Suchjar Effendi Sebut Perkawinan Dinasti Suharto dan Dinasti Jokowi Manfaatkan Instrumen Kekuasaan

Direktur World University Service Indonesia-WUSKI Suchjar Effendi. Foto : Istimewa

Indonesiadaily.net, Jakarta – Melihat deretan nama-nama yang berada di Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran saat ini semakin jelas road map menuju pemerintahan neo otoritarian.

Hal itu bagai upaya untuk memutar kembali jarum jam demokrasi hasil reformasi 1998 yang diperjuangkan mahasiswa dengan dukungan masyarakat luas, dengan darah dan air mata.

Bacaan Lainnya

Setelah berbagai upaya Jokowi untuk memperpanjang masa jabatannya kandas, jalan terakhirnya itu adalah melakukan Kudeta Konstitusi.

“Ada perkawinan politik, ketika Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman dinikahkan dengan adik kandung Jokowi,” kata Suchjar Effendi, Direktur World University Service Indonesia-WUSKI dalam keterangannya.

Suchjar Effendi menjelaskan jika perjodohan itu berlanjut dengan diusulkannya Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden Prabowo dan disahkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) yang dimana Ketua MK juga merupakan paman dari Gibran.

Lebih lanjut, Suchjar Effendi menuturkan, hadirnya Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) dapat dikatakan berhasil memutus salah satu mata rantai upaya Jokowi menguasai seluruh lembaga negara di negara Indonesia ini.

“Walaupun Gibran masih tetap menjadi cawapres Prabowo karena keputusan MK itu final, tidak berarti permainan catur nasional itu selesai,” jelasnya.

“Ada banyak jalan menuju Roma untuk mayoritas masyarakat yang memperjuangkan demokrasi di negeri ini,” imbuhnya.

Suchjar Effendi menerangkan, bahwa perkawinan dinasti Suharto dan dinasti Jokowi yang memanfaatkan berbagai instrumen kekuasaan dengan cara legal dan illegal, maka nantinya akan ada perlawanan balik serta bergelombang dari masyarakat luas.

“Sejarah menunjukkan pada kita, kekuatan sebesar apapun, baik dana, senjata, taktik devide impera akan berakhir dengan keruntuhan rezim yang mencoba memutar jarum jam peradaban kembali ke jaman kekuasaan tirani,” bebernya.

Selain itu, menurutnya, rakyat saat ini tidak percaya lagi dengan rezim yang bermuka seribu, pandai bersandiwara dan melakukan berbagai trik untuk menyandera para lawan politiknya.

“Tidak hanya mayoritas masyarakat yang sudah jenuh dan muak dengan berbagai sandiwara kekuasaan, tapi seluruh dunia kini sadar, ada kelainan terjadi di negeri ini,” paparnya.

Popularitas Jokowi selama ini, kata Suchjar Effendi, hanyalah hasil dari polesan lembaga survey yang merekayasa berbagai pertanyaan yang tidak mencerminkan keadaan masyarakat sebenarnya.

“Tipu muslihat rezim sudah terkuak, bagai raja telanjang,” ketusnya.

Sementara, situasi perkembangan geopolitik dan geoekonomi akan menimbulkan multi krisis di seluruh dunia, termasuk di negeri ini.

“Jika fundamental ekonomi retak dan suasana politik domestik semakin membara, kita tahu akan bermuara ke arah mana negeri ini akan terdampar,” tukasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *