Indonesiadaily.net – Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan memantau stok barang kebutuhan pokok (bapok) menjelang Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 (Nataru) cukup dan harga terkendali. Dia mengatakan, Pemerintah siap menghadapai Nataru.
“Menjelang Nataru, ketersediaan barang kebutuhan pokok terjaga cukup dan harga terkendali. Pemerintah siap menghadapi Natal 2022 dan Tahun Baru 2023. Kita memang intens melakukan pemantauan bapok karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Ini perintah Presiden, jadi bapok harus tersedia barangnya serta harganya terjangkau dan stabil,” kata Mendag Zulkifli Hasan.
Zulkifli juga menyampaikan, harga-harga barang kebutuhan pokok di ritel modern umumnya stabil.
“Di ritel-ritel modern beli langsung dari produsen utama, punya stok, jadi harganya tidak turun naik. Selain itu, tidak ada tawar-menawar, jadi harganya stabil. Sedangkan di pasar rakyat, dalam satu hari bisa terjadi perubahan harga berkali-kali,” jelasnya.
Hasil pantauan di Superindo, tercatat harga gula Rp13.500/kg, telur Rp27.000/kg, minyak goreng Rp14.000-21.900/lt, daging Rp130.000/kg, bawang putih Rp26.950/kg, ayam Rp34.000/kg, serta beras premium sesuai harga eceran tertinggi (HET) yaitu Rp12.800/kg.
Ketua Umum PAN ini juga menjelaskan, tingkat inflasi relatif terkendali menjelang Nataru. Inflasi umum tercatat melandai dari 5,71 persen di bulan Oktober menjadi 5,42 persen di bulan November.
Sementara itu di Pasar Kebon Kembang terpantau harga komoditas yang mengalami penurunan seperti telur, cabai yaitu cabai rawit, cabai keriting, cabai merah besar dan bawang merah. Selain itu, untuk komoditas daging juga terpantau stabil.
Minyakita telah tersedia di 34 Provinsi baik di pasar rakyat maupun ritel modern dengan harga sesuai HET. Kemendag juga melakukan kerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) yang memiliki 150 anggota dan 45 ribu gerai di seluruh Indonesia dalam mendistribusikan barang kebutuhan pokok sekaligus sebagai mitra penjualan barang kebutuhan pokok sesuai HET/Harga Acuan.
Mendag Zulkifli Hasan juga meminta pemerintah daerah turun tangan jika terdapat kenaikan harga pangan lebih dari 5 persen dari harga acuan di wilayahnya. Intervensi itu dilakukan melalui subsidi biaya transportasi angkut maupun subsidi harga. Subsidi bahan pangan itu masuk dalam komponen Belanja Tidak Terduga (BTT) yang diambil 2 persen dari Dana Transfer Umum (DTU) setiap daerah.
“Kalau harganya naik lebih dari 5 persen, wali kota akan turun tangan. Pemerintah akan melakukan segala upaya agar barangnya tersedia dan harganya terjangkau,”katanya.
Walikota Bogor Bima Arya mengatakan, Bogor bahkan sempat mengalami deflasi sebesar 0,01 persen di bulan Agustus lalu, tetapi akhir tahun ini kembali naik menjadi sekitar 5,96 persen. Angka tersebut dominan disumbang dari bahan bakar minyak (BBM), bukan harga pangan.
“Untuk harga pangan terkendali karena kita pantau terus, baik jalur distribusinya,” ucapnya.
Arief menyampaikan, terkait komoditas kedelai, Kemendag telah memerintahkan Bulog untuk melakukan persiapan direct import kedelai yang akan datang pada Januari 2023. Selain itu, pengadaan kedelai oleh swasta juga mulai masuk.
“Dalam minggu ini akan masuk sekitar 40.000 ton dengan harga yang baru yang sedang turun karena sedang panen. Hal ini diharapkan harganya bisa turun hingga Rp12.000 dan kemudian turun menjadi Rp11.000/kg. Namun memang harga ini tidak bisa turun seperti dulu karena nilai mata uang rupiah yang turun,” tuturnya.
Penulis : Aulia Syahramadhan
Editor : Nur Komalasari






