Indonesiadaily.net – Seorang aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, diduga terlibat dalam upaya penyunatan harga gas LPG yang dipasok untuk kebutuhan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dugaan tersebut menyeret nama Prayitno, warga Desa Slambur, Kecamatan Geger, yang diketahui juga menjadi salah satu pengelola dapur MBG – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Assalam di Desa Sumberejo, Kecamatan Geger.
Selain Prayitno, dapur tersebut juga dikelola oleh H. Slamet, warga Desa Sumberejo, dan Indarti, warga Desa Bangunsari, Kecamatan Dolopo. Ketiganya diketahui mengelola dapur MBG yang menyiapkan ribuan paket makanan setiap hari untuk siswa TK hingga SMA di wilayah Kecamatan Geger.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, rencana “pemotongan” harga LPG itu muncul ketika salah satu pemasok, Gatot Setiawan (65), warga Kelurahan Tawangrejo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, diminta memasok empat tabung LPG ukuran 50 kilogram setiap bulan dengan harga kesepakatan Rp1 juta per tabung. Namun, Gatot kemudian mendapat kabar adanya rencana pemotongan sebesar Rp50 ribu per tabung, atas permintaan Prayitno.
“Barang yang saya kirim bulan Oktober sampai sekarang belum dibayar. Bahkan saya diberitahu oleh Pak Slamet kalau per tabung akan dipotong Rp50 ribu, katanya permintaan Pak Prayitno,” ujar Gatot.
Ia menambahkan, pembayaran pasokan bulan Oktober yang nilainya mencapai Rp4,38 juta hingga kini belum diterima. Tak hanya itu, pengiriman LPG yang biasa dilakukannya juga mendadak dihentikan secara sepihak oleh pihak dapur MBG.
Sementara itu, H. Slamet yang ditemui di lokasi proyek pembangunan gedung koperasinya di wilayah Geger membenarkan adanya rencana pemotongan tersebut. Namun, ia membantah jika kebijakan itu atas perintah Prayitno.
“Memang sempat ada rencana potongan Rp50 ribu per tabung, tapi bukan atas perintah Pak Prayitno. Dana itu rencananya akan dimasukkan ke koperasi, namun sudah kami batalkan dan akan dibayar penuh,” jelas Slamet.
Meski begitu, Slamet mengakui bahwa pembayaran untuk pasokan LPG bulan Oktober memang belum dilakukan. Ia berjanji akan segera melunasi kewajibannya kepada Gatot. Mengenai penghentian kerja sama, Slamet menyebut pasokan LPG dari Gatot akan dialihkan ke tiga dapur MBG lain yang masih dalam satu grup manajemen.
“Benar, pengiriman LPG dari Pak Gatot kami alihkan ke tiga dapur lain, masing-masing di Desa Bagi, Desa Mojopurno, dan
Kecamatan Gemarang,” tambahnya.
Dapur MBG–SPPG Assalam sendiri setiap hari memproduksi sekitar 2.615 kotak menu bergizi untuk siswa di wilayah Kecamatan Geger. Aktivitas dimulai sejak sore hari, dilanjutkan memasak pada tengah malam, dan pengemasan dini hari sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah menggunakan dua mobil boks.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Madiun terkait dugaan keterlibatan ASN dalam persoalan tersebut.(*)



