Indonesiadaily.net – Ketegangan meningkat di Gaza, di mana Israel telah mengescalasi operasi daratnya. Hamas mengungkapkan bahwa para pejuangnya tengah terlibat dalam pertempuran intensif, di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional dan seruan untuk gencatan senjata.
Seruan kemanusiaan tersebut menguat sejalan dengan peningkatan kebutuhan bantuan bagi penduduk Palestina, menyusul pekan-pekan pengepungan dan serangan udara yang mematikan. Pemimpin global kini menyerukan peningkatan bantuan ke wilayah Gaza, sementara demonstran di berbagai negara turun ke jalan menuntut gencatan senjata.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah mempersiapkan negaranya untuk menghadapi konflik yang ia sebut sebagai “perang yang panjang dan sulit”. Meski menghadapi desakan internasional dan potensi risiko humaniter, Israel tampaknya meningkatkan serangannya sebagai respons terhadap aksi militan Hamas.
Menurut laporan AFP, pada 7 Oktober, militan Hamas melancarkan serangan lintas perbatasan ke Israel yang menewaskan 1.400 orang, sebagian besar di antaranya adalah warga sipil. Serangan tersebut juga menyebabkan 239 orang hilang, termasuk banyak pekerja migran, sebagaimana diinformasikan oleh juru bicara militer Daniel Hagari.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan di Gaza mencatat bahwa serangan balik dari Israel telah merenggut lebih dari 8.000 nyawa, dengan separuh di antaranya adalah anak-anak. PBB menyebutkan bahwa lebih dari setengah dari 2,4 juta penduduk Gaza kini mengungsi, dengan ribuan infrastruktur penting hancur.
Brigade Ezzedine al-Qassam, sayap militer dari Hamas, menyatakan pada Minggu bahwa mereka tengah berkonfrontasi dengan pasukan Israel di barat laut Gaza. Sebagai respons, militer Israel menyatakan bahwa mereka telah memasuki “tahap” baru dalam konflik ini dengan melancarkan operasi darat sejak Jumat malam lalu, menggantikan dua serangan pendahuluan yang dilakukan lebih awal pekan ini. (*)






