Indonesiadaily.net -Anggota DPRD DKI Jakarta, Lukmanul Hakim, menyayangkan keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mengganti nama Bank DKI menjadi Bank Jakarta. Menurutnya, perubahan tersebut terkesan terburu-buru dan mengabaikan sejarah kelam perbankan nasional.
“Saya sungguh menyayangkan proses perubahan nama yang kesannya sangat terburu-buru dan mengabaikan aspek kecermatan. Mengapa para pengelola tidak mencegah Gubernur Pramono memakai nama bank umum yang pernah dilikuidasi tahun 1997?” ujar Lukman dalam keterangannya.
Ia mengingatkan bahwa nama Bank Jakarta pernah digunakan oleh salah satu bank umum yang masuk daftar 16 bank dilikuidasi oleh pemerintah pada masa krisis moneter tahun 1997. Keputusan likuidasi tersebut ditetapkan melalui SK Menteri Keuangan Nomor 86/KMK.017/1997 yang diteken Menteri Keuangan saat itu, Mar’ie Muhammad.
“Bank Jakarta termasuk dalam daftar bank yang sudah ‘dikubur’ dalam sejarah perbankan nasional. Kurang elok rasanya kalau nama yang pernah dicoret digunakan kembali,” tegas politisi yang akrab disapa Bang Lukman itu.
Lukman juga mengajak semua pihak untuk tidak melupakan pelajaran dari kebijakan deregulasi perbankan pada era Paket Oktober (Pakto) 1988, yang menyebabkan menjamurnya bank-bank baru, namun banyak di antaranya tidak sehat secara manajerial maupun finansial. Akibatnya, krisis moneter 1997 memaksa pemerintah melikuidasi sejumlah bank demi menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung resmi meluncurkan nama dan logo baru Bank DKI menjadi Bank Jakarta pada Minggu (22/6/2025), bertepatan dengan perayaan HUT ke-498 Kota Jakarta. Perubahan nama ini disebut sebagai bagian dari transformasi Jakarta menuju kota global serta penyesuaian terhadap implementasi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta.
Identitas baru Bank Jakarta menampilkan logo berbentuk api Monas yang menjulang ke langit sebagai simbol aspirasi tanpa batas, dengan warna merah jingga yang diklaim lebih dekat dengan identitas Jakarta dan budaya Betawi. Meski sudah diluncurkan, pergantian identitas akan dilakukan secara bertahap selama masa transisi untuk menjaga kepercayaan nasabah dan mitra.
Meski mengkritisi, Bang Lukman tetap membuka ruang kompromi. Ia menyatakan siap mendukung keputusan tersebut jika memang telah final. “Kalau memang sudah bulat tekadnya, ya kita dukung. Tapi kalau masih bisa dipertimbangkan, saya kira akan lebih baik. Banyak nama lain yang bisa dipilih dan bersih dari jerat sejarah masa lalu,” pungkasnya.(*)






