Indonesiadaily.net -Stroke adalah salah satu penyakit kronis yang paling menakutkan. Stroke merupakan penyebab cacat paling utama di dunia. Tak hanya membuat sang penderita tidak bisa menggerakan bagian tubuhnya, stroke juga bisa membuat mereka kehilangan pendengaran.Kondisi semacam inilah yang dikenal dengan sebutan stroke telinga. Kenali apa itu stroke telinga dan penyebabnya.
Disarikan dari laman QualityHealthCare, yang dikutip dari kompas.com, stroke telinga adalah istilah awam untuk menggambarkan gangguan sensorineural mendadak atau sudden sensorineural hearing loss.
Kondisi ini bisa membuat penderitanya mengalami gangguan pendegaran yang tiba-tiba atau tuli di salah satu telinga. Stroke telinga juga bisa membuat penderitanya mengalami pusing mendadak, tinitus (telinga berdenging), dan sakit telinga. Pada tahap awal, banyak orang tidak menganggap serius gejala stroke telinga, karena mereka mungkin mengira kondisi tersebut hanya karena telinga kotor atau saluran telinga tersumbat.
Beberapa bahkan beranggapan, gejala masalah kesehatannyanya akan hilang atau sembuh sendiri setelah beberapa saat, sehingga menunda-nunda waktu untuk berobat.
Padahal, gangguan pendengaran sensorineural mendadak dianggap sebagai situasi darurat. Dua minggu pertama setelah timbulnya gejala penyakit adalah periode emas untuk pengobatan. Setelah kelainan pendengaran terdeteksi, pasien harus mencari perawatan medis sesegera mungkin. Tanpa perawatan yang tepat waktu dan tepat, hal ini akan membuat pasien sulit untuk memulihkan pendengarannya yang hilang.
Dalam kasus terburuk, kondisi tersebut bahkan dapat menyebabkan ketulian permanen. Apa penyebab stroke telinga? Stroke telinga tidak hanya terjadi pada orang tua. Pada dasarnya, setiap orang memiliki kemungkinan yang sama untuk menderita kondisi medis tersebut. Penyebab stroke telinga masih belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor pemicu masalah kesehatan ini.
Kebanyakan stroke telinga berasal dari infeksi virus yang menyerang saraf pendengaran atau telinga bagian dalam. Misalnya, herpes zoster dan influenza.
Penyebab lainnya adalah oklusi vaskular, yang mirip dengan stroke, di mana saraf pendengaran rusak akibat suplai darah yang tidak normal. Di beberapa kasus yang lebih jarang terjadi, penyebab masalah kesehatan ini berasal dari faktor gangguan autoimun dan tumor.
Meskipun akar penyebab penyakit ini sebenarnya tidak dapat diidentifikasi, dokter biasanya memeriksa saluran pendengaran eksternal pasien terlebih dahulu untuk mengesampingkan kemungkinan kondisi seperti kerusakan gendang telinga, diikuti dengan tes pendengaran.
Jika kemampuan pendengaran pasien di kedua sisi menunjukkan gangguan pendengaran 30 desibel (dB) atau lebih dalam tiga tes frekuensi berturut-turut, penderita akan didiagnosis menderita gangguan pendengaran mendadak. Perawatannya biasanya melibatkan resep steroid oral yang membantu meredakan peradangan.
Obat antivirus dan vasodilator terkadang juga dapat diresepkan untuk meningkatkan suplai darah ke telinga. Jika situasinya tetap tidak terselesaikan, dokter dapat mengatur pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) untuk pasien untuk membantu mendiagnosis apakah stroke telinga yang tiba-tiba disebabkan oleh tumor.
Beberapa pasien dapat memulihkan pendengarannya setelah menerima perawatan obat sementara beberapa tidak. Untuk meningkatkan kemungkinan sembuh, penderita harus mendapatkan pengobatan sesegera mungkin.
Jika seseorang memiliki keraguan atau gejala, ia harus mengatur pemeriksaan medis secara mendetail dengan spesialis THT sesegera mungkin.(*)
Editor : Nur Komalasari






