Anak Sering Diganggu Teman, Bolehkah Membalasnya?

Ilustrasi bullying.(istimewa/indonesiadaily.net)

Indonesiadaily.net – Memiliki teman yang mengganggu pernah dialami oleh banyak anak. Gangguan yang diberikan beragam, mulai dari meledek, menyenggol, mendorong, hingga memukul. Anak mungkin merasa risih dan kesal akan hal ini. Namun, bolehkah mereka membalasnya?

Menurut psikolog anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, sebaiknya anak tidak diajarkan untuk membalas apa yang dilakukan oleh temannya dengan menggunakan kekerasan. Bukan tanpa alasan, hal ini nantinya akan membuat anak selalu memakai kekerasan untuk menyelesaikan masalah.

Bacaan Lainnya

“Sebaiknya anak tidak diajarkan membalas dengan kekerasan. Hal ini berisiko anak akan memakai kekerasan seterusnya untuk menyelesaikan masalah,” sambung Vera.

Dalam kesempatan yang sama, Vera juga mengungkapkan bahwa orangtua bisa ajarkan anak untuk mempertahankan dirinya dari teman yang mengganggu ketika sudah merasa tidak nyaman. Ajarkan juga agar anak mengungkapkan rasa tidak sukanya terhadap perlakuan tersebut.

“Sepanjang sudah tidak nyaman, anak boleh mempertahankan dirinya dan menyatakan tidak suka dengan perlakukan temannya dengan sikap tegas tanpa rasa takut,” ujar Vera.

Tidak hanya itu, orang tua juga bisa
katakan pada anak untuk melibatkan guru dalam setiap permasalahan. Ketika ada anak yang mengganggu, jangan sungkan untuk melaporkan hal tersebut.

“Dorong anak untuk minta bantuan guru untuk menyelesaikan masalah dan tidak sungkan untuk lapor pada orang tua,” tuturnya.

Lalu bagaimana tindakan yang harus dilakukan anak jika ada temannya yang mengganggu.

1. Tetap tenang

Jangan terpancing emosi untuk marah-marah atau balas pukul anak tersebut. Upayakan untuk tetap tenang dan jaga kestabilan emosi. Apabila orang tua dari anak yang memukul anak Anda tidak merespons, segera ambil tindakan langsung.

“Datangi dan tanyakan apakah anak baik-baik saja. Dengan tenang katakan kepada teman anak bahwa sepertinya dia menyakiti  dan membuatnya sedih. Lakukan tanpa emosi. Ini bisa memberi isyarat kepada orang tuanya untuk mengambil sikap,” ujar psikolog klinis Emily Edlynn, PhD, mengutip dari Parents.

2. Perhatikan kondisi sekitar

Dalam kondisi tertentu, orangtua juga bisa melatih anak untuk memperhatikan kondisi sekitar tempat ia bermain. Jika situasinya serius, lebih baik tinggalkan area tersebut dan cari orang dewasa untuk melapor atau meminta pertolongan.

Hal yang pasti, sampaikan juga pada anak untuk selalu berkata jujur dan tidak melebih-lebihkan cerita saat melapor.

3. Ajarkan anak memaafkan

Sampaikan pada anak untuk bisa memaafkan dan memilih bermain di tempat lain jika memang ada. Hindari menyuruhnya balas kasar atau memukul. Ini malah akan membuat anak berkarakter agresif dan mudah marah.

Dikutip dari laman Very Well Family, katakan pada orang tua dari anak yang memukul untuk saling memahami. Pemilihan kata yang tepat dan tetap tenang menjadi kunci pentingnya agar tidak ada pihak yang jadi tersinggung.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *