TimNas Amin Bocorkan Gagasan Atasi Krisis Pangan Dalam Negeri

Ilustrasi beras impor. Foto : freepik

Indonesiadaily.net, Jakarta – Wakil Deputi Petani & Nelayan Tim Nasional Anies Muhaimin atau AMIN, Syaiful Bahari ungkap terobosan dan gagasan pasangan nomor urut 1 untuk menghadapi krisis pangan.

Bahari mengatakan di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo alias Jokowi impor beras kerap dilakukan dan terus bertambah hingga 2024, menciptakan polemik signifikan.

Bacaan Lainnya

Ia menjelaskan bahwa peningkatan drastis dalam impor ini terkait dengan penurunan produksi sejak 2019, pertumbuhan konsumsi yang terus meningkat, dan ketidakpastian pasar global.

“Dulu, beberapa tahun lalu, impor pangan tidak menjadi masalah karena negara produsen dan eksportir bisa mengekspor dengan mudah. Namun, sekarang kita menghadapi dua permasalahan utama,” jelas Bahari dikutip dalam tayangan CNBC Indonesia.com, Rabu (17/1/2024).

Ia mengerangkan bahwa produksi dalam negeri terus menurun sejak 2019, sementara konsumsi bertambah dengan populasi Indonesia mencapai 270 juta jiwa dan lahan pertanian yang stagnan hanya sekitar 10,6 juta hektar.

“Situasi global, seperti ketidakpastian pasar dan sulitnya negara produsen mengekspor beras, juga turut berkontribusi pada kenaikan harga pangan di Indonesia,” terang Bahari.

Berdasarkan data produksi pada awal Januari 2023, menunjukkan hasil panen gabah kering hanya 62 juta ton dari lahan 10,6 juta hektar, dan setelah diolah hanya menjadi 27 juta ton beras.

“Dengan konsumsi rata-rata 30-32 juta ton per tahun, defisit pangan mencapai 3 juta ton atau bahkan lebih,” katanya.

Untuk itu, pasangan Amin memiliki strategi konkret untuk mengatasi defisit pangan dan meminimalisir ketergantungan pada impor, salah satunya melalui program reformasi agraria yang menargetkan penambahan lahan pertanian.

“Reformasi agraria kami mencakup pemanfaatan tanah terlantar, pengembangan di berbagai wilayah, dan yang paling penting, peningkatan penggunaan lahan kering,” ungkap Bahari.

Ia mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi lahan kering sekitar 60 juta hektar dan jika dapat mengembangkan riset, bibit, dan teknologi di lahan tersebut, maka dapat meningkatkan produktivitas dan mengurangi defisit pangan.

“Lahan kering selama ini sering diabaikan, padahal memiliki potensi besar. Varietas lokal dan keberlanjutan pertanian dapat dihasilkan dari pengembangan lahan kering ini,” tegasnya.

Dengan menggabungkan pendekatan reformasi agraria, pengembangan lahan kering, dan investasi dalam riset pertanian, AMIN berharap dapat memberikan solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis pangan yang sedang dihadapi oleh Indonesia. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *