Media Jepang Beberkan Alasan Warga Korea Utara Dilarang Menonton Drakor dan K-Pop

warga korea utara dilarang
Warga Korea Utara dilarang menerima budaya asing.

Indonesiadaily.net – Beredar kabar, Pemerintah Korea Utara mengeksekusi tiga siswa SMA karena telah menonton drama Korea (Drakor). Kenapa warga Korea Utara dilarang menonton tayangan atau mendengar musik dari Korea Selatan (K-Pop) atau produksi luar negeri oleh pemerintahnya?

Melansir dari The New York Times, Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un mengatakan, jika gelombang K-pop, film asing, aspek budaya lain tidak dikuasai, akan menghasilkan kekacauan di Korea Utara.

Bacaan Lainnya

Kim sangat tidak menyukai pengaruh K-drama, video K-pop dan film Korea Selatan, bahkan sampai memerintahkan “pemerintahnya untuk membasmi invasi budaya”.

“Bagi Kim Jong Un, invasi budaya dari Korea Selatan telah melampaui tingkat yang dapat ditoleransi. Jika ini dibiarkan, dia khawatir rakyatnya akan mulai mempertimbangkan Korea Selatan sebagai Korea alternatif untuk menggantikan Korea Utara,” kata pemimpin redaksi Asia Press International Jepang, Jiro Ishimaru.

Sikap Kim Jong Un tersebut, langsung dijadikan kebijakan yakni mengeluarkan “undang-undang pemikiran anti-reaksioner” pada Desember 2020.

Undang-undang ini melarang kepemilikan atau distribusi media asing, dan siapa pun yang ditemukan atau menyebarkan media tersebut akan dimasukkan ke dalam kamp penjara atau dieksekusi.

“Penetrasi ideologis dan budaya di bawah papan nama kaum borjuis yang berwarna-warni bahkan lebih berbahaya daripada musuh yang mengambil senjata,” demikian peringatan surat kabar resmi Rodong Sinmun dalam sebuah artikel.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi The Daily NK Lee Sang Yong kepada BBC mengatakan, budaya lain menurut Korea Utara bisa jadi penyebab awal mula perlawanan.

“Dengan kata lain, rezim menyimpulkan bahwa rasa perlawanan dapat terbentuk jika budaya dari negara lain diperkenalkan,” ujarnya.

Karena itu, siapa pun warga Korea Utara yang ditemukan menonton media asing jenis apa pun akan dimasukkan ke dalam penjara selama 15 tahun. Hukuman ini tidak hanya berlaku untuk orangtua dan anak-anak.

Sebelum kabar tiga siswa SMA dieksekusi menjadi sorotan di tahun ini, pada tahun 2021 pemerintah Korea Utara juga pernah memenjarakan dua anak SMA laki-laki dan empat perempuan selama lima tahun.

Itu dilakukan karena mereka menonton drama Korea dan saling berbagi dengan teman sekelas mereka. Untuk diketahui, sistem pengawasan bersama Korea Utara tercermin dalam undang-undang. Jadi jangan harap bisa bebas menonton diam-diam.

Karena warga negara diminta untuk memberi tahu orang lain yang menonton K-drama dan memberikan hukuman yang signifikan bagi mereka yang dinyatakan bersalah atau mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran.

Peraturan di Korea Utara tidak hanya menjerat pelakunya saja, tetapi bisa terdampak ke orang sekitarnya. Misalnya, jika pekerja tertangkap, maka kepala pabrik dapat dihukum. Kemudian orang tua dapat dihukum atas tindakan seorang anak.

Sementara itu, pada tahun 2021, anggota parlemen Korea Selatan, Ha Tae Keung mengatakan, setelah menghadiri pengarahan oleh agen mata-mata negara bahwa rezim Korea Utara menerapkan aturan ketat tentang bagaimana anak muda berpakaian dan berbicara.

Ha mengatakan, pakaian, gaya rambut, dan bahasa adalah cerminan dari keadaan pikiran dan jiwa.

“Bahkan jika anak muda bernyanyi dan menari, mereka harus bernyanyi dan menari mengikuti melodi dan ritme yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan sentimen nasional rakyat kita, dan mengembangkan gaya budaya kita,” ucapnya.

Untuk diketahui, hubungan Korea Utara dengan Korea Selatan tetap tegang sejak Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata pada tahun 1953. Tidak ada perjanjian damai yang pernah ditandatangani, yang berarti perang tidak pernah berakhir secara resmi.

Perekonomian Korea Utara merosot pada 1990-an setelah runtuhnya Uni Soviet, yang mengakhiri aliran bantuan ke negara itu, meninggalkan China sebagai mitra dagang terbesar negara itu.

Sebaliknya, Korea Selatan adalah ekonomi terbesar keempat di Asia, dengan PDB per kapita setara dengan negara-negara Eropa seperti Prancis dan Italia. Kekuatan lunaknya telah berkembang pesat ketika ekspor budaya seperti musik, makanan, dan produk kecantikan mendapatkan popularitas di seluruh dunia.

Itulah mengapa Korea Utara sangat berhati-hati dalam membiarkan pengaruh asing seperti bahasa gaul Korea Selatan, karena itu berarti

“Mengakui bahwa model masyarakat alternatif berhasil, dan model Korea Utara tidak,” kata Direktur Korea Risk Group dan profesor di Kookmin University di Seoul, Andrei Lankov. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *