bogoljubov telah teruji secara nyata dengan melawan sejumlah pecatur nasional, termasuk Grand Master (GM) Susanto Megaranto yang bermain remis, serta GM Novendra Priasmoro yang mencatat satu kekalahan dan satu remis dari robot tersebut.
“Rekam jejak itu menunjukkan algoritma dan sistem yang kami kembangkan mampu bersaing di level kompetitif,” kata Prof. Margianti.
Nama Tartakower dipilih sebagai bentuk penghargaan terhadap Savielly Tartakower, pecatur kelahiran Rostov pada 21 Februari 1887. Ia menempuh pendidikan hukum di Jenewa dan Wina, sebelum meraih gelar doktor pada 1909. Di dunia catur, Tartakower dikenal sebagai salah satu tokoh sentral aliran Hypermodern—gaya bermain yang menekankan penguasaan pusat dari jarak jauh.
Selama kariernya, ia menorehkan kemenangan di sejumlah turnamen penting, antara lain Wina (1923), Hastings (1926–1927 dan 1927–1928), serta Liege (1930) ketika mengalahkan Mir Sutan Khan. Tartakower juga dua kali menjadi juara nasional Polandia dan meraih emas bersama tim Polandia pada Olimpiade Catur Hamburg 1930.
Ia pernah menundukkan sejumlah legenda seperti Emanuel Lasker dan Alexander Alekhine, meski harus mengakui ketangguhan José Capablanca. Sebagai penulis dan pemikir catur, Tartakower meninggalkan warisan melalui buku-buku rujukan seperti My Best Games of Chess 1905–1954 dan The Hypermodern Game of Chess.
Melalui penggunaan nama Tartakower, Universitas Gunadarma berharap robot catur cerdas ini dapat menjadi sarana pembelajaran, riset, dan pengembangan strategi bagi pelatih maupun atlet muda di Indonesia.
“Teknologi harus hadir untuk memperkuat proses pendidikan dan pembinaan olahraga. Robot Catur Tartakower merupakan wujud kontribusi kami dalam mendukung perkembangan catur nasional,” ujar Prof. Margianti.(*)






