Perempuan Paling Rentan Terkena Saraf Terjepit, Begini Alasannya

Ilustrasi saraf terjepit (Foto Pixabay)

Indonesiadaily.net – Saraf terjepit merupakan penyakit yang banyak diderita karena pengaruh gaya hidup. Perempuan ternyata memiliki peluang paling besar terkena kondisi tersebut.

Ahli menyebutkan jika gangguan saraf ini bisa terjadi karena gaya hidup tak aktif yang dilakukan dalam jangka lama.

Bacaan Lainnya

Biasanya gangguan saraf ini terjadi karena kebiasaan tak aktif tersebut dilakukan bertahun-tahun.

Melansir Suara.com, Dokter spesialis saraf dr. Zicky Yombana, Sp.S., mengatakan, perempuan juga paling banyak menderita saraf kejepit karena faktor hormonal.

“Dari pengalaman saya praktik, perempuan lebih banyak karena jarang olahraga. Seringnya gini ya, saat sekolah SMP-SMA, pelajaran olahraga izin sakit, mens. Begitu dia hamil, dia akan membawa gembolan (kandungan), core harus kuat. Karena dulu gak pernah olahraga, tulang belakangnya ancur. Akhirnya abis lahiran, sakit pinggang,” kata dia.

Dia menerangkan, kondisi sakit pinggang pasca melahirkan atau setelah operasi sesar, merupakan hal yang tidak berkaitan dengan saraf terjepit. Melahirkan juga suntikan operasi sesar sebenarnya tidak akan menyebabkan ibu sakit pinggang sampai alami saraf kejepit bila sejak sebelum hamil telah rutin olahraga.

“Karena dia tidak kuat secara struktur otot. Kedua, struktur tulang perempuan lebih rapuh karena dia terkait dengan regulasi hormonal estrogen. Dia mens kalsium terbuang, hamil, menyusui kalsium terbuang. Dia mens lagi, kalsium terbuang lagi, begitu terus. Udah begitu menopause,” tuturnya.

Bagi perempuan yang hobi minjm kopi juga rentan alami kekurangan kalsium. Apalagi kalau tidak diimbangi dengan sumber nutrisi kalsium, seperti susu.

“Banyak ngopi, tapi gak minum susu. Kenapa gak minum susu padahal kalsium bagus? Katanya takut gemuk. Makanya perempuan datanya lebih banyak,” ujarnya.

Saraf kejepit sebenarnya sangat mungkin bisa disembuhkan asalkan melakukan terapi rutin dan mengubah gaya hidup. Tetapi, juga bisa kambuh kembali.

“Kalau saraf kejepit bukan bicara aliran darah tapi karena struktur tulangnya bermasalah, bergeser. Bisa karena kebiasaan, posisi, atau juga benturan. Tapi gak banyak karena benturan. Sebetulnya penyebabnya ya diri sendiri,” ujarnya.(*)

Editor: Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *