Setelah Indofarma, Kini Giliran Kimia Farma Disorot: FSP BUMN IRA Desak Bongkar Dugaan Korupsi

 

Indonesiadaily.net — Aroma tak sedap kembali menyelimuti tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor farmasi. Setelah kasus dugaan korupsi yang menyeret PT Indofarma Tbk, kini giliran PT Kimia Farma Tbk menjadi sorotan publik.

Bacaan Lainnya

Perusahaan farmasi pelat merah yang berada di bawah naungan Holding PT Bio Farma (Persero) tersebut tengah diselidiki oleh Kejaksaan Agung terkait dugaan korupsi dalam aksi korporasi pada tahun 2023. Kala itu, Kimia Farma melepas dan menerbitkan saham anak usahanya, Kimia Farma Apotek (KFA), senilai Rp1,86 triliun yang diborong oleh Indonesia Investment Authority (INA) dan Silk Road Fund Co. Ltd. (SRF) asal Tiongkok.

Sejak Maret 2025, penyidik Kejaksaan telah memanggil sejumlah pejabat Kimia Farma untuk dimintai keterangan. Proses penyelidikan ini memicu reaksi keras dari Federasi Serikat Pekerja BUMN Indonesia Raya (FSP BUMN IRA).

Sekretaris Jenderal FSP BUMN IRA, Ridwan Kamil, menyatakan bahwa pihaknya sudah lama mencium adanya kejanggalan dalam pengelolaan Kimia Farma. “Ini hanya mengonfirmasi dugaan kami selama ini bahwa ada banyak masalah tersembunyi di tubuh Kimia Farma,” ujarnya di Jakarta.

Ridwan menyoroti utang jumbo Kimia Farma yang mencapai Rp11,5 triliun, yang menurutnya menimbulkan pertanyaan besar mengenai tata kelola dan transparansi keuangan perusahaan. Ia pun mendesak Kejaksaan Agung untuk mengusut tuntas dugaan korupsi di perusahaan tersebut tanpa pandang bulu.

“Jangan setengah hati. Selidiki semua yang mencurigakan, buka semuanya ke publik. Ini momentum untuk bersih-bersih total,” tegasnya.

Ia menambahkan, dugaan korupsi di Kimia Farma menambah panjang daftar persoalan di tubuh BUMN Farmasi. Setelah Indofarma terseret kasus dugaan korupsi senilai Rp377 miliar, kini Kimia Farma menghadapi dugaan kasus dengan nilai yang lebih besar.

“Jangan-jangan, masalah yang sama juga terjadi di Bio Farma sebagai induk Kimia Farma dan Indofarma,” katanya.

Ridwan yang juga pernah menjabat sebagai Sekjen FSP BUMN Kesehatan menilai, BUMN Farmasi saat ini tengah berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Ia mendesak BPI Danantara selaku pemegang saham untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen Kimia Farma, termasuk jajaran direksi dan komisaris masa kini maupun sebelumnya.

“PT Bio Farma (Persero) harus berani mengakui kegagalan sebagai holding. Bukannya membawa kemajuan, yang terjadi justru sebaliknya—anak-anak usahanya seperti Kimia Farma dan Indofarma malah terjerumus ke jurang krisis,” pungkasnya.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *