Senin, April 15, 2024

BBM Naik, Siap-siap Tarif Angkutan Umum Naik Juga 35%

Indonesiadaily.net – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mendapatkan respon dari Organisasi Angkutan Darat (Organda). Hal itu karena akan berdampak pada kenaikan tarif angkutan umum.

“Penyesuaian tarif yang akan kami lakukan kisaran 25 persen sampai dengan 35 persen, lihat daerah dan jarak operasionalnya,” kata Ketua DPP Organda Kurnia Lesani.

Menurut dia, kenaikan tarif berada di rentang Rp30 ribu hingga Rp45 ribu untuk bus Antarkota Antarprovinsi (AKAP) jarak menengah. Sedangkan untuk AKAP jarak jauh kenaikannya mencapai Rp80 ribu.

Lesani yang juga Ketua PB Iponi ini menambahkan, mayoritas angkutan umum menggunakan BBM jenis Pertalite. Sedangkan untuk kendaraan diesel dengan sumbu roda lebih dari empat menggunakan BBM jenis Solar.

Baca Juga  Jembatan Crimea Dibom, Ini Langkah Tegas yang Dilakukan Putin

Seperti diketahui, pemerintah resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dan Solar pada Sabtu 3 September 2022.

Untuk jenis Pertalite saat ini ditetapkan Rp10.000 per liter dan Solar Rp6.800 per liter. Tak hanya itu, harga Pertamax pun turut naik menjadi Rp14.500 dari sebelumnya Rp12.500 per liter.

Lesani mengatakan, sebelum kenaikan harga BBM, para perusahaan angkutan umum telah menghadapi sejumlah kesulitan, yakni mahalnya harga onderdil kendaraan hingga kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai atau PPn.

“Hal lain yang harus di ketahui juga adalah selama 5bulan terakhir ini sdh terjadi inflasi terhadap harga sparepart, di tambah dengan kenaikan PPn,” ujarnya.

“Ini setelah BBM naik pasti akan terjadi kenaikan harga lagi terhadap barang atau komponen penunjang operasional kami kedepannya nanti,” katanya.

Baca Juga  Masa Berlaku Paspor Kini Menjadi 10 Tahun, Tapi...

Tak hanya itu, komponen penting lainnya pun juga sulit ditemukan, di antaranya ialah ban. Kata Sani, angkutan umum biasanya menggunakan ban berjenis tubeless radial.

Presdir PT SAN Putra Sejahtera ini menambahkan, ban jenis radial itu masih diimpor karena belum diproduksi dengan jumlah banyak di dalam negeri.

“Ini salah satu hal yg membuat biaya operasional kami naik. Karena yang dulunya kami bisa beli ban dengan memfoscast beberapa bulan kedepan,” ucap Sani. (*)

 

Editor : Pebri Mulya


Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles