Indonesiadaily.net – Industri televisi berita konvensional menghadapi tantangan serius di tengah pesatnya perkembangan teknologi media baru. Penurunan jumlah iklan, penyusutan pangsa pasar, serta pergeseran perilaku audiens menjadi sorotan utama dalam diskusi pengukuhan pengurus Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) di Jakarta International University.
Dalam forum tersebut, akademisi dan praktisi komunikasi mengingatkan pentingnya adaptasi media konvensional terhadap ekosistem digital yang semakin dominan. Salah satu pembicara, Dosen Komunikasi FISIP Uhamka, Taufan Hariyadi, menilai televisi berita konvensional masih terjebak pada pola lama yang tak sesuai dengan karakter audiens masa kini.
“Konten televisi berita konvensional itu sifatnya stickiness, di mana audiens bersifat pasif dan hanya terikat pada satu platform. Sementara media baru bersifat spreadable, memungkinkan audiens menjadi agen distribusi konten,” jelas Taufan.
Ia menekankan bahwa teknologi media baru telah mengubah peran audiens dari sekadar konsumen menjadi produsen konten. Hal ini membuat keterlibatan (engagement) pada media konvensional semakin menurun.
Hal senada disampaikan pengamat media digital, Rulli Nasrullah. Ia mengkritik masih banyaknya redaksi media konvensional yang memproduksi konten digital dengan pendekatan lama.
“Gaya penulisan, pengemasan visual, hingga pola interaksi harus disesuaikan. Tidak bisa lagi menggunakan pendekatan konvensional untuk platform yang sifatnya partisipatif dan interaktif,” ungkap Rulli.
Perbedaan teknologi antara televisi berita dan media berbasis internet juga berdampak pada perubahan peran televisi dalam konsumsi informasi masyarakat. Taufan menyebut televisi berita kini hanya menjadi layar kedua yang berfungsi sebagai validasi informasi, bukan lagi sumber utama.
” Jika konten televisi tidak bisa bekerja secara mobile, maka ia tidak akan bekerja sama sekali. Newsroom televisi harus menjadi hub distribusi konten untuk berbagai platform. Konvergensi bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan,” tegasnya.
Di akhir diskusi, para pembicara sepakat bahwa memperdebatkan media konvensional versus media baru adalah hal yang usang. Keduanya harus bersinergi dalam satu ekosistem media yang saling mendukung.
“Konten media hari ini harus bisa dibagikan, didiskusikan, bahkan dimodifikasi oleh audiens. Jika tidak bisa menyebar, maka ia akan mati. If it doesn’t spread, it’s dead,” tutup Taufan Hariyadi.(*)






