Indonesiadaily.net – Daya beli masyarakat yang kian menurun akibat gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan membuat penjualan hewan qurban memiliki tantangan berat pada tahun ini.
Haji Doni, pemilik Mall Hewan Kurban di Cimanggis, Kota Depok, mengungkapkan bahwa hingga pertengahan Mei 2025, pihaknya telah menjual sekitar 5.500 ekor sapi dari lima outlet. Mayoritas sapi yang terjual berada di kisaran harga Rp17 juta hingga Rp30 juta, menyesuaikan dengan kemampuan masyarakat kelas menengah ke bawah.
“Permintaan tertinggi ada di kelas middle low. Ekonomi masyarakat sedang tidak baik-baik saja, jadi banyak yang memilih sapi dengan harga terjangkau,” ujar Haji Doni.
Berdasarkan data yang dihimpun, penurunan daya beli ini sejalan dengan laporan yang menyebutkan bahwa konsumsi daging sapi masyarakat menurun hingga 35 persen menjelang Lebaran 2025. Hal tersebut dipicu oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi sejak awal tahun.
Meski demikian, Haji Doni optimis dengan stok sapi yang tersedia. “Kami siapkan sekitar 8.000 ekor sapi tahun ini, dengan penambahan stok dari Sumatra untuk memenuhi permintaan,” katanya.
Menariknya, permintaan dari luar negeri justru meningkat. Donatur dari negara-negara seperti Turki, Azerbaijan, dan Inggris berkontribusi signifikan dalam penjualan sapi kurban. “Data dari rekan-rekan kami menunjukkan bahwa hampir 3.800 ekor sapi kurban berasal dari donatur luar negeri untuk Indonesia,” ungkap Haji Doni.
Tren pembeli juga menunjukkan partisipasi dari berbagai kalangan, termasuk sekolah-sekolah. Salah satunya adalah Sekolah Karisma Bangsa di Pondok Cabe yang membeli 180 ekor sapi untuk kegiatan kurban.
Dengan adanya dukungan dari donatur luar negeri dan partisipasi berbagai pihak di dalam negeri, pasar sapi kurban di Indonesia tetap bergairah meski menghadapi tantangan ekonomi.(*)






