Rizal Ramli Beberkan Dampak bagi Indonesia dari Amerika, Rusia, dan China

rizal ramli kasus ferdy sambo
Rizal Ramli

Indonesiadaily.net – Ekonom senior, Dr Rizal Ramli menilai jika dunia saat ini semakin berwajah bipolar, yaitu pertarungan kekuatan antara Amerika dan sekutunya dengan kekuatan China dan Rusia. 

Akibatnya membuat dunia jatuh dalam perang baru. Perang ini bentuknya bermacam-macam yaitu perang keuangan, perang sanksi, perang siber, perang teknologi, perang komoditi seperti perang pangan. Perang ini berdampak bagi semua negara, juga Indonesia.

Bacaan Lainnya

Mantan Menko Perekonomian itu mencontohkan harga pangan yang saat ini naik, akibat perang antara Rusia dan Ukraina.

“Karena itu walaupun inflasi di dalam negeri baru mencapai 5 persen (inflasi umum) namun inflasi di sektor pangan (makanan) sudah mencapai 11,5 persen. Hal itu terjadi sebelum keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Kini, setelah BBM naik maka inflasi makanan hingga akhir tahun bisa mencapai 15 persen,” ujar Rizal. 

Mantan Menko Kemaritiman itu mengatakan bahwa kondisi seperti ini memang memberatkan rakyat. Hal tersebut, kata RR akronimnya karena upah minimum buruh mengalami kenaikan hanya sebesar 0,3 persen. Namun inflasi sudah mengalami kenaikan sebesar 11,5 persen.

“Jadi, pemerintah kita saat ini sadis banget. Karena itu saya menyebutnya kenaikan harga BBM ini sebagai program pemiskinan massal oleh pemerintah,” ujar Rizal Ramli Podcast Refly Harun beberapa waktu lalu. 

Mantan Kepala Bulog ini mengatakan dirinya ingat ketika China berada di bawah pemerintahan Mao Zedong. Untuk mengejar kemajuan di negara barat, Presiden Mao mulai membangun infrastruktur. 

Pada Januari 1958, Mao mengeluarkan kebijakan “Lompatan Besar ke Depan” (Great Leap Forward) untuk meningkatkan produksi industri dan pertanian. 

Program itu mengerahkan 75.000 orang untuk menggarap setiap sawah. Setiap keluarga mendapat keuntungan dan sebidang kecil tanah. Mao berharap kebijakannya itu membuat China maju dalam beberapa puluh tahun.

Awalnya, kebijakan itu terlihat menjanjikan. Namun, tiga tahun banjir dan gagal panen mulai memberi kesulitan. Produksi pertanian tidak sesuai dengan ekspektasi, dan laporan produksi besi masif ternyata palsu. Kelaparan mulai menjalar. 

Sepanjang 1959 hingga 1961, dilaporkan terdapat 40 juta orang tewas akibat kelaparan. Akibat kegagalan “Lompatan Besar ke Depan”, Mao mulai terpinggirkan pada 1962 dengan rivalnya mengambil alih tampuk kekuasaan. 

Proyek tersebut ternyata mengorbankan rakyatnya sendiri. Padahal sudah banyak dana tersedot. Mao kemudian berkesimpulan bahwa pembangunan tersebut gagal karena kegagalan birokrasi China. 

Karena itu, dia membuat program baru yaitu dengan melakukan revolusi kebudayaan China. Dan hari ini, kata Gus Ramli, hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo. 

Presiden Jokowi jor-joran membangun proyek infrastruktur walau dengan berutang sekalipun. Semakin hari utang kita semakin bertambah.

“Bunga cicilan saja saat ini mencapai Rp405 T, cicilan pokok Rp400 T, jadi tahun ini kita harus membayar utang sebesar Rp805 T. Jumlah ini sekitar 1/3 dari APBN. Itu berarti utang kita jauh lebih besar dari dana untuk sektor pendidikan yang mencapai 20 persen, lebih besar dari dana infrastruktur, dan lebih besar dari gaji PNS, TNI dan Polisi. Untuk membayar bunga saja Jokowi harus pinjam dari negara lain. Inilah yang saya sebut dengan ‘gali lubang tutup jurang’,” ungkapnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *