Piala Dunia 2026 Tinggal Hitungan Hari, Ini Tim-tim Kandidat Juara

Oleh M. Syahran W. Lubis, penulis buku Para Jawara Piala Dunia (2014) serta Piala Dunia, 96 Tahun Penuh Sesak Drama & Kontroversi dan 13 Kisah Tragis Sepakbola (2026)

Indonesiadaily.net– Piala Dunia FIFA 2026 segera dimulai. Tepatnya pada Jumat 12 Juni pk. 02.00 WIB ketika Meksiko, salah satu dari tiga tuan rumah, menjamu Afrika Selatan di laga pembuka Grup A di Stadion Azteca di Mexico City. Setiap Piala Dunia dimulai, pertanyaan teratasnya tentu tim nasional mana yang bakal finis sebagai kampiun.

Bacaan Lainnya

Sejauh ini hanya delapan negara yang timnasnya mampu menjuarai Piala Dunia sejak ajang olahraga akbar tersebut digelar pertama kali di Uruguai pada 1930.

Brasil juara terbanyak lima kali, diikuti Jerman dan Italia masing-masing empat, Argentina tiga, Prancis dan Uruguai dua, serta Spanyol dan Inggris masing-masing satu kali.

Jadi, kira-kira siapa yang akan berjaya di panggung juara untuk Piala Dunia edisi ke-23 ini?
Tim-tim yang merupakan kekuatan tradisional dan pernah mencicipi nikmatnya gelar juara memiliki kemungkinan terbesar untuk kembali juara, tentunya di luar Italia yang gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.

Namun, selain Italia, ada dua nama lagi di antara tim-tim yang pernah juara yang agaknya layak dieliminasi dini dari daftar calon kuat juara.
Mari kita telusuri satu demi satu nama-nama di atas. Sebagai juara terbanyak, Brasil jelas layak disebut sebagai salah satu kandidat juara. Tapi, apakah tim Samba kandidat terkuat?

Kalau melihat Brasil hanya finis di peringkat kelima klasemen akhir kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Amerika Selatan dengan 10 poin di belakang Argentina di posisi teratas, rasanya terlalu berlebihan jika fans Brasil berharap tim kesayangan mereka akan juara.

Meski demikian, saya “terpaksa” tetap memasukkan dalam daftar kandidat juara karena ada dua nama penting yang berpotensi mendongkrak kinerja mereka yakni Carlo Ancelotti dan Neymar Jr.

Ancelotti adalah pelatih pertama asal Italia yang menangani Timnas Brasil. Dia juga tercatat sebagai pelatih asing keempat yang pernah menukangi tim Samba setelah Ramon Platero (Uruguai), Jorge Gomes de Lima alias Joreca (Portugal), dan Filpo Nunez (Argentina).

Kedatangannya pada 12 Mei 2025 membawa kebangkitan bagi Brasil yang sempat terseok-seok di babak kualifikasi Piala Dunia termasuk ditaklukkan Uruguai 0–2 dan disikat Argentina 1–4.

Di sisa kualifikasi, Ancelotti membawa Brasil meraup 7 poin dalam empat pertandingan dan membawa mereka finis di posisi kelima.
Posisi kelima itu pun sebenarnya tak pantas untuk tim penyandang lima bintang di jerseinya. Harus bersyukur pula bahwa jumlah tim yang lolos otomatis atau langsung ke putaran final Piala Dunia 2026 dari zona Conmebol diperbanyak. Sampai dengan Piala Dunia 2022, kualifikasi zona Amerika Selatan hanya meloloskan langsung empat tim, sedangkan tim yang finis di posisi kelima harus menjalani play-off melwan tim dari konfederasi lain, biasanya Asia atau Oseania. Kalau Brasil yang harus menjalani play-off seperti itu, rasanya kurang elok.

Nama lain yang membuat Brasil tetap harus masuk daftar kandidat juara adalah Neymar, yang kembali masuk skuat Samba setelah absen sejak cedera dalam pertandingan melawan Uruguai pada 18 Oktober 2023.

Usia Neymar sudah 34 tahun. Boleh jadi kemampuannya telah menurun. Tapi, kehadirannya dipastikan membawa spirit tersendiri untuk rekan-rekan setimnya. Masih teringat di Piala Dunia 2014 saat Neymar cedera di perempat final versus Kolombia, Brasil lantas dihabisi 1–7 oleh Jerman di semifinal, yang menjadi rekor kekalahan terbesar tuan rumah sepanjang sejarah Piala Dunia.

Nah, bagaimana dengan calon lain? Finalis Piala Dunia 4 tahun lalu, Argentina dan Prancis, jelas harus dikedepankan. Sayangnya, Argentina sedikit mengalami masalah lantaran kondisi sang kapten Lionel Messi yang belum bugar setelah cedera sehingga ditarik keluar ketika klubnya Inter Miami menghantam Philadelphia Union 6–4 di ajang Major League Soccer (MLS) Amerika Serikat pada 25 Mei lalu.

Messi adalah motor penggerak Timnas Argentina. Tanpa Messi, keganasan tim Tango berkurang. Sementara itu, Prancis sedang dalam kondisi bahan bakar penuh dan siap lari kencang setelah klub terkuatnya, Paris Saint-Germain, back-to-back juara Liga Champions Eropa.

Memang, bomber PSG bukan lagi Kylian Mbappe, melainkan kapten Timnas Georgia Khvicha Kvaratskhelia yang mencetak 10 gol di Liga Champions musim terakhir. Tapi, kesuksesan PSG sepeninggal Mbappe itu bagaimanapun merupakan daya dongkrak luar biasa bagi skuat Les Bleus.

Apa lagi Mbappe sendiri menjadi top skor Liga Champions 2025–2026 dengan menjaringkan 15 gol. Artinya, Prancis dengan Mbappe plus spirit PSG adalah kekuatan yang siap meledakkan pertahanan lawan mana pun di Piala Dunia kali ini.

Nah, bagaimana dengan Jerman? Tim Panser juara Piala Dunia 2014, tapi gagal lolos dari fase grup di dua Piala Dunia berikutnya. Sedikit beruntung tim asuhan Julian Nagelsmann kali ini tergabung bersama Curacao, selain Pantai Gadng dan Ekuador.

Melawan Curacao, yang melawan Timnas Indonesia pun sempat menelan dua kekalahan meski di hanya laga uji coba, Jerman boleh jadi bakal pesta gol.

Selisih gol yang besar jelas akan membantu Jerman untuk lolos ke fase knock out minimal sebagai salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik di antara 12 tim.

Namun, untuk meraih gelar juara dunia kelima kalinya sehingga menyamai pencapaian Brasil, tentu bukan langkah mudah. Meski demikian, sebagai tim pemegang rekor terbanyak lolos 4 besar sepanjang sejarah Piala Dunia, 12 kali dari 20 keikutsertaan, skuat yang juga berjuluk Die Mannschaft layak dijagokan minimal lolos ke 8 besar, bahkan semifinal.

Sekarang kita lihat Spanyol. Melihat sejarah sejak Piala Dunia pertama, meskipun baru satu kali juara, nama Spanyol harus selalu diperhitungkan sebagai salah satu kandidat juara.

Itu “seharusnya”. Sayangnya, di Piala Dunia 2026 ini Spanyol mereduksi nilai mereka sendiri dengan keputusan pelatih Luis de la Fuente tidak menyertakan satu pun pemain Real Madrid, yang finis sebagai runner-up La Liga 2025–2026.
Menurut Fuente, ketiadaan pemain Madrid itu murni didasarkan pada performa, konsistensi bermain, dan kebutuhan taktik timnas, bukan karena sentimen klub.

Dia beralasan kebijakan transfer Real Madrid yang lebih mengandalkan bintang asing membuat talenta lokal mereka kesulitan mendapatkan menit bermain yang cukup di level klub.

Terlepas dari benar atau tidaknya pertimbangan tersebut, keputusan Fuente telah memicu kontroversi dan jelas itu menyurutkan kenyamanan suasana tim La Roja.

Bagaimana dengan Inggris dan Uruguai? Dengan berat hati, saya harus mencoret dua tim ini dari daftar kandidat juara. Mereka mungkin akan melaju ke fase kncok out, mungkin juga sampai 16 besar, tapi untuk juara, agaknya terlalu jauh.
Uruguai memang juara dunia dua kali, Tapi, itu terjadi untuk era yang terlalu jauh ke belakang.

Dengan tetap menghormati Federico Vakverde dan Jose Maria Gimenez, masa keemasan terbaru La Celeste dengan Diego Forlan, Luis Suarez, Edinson Cavani, dan Diego Godin sudah berakhir 8 tahun lalu.

Sementara itu, Inggris masih terus berkutat dengan kutukan akibat “gol hantu”-nya di final Piala Dunia 1966 ke gawang Jerman Barat menjadi salah satu skandal terbesar sepanjang sejarah event olahraga akbar ini.

Berulang kali menjadi favorit juara di Piala Dunia ataupun Euro (Piala Eropa), kenyataannya skuat Three Lions selalu gagal juara walaupun dengan anggota tim yang mentereng.

Besar kemungkinan itu terulang lagi di Piala Dunia 2026 meskipun jujur saja, sebagai penggemar sejumlah klub English Premier League, saya berharap prediksi ini meleset jauh. Semoga.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *