Saiful Mujani, Tuduhan Makar, dan Dogmatisme Politik

 

Oleh : AS Laksana, Penulis dan Sastrawan

Bacaan Lainnya

Indonesiadaily.net – Saiful Mujani dilaporkan ke kepolisian oleh Aliansi Masyarakat Jakarta Timur dan Presidium Kebangsaan 08 setelah ucapannya tentang Prabowo ditafsirkan sebagai tindakan makar. Identitas para pelapor, yang berbentuk aliansi atau kelompok dengan nama politis, dengan mudah membawa orang pada pertanyaan tentang motif pelaporan mereka. Tidak otomatis motif itu buruk, tetapi orang bisa curiga bahwa dalam tindakan mereka ada dorongan partisan yang menyaru sebagai kepentingan publik. Robina Akbar, yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Jakarta Timur, menyebut bahwa Saiful “berpotensi memecah belah rakyat Indonesia.”

Saya menyaksikan potongan video yang beredar di media sosial. Saiful mengatakan bahwa Prabowo tidak bisa dinasihati, dan itu berbahaya bagi Indonesia. Karena Indonesia tidak boleh dibiarkan dalam bahaya, dan mekanisme konstitusional tidak bisa diharapkan, satu-satunya cara untuk menyelamatkan Indonesia adalah menjatuhkannya. Kurang lebih seperti itu urut-urutan berpikirnya jika disederhanakan. Namun, saya tidak melihat versi utuh pendapatnya; saya tidak mendengar apa saja yang membuatnya menyimpulkan bahwa Prabowo berbahaya bagi Indonesia.

Sebagian orang setuju pada pernyataannya, sebab yang disampaikan Saiful hanya menggarisbawahi kekecewaan mereka pada pemerintahan yang mereka anggap tidak mau mendengar.

Sebagian lainnya, yang berpihak kepada kekuasaan, membangun keyakinan bahwa Prabowo adalah wujud nyata kepemimpinan yang harus dicintai dan didukung tanpa pertanyaan. Maka, yang tidak mencintai harus dilaporkan. Pujian Kementerian Komdigi, yang diunggah di Instagram beberapa waktu lalu, secara sempurna mewakili ekspresi cinta buta terhadap Prabowo:

“Perjalanan panjang, penuh pengorbanan. Dedikasi tanpa henti untuk negeri. Lebih dari sebuah komitmen, perjalanan Presiden Prabowo Subianto mengajarkan kita tentang bagaimana memperjuangkan hak rakyat dan memberikan yang terbaik untuk Indonesia.”

Pemujaan seperti itu kepada penguasa biasanya hanya mungkin diberikan oleh cinta buta, oleh ketundukan total, oleh perasaan tidak aman, oleh hasrat untuk dirangkul, atau oleh pikiran dogmatis. Politik dan kekuasaan adalah sumber dogmatisme, dan orang-orang dogmatis senang menyalahkan, memenjarakan, atau membunuh orang. Sejarah totalitarianisme, di belahan bumi mana pun, membuktikan hal itu.

*

Saya mencoba memahami frase “perjalanan Presiden Prabowo Subianto mengajarkan kita tentang bagaimana memperjuangkan hak rakyat dan memberikan yang terbaik untuk Indonesia” dan apa alasan bagi pujian itu.

Mungkin program Makan Bergizi Gratis adalah bukti utama bahwa presiden sedang “mengajarkan” bagaimana memperjuangkan hak rakyat. Tidak mungkin fase hidupnya sebelum menjadi presiden, meskipun pujian itu menyebut-nyebut perjalanan panjang dan dedikasi tanpa henti.

Katakanlah MBG sebagai salah satu bukti pengajaran. Nama program itu terdengar mulia, tujuannya juga mulia, ialah memberi makan bergizi kepada jutaan anak agar terbebas dari stunting, agar mereka tidak tumbuh menjadi manusia-manusia kuntet. Hanya orang-orang tandus hati yang akan menentang niat sebaik itu.

Program mulia itu diluncurkan dengan mulus. Pada tahun pertama, 2025, total anggaran Rp71 triliun. Tahun ini naik hampir lima kali lipat menjadi Rp335 triliun.

Ribuan anak sekolah keracunan sejak program itu diluncurkan. Presiden menyebut data: kasus keracunan 28 ribu, porsi MBG yang sudah dibagikan 4,5 miliar. “Dua puluh delapan ribu dari 4,5 miliar,” kata presiden, “itu kalau tidak salah adalah 0,0006 persen. Artinya tingkat keberhasilannya mencapai 99,9994 persen.”

Itu sangat tinggi. Dengan tingkat keberhasilan setinggi itu, kritik menjadi tidak masuk akal. Kritik lalu ditanggapi dengan serangan verbal “antek asing”, dengan teror terhadap pengkritik—Tiyo Ardianto mengalami hal ini—, dan dengan pernyataan-pernyataan bernada meremehkan dari mulut para pejabat.

Ada juga serangan balik yang menyasar moral. Para ibu yang mengunggah menu MBG di media sosial untuk mengabarkan ketidakberesan program itu disebut tidak bisa bersyukur, seolah-olah mereka kaum yang cacat moral. Orang-orang yang mengkritik MBG adalah melanggar HAM, kata Natalius Pigai.

Pendeknya, kritik terhadap program yang berhasil adalah upaya sabotase. Mungkin itu sebabnya presiden berencana menertibkan para pengamat.

Saya setuju bahwa program untuk kesejahteraan rakyat tidak boleh diganggu, dan saya tertarik pada persentase keberhasilan yang disampaikan oleh presiden. Dengan metode yang ia gunakan, program itu memang akan selalu memperlihatkan statistik keberhasilan besar, bahkan jika semua anak dan ibu hamil keracunan.

Penerima MBG sekarang ini kurang lebih enam puluh juta orang. Enam puluh juta dari empat setengah miliar, itu hanya 0,0133 persen. Maka, dengan enam puluh juta orang keracunan, presiden tetap bisa mengatakan bahwa tingkat keberhasilannya mencapai 99,9867 persen. Bagaimana jika seluruh penduduk Indonesia keracunan? Masih tetap tinggi. Masih mencapai 99,936 persen.

*

Mengapa suatu pemerintahan yang mengklaim mencintai rakyat, dengan presiden yang menyatakan rela mati demi rakyat, emoh mendengarkan suara rakyat? Jika ia mencintai rakyat, mengapa ia lebih senang membenarkan dirinya sendiri ketimbang mendengarkan beberapa keberatan dari kalangan rakyatnya? Ia membenarkan dirinya sendiri melalui statistik, melalui cerita bahwa negara-negara lain ingin belajar kepada Indonesia, melalui perbandingan antara MBG dan McDonald’s. Menurut berita, ia mendapatkan tepuk tangan meriah setelah menceritakan bahwa dalam setahun saja MBG mampu menyamai skala produksi McDonald’s, yang sudah beroperasi 86 tahun dan memiliki gerai di 120 negara.

Ia tidak mengharapkan kritik karena konsekuensi dari penerimaan terhadap kritik adalah evaluasi. Ia tidak mau program yang lahir dari kepalanya dievaluasi. Ia mau MBG tetap jalan, tidak peduli ada ribuan anak keracunan, atau menunya jauh dari klaim bergizi, atau ada tanda-tanda korupsi massal dalam pelaksanaannya. Dan, satu lagi, ia mau tentara ikut terlibat dalam semua program unggulannya, sebab tentara adalah orang-orang yang patuh, berotot, dan bersenjata. Dan ia tidak peduli efek sampingnya.

Apa sebetulnya alasan bagi kengototan ini? Jika tujuannya adalah kesehatan anak, bukti keracunan berulang dan protes orang tua terhadap menu MBG seharusnya menjadi alarm untuk evaluasi yang transparan, tetapi ia memilih meredam kritik. Dan ia ngotot dengan anggaran ratusan triliun meski mekanisme pengawasannya tidak memadai.

Stunting tentu harus diatasi, dan program untuk mengatasinya harus diawasi. Skeptisisme harus selalu diarahkan kepada badan pengelolanya. Kekuasaan besar untuk mengelola program skala nasional cenderung menarik korupsi, ketidakefisienan, dan kepentingan kelompok. Rakyat berhak mempertanyakan segala macam tentang program ini karena mereka yang membiayai, bukan presiden mengeluarkan uang pribadinya.

Pemerintah yang mencintai rakyat akan senang hati mendengar suara rakyat. Ia tidak akan memperlihatkan gestur: “Saya tahu yang terbaik, kalian hanya penghalang kemajuan.” Saya pikir bukan seperti itu gestur kekuasaan yang mencintai rakyat. Itu gestur penguasa yang mencintai citra dirinya sendiri.

Pemimpin yang mencintai rakyat tidak akan membela diri dengan statistik. Ia tidak akan mengatakan kepada para orang tua, “Anak sampean keracunan, tapi tenang saja, itu hanya 0,0006% dari total makanan yang kami berikan,” dan berharap orang tua itu tersenyum dan berterima kasih dan mengatakan, “Saya mensyukuri nikmat yang anda berikan ini.”

Melihat gestur kekuasaan yang ditunjukkan oleh Prabowo sejauh ini, saya sepakat terhadap pernyataan Saiful Mujani bahwa Prabowo tidak bisa dinasihati. Namun saya ragu bahwa untuk menyelamatkan Indonesia, satu-satunya jalan adalah menjatuhkan Prabowo. Saya pikir pernyataan Saiful hanya ekspresi spontan dari ketidaksabarannya melihat perangai kekuasaan yang selalu membenarkan dirinya sendiri, sebab kekuasaan yang senang membenarkan dirinya sendiri adalah sumber dogmatisme dalam politik: Penguasa tahu yang terbaik, dan ia hanya membutuhkan ketundukan total.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *