Indonesiadaily.net-Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan menjadi bagian dalam acara Cultural Exchange Festival : Celebrating Cross – Cultural Heritage 2026. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kementerian Pelancongan, Seni dan Budaya, Malaysia. Acara diaksanakan tanggal 31 Oktober – 2 November 2026 di tiga museum yang ada di Melaka, Malaysia. Acara diikuti oleh delegasi dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, China dan Brunei Darussalam. Kegiatan ini merupakan bentuk pelestarian budaya kebaya dan pantun.
Indonesia melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan , Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia mengirimkan dua delegasi pembicara topik kebaya yakni Ketua Umum PBI, Rahmi Hidayati dan pembicara topik pantun, akademisi Prof. Dr. Elmustian. Kegiatan ini membuka ruang dialog dan diskusi atas capaian dan hasil pelestarian serta pelindungan warisan budaya bersama. Dalam diskusi panel dibahas pula langkah-langkah strategis serta upaya menangani berbagai kendala yang dihadapi antar negara dan organisasi penggerak budaya yang tentunya perlu ditindaklanjuti di kemudian hari.
Pameran 8 Rima Pantun berbagai bentuk menarik perhatian masyarakat melalui kegiatan interaktif membaca serta berbalas pantun bersama Agus Muare, budayawan pantun dari Kalimantan Barat. Selain itu, tiga kebaya khas Indonesia yakni kebaya Janggan, kebaya Noni dan kebaya Kutubaru karya desainer Arsita Resmisari melenggang manis di pameran serta fashion show kebaya yang dilaksanakan di Muzium Rakyat, Melaka, Malaysia. Cultural Exchange Festival juga menjadi ruang ekspresi bersama sehingga berbagai kreatifitas dan inovasi dalam kebaya dan pantun dapat disajikan dari masing-masing negara. Kementerian Kebudayaan senantiasa berperan aktif, terbuka dan mendukung kegiatan yang bertujuan melestarikan warisan budaya serta merumuskan berbagai kebijakan yang medukung kolaborasi dan kerja sama dalam pelaksanaannya.
“Ini kegiatan yang sangat strategis dalam upaya membangun kerjasama pelindungan dan pelestarian warisan budaya khususnya kebaya dan pantun hyang telah ditetapkan oleh UNESCO. Kami menyambut baik upaya antar negara dalam pelestarian kebudayaan yang merupakan warisan budaya bersama. Harapannya kegiatan ini terus diadakan setiap tahun sehingga kerja sama antar negara dalam upaya pelindungan warisan budaya terus terjaga,” ujar Basuki Teguh Yuwono, Staf Khusus Kementerian Kebudayaan, yang turut hadir di Istana Kesultanan Melaka, Malaysia.
Dalam kesempatan tersebut, Basuki menyampaikan bahwa budaya kebaya dan pantun telah mengakar dan tumbuh dengan baik di Indonesia. Lahirnya Hari Pantun dan Hari Kebaya Nasional merupakan wujud komitmen pemerintah dalam mendukung komunitas dan masyarakat dalam menumbuhkan berbagai kegiatan yang bertujuan mempromosikan budaya sebagai upaya pelestarian di berbagai wilayah Indonesia.
Dato’ Seri Tiong King Sing, Menteri Pelancongan, Seni dan Budaya Malaysia menyatakan, ”Acara ini digelar untuk memupuk pertukaran, mempromosikan persefahaman bersama dan merayakan warisan tak benda yang berkembang di negara-negara yang hadir pada acara tersebut. “The theme of the festival is Fostering Exchange, Promoting Mutual Understanding and Celebrating Intangible Cultural Heritage,” ujarnya. Menurutnya, tema ini amat signifikan dimana warisan tidak mengenal batasan negara. Tradisi boleh berkembang dalam masyarakat yang berbeda, melintasi antar negara, tetapi tetap mempunyai akar sejarah, nilai dan hubungan budaya yang saling berkaitan. Inilah keistimewaan warisan yang dilestarikan bersama. “Saya percaya hubungan yang dibina ini serta dikuatkan melalui festival ini akan terus berkembang menjadi kerjasama yang lebih kukuh dalam bidang perlindungan warisan, pendidikan, penyelidikan, pelancongan budaya dan pembangunan komuniti,” ujarnya.
Rangkaian acara sukses menarik perhatian banyak masyarakat umum yang menikmati berbagai pameran silang budaya, demonstrasi, persembahan kebudayaan, makanan dan warisan serta keterlibatan dalam kegiatan interaktif.





