AMKI Dorong Media Indonesia Keluar dari Jeratan Ketergantungan Finansial

 

Indonesiadaily.net – Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat, Tundra Meliala, menyatakan bahwa tantangan utama dunia pers saat ini bukan lagi tekanan politik, melainkan rapuhnya ekosistem bisnis media akibat dominasi platform digital global.

Bacaan Lainnya

Menurut Tundra, sejak pandemi Covid-19 mempercepat peralihan konsumsi informasi ke ranah digital, media lokal semakin kehilangan daya saing, terutama dalam hal pendapatan iklan.

Ia mengutip data Nielsen tahun 2023 yang menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen belanja iklan digital diserap oleh raksasa teknologi seperti Google dan Meta, meninggalkan media lokal dengan pendapatan yang minim.

“Banyak media terpaksa menjual independensinya demi bertahan hidup, dari konten berbayar, pesanan politik, hingga menjual ruang pemberitaan. Ini menciptakan kondisi getir yang kami sebut sebagai ‘pers anak kambing’—media yang harus menyusu ke mana-mana demi tetap hidup,” ujar Tundra dalam keterangan tertulisnya.

Di tengah situasi tersebut, AMKI didirikan sebagai wadah untuk menyatukan media dari berbagai platform—cetak, elektronik, daring, hingga multimedia—dalam satu ekosistem konvergensi yang kolaboratif. Tundra menegaskan, AMKI hadir bukan sekadar sebagai asosiasi baru, melainkan sebagai inisiatif nyata untuk mengubah pola bertahan media menjadi pola yang lebih produktif dan mandiri.

“Konvergensi bukan sekadar jargon teknologi. Ini strategi untuk membangun ulang kemandirian pers. Kita ingin media tidak lagi mengandalkan belas kasih, tapi membangun sinergi sehat yang saling menguntungkan,” lanjutnya.

Tundra menyambut baik dukungan dari sejumlah institusi negara, termasuk kementerian, lembaga tinggi, serta mitra dari kalangan militer dan swasta. Namun, ia menegaskan bahwa sinergi tersebut tidak boleh mengorbankan kemerdekaan pers.

Sinergi harus tanpa kooptasi. Media hanya akan dihormati jika tetap berpihak pada kebenaran dan kepentingan publik, bukan pada kepentingan pemilik modal,” tegasnya.

AMKI sendiri telah menyiapkan sejumlah program konkret, seperti Forum Konvergensi Media, pelatihan digitalisasi redaksi, advokasi regulasi media, serta penguatan kemitraan strategis. Organisasi ini juga melibatkan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang—akademisi, praktisi media, perwira militer, dan pejabat publik—sebagai bagian dari struktur pendukung.

Dengan kehadiran AMKI, Tundra berharap media di Indonesia dapat kembali menegakkan kepala sebagai pilar demokrasi yang merdeka dan berdaulat.

“Lebih baik miskin tapi merdeka, daripada kaya tapi diperbudak. Dengan AMKI, kita ingin menjadikan kolaborasi sebagai kunci, kemandirian sebagai fondasi, dan kepentingan publik sebagai arah,” pungkasnya.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *