Rizal Ramli Ungkap 3 Kondisi Ini Telah Matang di Indonesia dan Akan Terjadi Perubahan, Apa Saja Ya

rizal ramli
Rizal Ramli

Indonesiadaily.net, Jakarta – Tokoh pergerakan dan pakar ekonomi Rizal Ramli ungkap 3 kondisi yang telah matang dan perubahan akan segera terjadi di Indonesia. Hal itu disampaikan mantan Menteri Koordinator Ekonomi RI tersebut dalam Podcast Refli Harun yang berjudul “Ngeri-ngeri Sedap, Rizal Ramli Datang Lagi! Ada Ledakan Apa Lagi?, pada Jumat (3/11/2023).

“Tadi siang saya dan beberapa teman, kami semua sangat gembira bahwa perubahan akan segara terjadi,” tutur Rizal Ramli dalam podcast tersebut.

Bacaan Lainnya

Seperti yang pernah ia katakan, jika ingin perubahan, tetapi kondisi objektifnya belum matang, maka tidak bisa. Namun, kalau  kondisinya sudah matang maka perubahan pasti akan terjadi.

“Ini persoalannya ada pada leadership,” kata Rizal Ramli.

Ia mengungkapkan tiga kondisi yang disebut telah matang, pertama dimensi ekonomi, yakni harga kebutuhan, utamanya beras yang mahal yang menembus Rp15 ribu di beberapa daerah, tetapi terjadi penurunan karena Bulog mendistribusikan beras, tapi tidak disemua daerah. Sebab, jika merata, maka Bulog harus siapkan 3 juta ton dan mereka tidak punya stok sebanyak itu.

Seperti diketahui, Bung Karno maupun Soeharto jatuh karena harga beras tersebut.

Ia menilai pemerintah melakukan blunder, karena tidak segera mengantisipasi kenaikan harga beras hingga dibiarkan terus melambung.

Kemudian, mantan Kepala Bulog itu menerangkan, terkait kebijakan masyarakat hanya boleh membeli beras 2 kali lima liter atau kilogram tiap pembelian, padahal menurut dia, hal tersebut justru membuat warga menengah atas khawatir dan melakukan panic buying dengan membeli banyak, akhirnya berimbas pada berkurangnya stok beras.

Selanjutnya menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berkaitan dengan 200 juta pengendara sepeda motor.

Ia juga mengatakan terkait kenaikkan tarif dasar listrik. Bahkan, ketika ada warga yang telat membayar, PLN akan memutus aliran listrik di rumah warga tersebut, ini tidak pernah terjadi di negara kapitalis manapun, karena mereka memberi waktu selama 1 bulan sampai 2 bulan sebelum konsumen diancam pemutusan jaringan.

Lalu mahalnya biaya pendidikan yang ia sebut tidak pernah terjadi di era presiden-presiden sebelumnya.

“Hanya terjadi pada zaman Jokowi,” ujarnya.

Kedua, dimensi politik yang menurut Rizal Ramli seperti ada keinginan Jokowi untuk membuat dinasti kerajaaan yang bertentangan dengan sejarah Indonesia.

Seperti diketahui, para tokoh bangsa ini berjuang bagi terbentuknya negara republik Indonesia. Para raja juga berjuang membantu dengan memberi sumbangan bagi negara republik yang baru ini.

“Jokowi tidak mengerti sejarah bangsa Indonesia, karena itu dia membuat dinasti Jokowi,” kata Rizal Ramli

Rizal Ramli menilai dinasti politik Jokowi berbeda dengan dinasti politik Megawati atau Susilo Bambang Yudhoyono, karena keduanya membuat dinasti di dalam partai politik masing-masing.

“Ketidaksukaan terhadap dinasti Jokowi ini makin lama makin meningkat. Makanya saya bersama Rocky Gerung merumuskan tagline ‘Turunkan Harga dan Keluarga Agar Bangsa Kita Berwibawah,” ujar mantan penasihat ekonomi Fraksi ABRI di DPR/MPR RI itu.

Ketiga, aspek internasional, Rizal Ramli pun menilai bahwa makin ketara Jokowi bermain dengan Beijing. Padahal, di berbagai daerah terjadi penolakan investasi China yang dampaknya merugikan rakyat, seperti Bupati di Gorontalo yang pro terhadap investasi Tiongkok kantornya dibakar massa, demikian juga dengan kasus Rempang.

Masih menurut Rizal Ramli, hal ini tidak lepas dari kemenangan Jokowi pada pemilu 2014, yang menjanjika Presiden Tiongkok Xi Jinping pelabuhan besar di Medan agar bisa digunakan angkatan laut China. Namun, hal itu ditolak oleh gubernurnya.

Jokowi akhirnya bertemu Presiden Jinping beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu, keduanya menemukan kata sepakat.

“Kalau ini mau dibuat pabrik kaca yang terbesar di dunia maka sudah cukup dengan 2000 Ha. Ini mau dibersihkan 17 ribu Ha dari penduduk lokal. Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan Hak Azasi Manusia (HAM) dan hak-hak rakyat. Tapi yang paling penting yaitu Jinping mau memakai Rempang sebagai basis pangkalan militer dan intelijen China di Selat Malaka,” ujar Menteri Keuangan RI di era Presiden Abdurahman Wahid.

Terkait informasi yang disampaikan Rizal Ramli di atas, Refli Harun pun bertanya.

“Apakah (informasi) ini sudah confirm,” tanya Refli Harun yang dijawab “Ya” oleh Rizal Ramli.

“Siapa yang menguasai Selat Malaka pasti dia akan menang karena 80 persen perdagangan dunia melewati Selat Malaka,” imbuh Rizal Ramli.

Karena itu, lanjut Rizal Ramli, Jokowi akan mengikuti permintaan Beijing, bahkan ia juga menyebut Ibu Kota Negara (IKN) meminta desainernya dari Tiongkok.

“Tiga kombinasi ini, ekonomi susah, kerajaan dinasti politiknya yang mau dibangun dan isu terkait Beijing, merupakan tiga formulasi dari pemerintahan ini akan segera jatuh,” ucap Rizal Ramli. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *