Indonesiadaily.net – Rusia yang telah mencaplok empat wilayah di Ukraina beberapa waktu lalu mendapatkan dukungan dari empat negara. Dukungan tersebut diutarakan dalam resolusi Majelus Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang digelar Selasa 12 Oktober 2022.
Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi menentang Rusia atas aneksasi wilayah Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia Ukraina.
Dari pemungutan suara tersebut, ada 143 negara anggota PBB termasuk Indonesia setuju dengan resolusi yang mengecam pencaplokan Rusia atas wilayah Ukraina. Tetapi, ada juga lima negara memberikan penolakan atas resolusi tersebut, sedangkan ada juga 35 negara yang memilih abstain.
Sebagaimana dilansir situs resmi PBB, negara yang menolak resolusi tersebut ialah Belarus, Korea Utara (Korut), Nikaragua, Suriah, dan Suriah.
Sementara itu, China yang merupakan salah satu sekutu Rusia, memilih mengambil keputusan abstain.
Beberapa negara lain yang memilih abstain adalah India, Kazakhstan, Kirgistan, Afrika Selatan, Thailand, Uzbekistan, dan Vietnam.
Sebagaimana diberitakan NPR, Belarus sempat menjadi tempat singgah bagi lebih dari 30 ribu pasukan Rusia sebelum invasi di Ukraina. Ribuan tentara Moskow berdiam di negara itu dengan kedok latihan militer gabungan.
Namun, pada akhirnya, pasukan Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022.
Sementara itu, hubungan Korut dengan Rusia juga dekat. Korut sempat mengungkapkan niatnya mengirim buruh ke Donetsk, wilayah Ukraina yang kini dikuasai Rusia.
Sebagaimana diberitakan NK News, pemimpin Donetsk pro-Rusia Denis Pushilin mengaku siap berkunjung ke Korut dan mengadakan pertemuan dengan kepala negara Kim Jong Un.
Pushilin juga berencana mengundang Pyongyang untuk berpartisipasi dalam pengadilan internasional dalam hal warga Ukraina dan tentara bayaran yang melakukan tindak kriminal.
Di Nikaragua, Presiden Daniel Ortega mengizinkan Rusia untuk menempatkan pasukan, pesawat, dan kapal mereka di negara itu.
Penempatan militer Rusia di Nikaragua ditujukan untuk latihan, penegakan hukum, dan respons darurat, dikutip dari CBS News.
Sementara itu, pemimpin Suriah Bashar al-Assad merupakan sekutu Rusia sejak lama, dikutip dari Vox. (*)
Editor : Pebri Mulya






