Tugiyem, Perempuan Migrasi dari Jawa Sampai Akhirnya Jualan Pecel di Belanda

tugiyem migrasi dari jawa
Tugiyem Sastropawiro

Indonesiadaily.net – Di zaman kolonial Hindia – Belanda, ada migrasi dari Jawa ke Suriname secara besar-besaran. Ternyata dibalik itu semua, ada beberapa hal yang menarik yang tertinggal dari momen tersebut.

Tugiyem Sastropawiro menjadi salah satu yang ikut serta dalam migrasi tersebut. Perempuan asal Prambanan, Jawa Tengah tersebut pindah ke Suriname dan bekerja sebagai buruh selama lima tahun.

Bacaan Lainnya

Lima tahun berlalu, kontraknya pun habis, dan Tugiyem pun akhirnya berpindah ke Rotterdam, Belanda.

Kisah Awal Tugiyem Migrasi dari Jawa

Di Suriname, Tugiyem bekerja sebagai salah satu buruh di perkebunan tebu, dan dibayar 3 sen perharinya.

Kala itu, Tugiyem mengerjakan berbagai hal, seperti mencangkul, menanam, dan memanen tebu.

“Di Suriname saya bekerja di Perkebunan, saya mencangkul, menyiangi, menanam, dan memanen tebu,” kata Tugiyem.

Tugiyem menjalani kontrak selama lima tahun tersebut sampai habis. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pindah.

Tugiyem pindah ke kota (Rotterdam) Belanda. Hal itu ia lakukan dalam rangka untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup.

“Lalu saya pergi ke kota. Saya harus mencari pekerjaan, oleh sebab itu saya pergi ke sana,” lanjut Tugiyem.

Sesampainya di Rotterdam, Tugiyem menempati rumah barunya dan memulai hidup sendirian di rumah tersebut.

Tugiyem membuka stand makanan di sana dan berjualan seperti pecel, bakmi pisang goreng, dan lain sebagainya.

“Saya jual pecel, bakmi, pisang goreng, apa saja yang laku,” kata Tugiyem.

Tugiyem tidak bisa berbahasa Belanda, oleh sebab itu aktivitas sehari-harinya seperti berbelanja ia lakukan di toko Suriname yang bisa berbahasa Jawa.

Tugiyem Sastroprawiro juga tidak bisa baca tulis. Itulah yang kemudian menyebabkan dirinya kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang Belanda.

Bahkan, ketika ia harus pergi ke rumah sakit, ia harus ditemani oleh orang yang bisa berbahasa Jawa dan Belanda.

Tugiyem mengaku bahwa ia masih betah tinggal di Belanda. Ia tidak ingin kembali ke Prambanan lantaran suaminya sudah meninggal di Belanda.

Tugiyem juga memiliki anak cucu di Suriname dan Belanda. Oleh sebab itu, ia mungkin sesekali akan mengunjungi Suriname untuk bertemu dengan anak dan cucunya.

“Saya tidak tahu bagaimana nanti, tetapi sekarang saya tinggal di sini,” kata Tugiyem. (*)

Editor : Pebri Mulya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *