Indonesiadaily.net – Krisis populasi yang melanda Jepang, membuat banyak warga yang tidak mau memiliki anak. Sampai-sampai angka kelahiran di negara tersebut turun drastis. Hal tersebut pun memunculkan pertanyaan, kondisi seperti apa yang diinginkan wanita Jepang agar mereka mau memiliki anak.
The Nippon Foundation mensurvei sekitar 10.000 wanita berusia antara 18 hingga 69 tahun untuk mencari tahu pendapat para wanita Jepang perihal masalah penurunan angka kelahiran. Ternyata, tidak seluruhnya setuju kalau uang adalah masalah yang paling besar untuk membesarkan anak.
Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengatakan, pihaknya akan membuat kebijakan untuk menaikan anggaran dua kali lipat untuk anak pada awal tahun 2030. Tetapi, ternyata hanya 20,9 persen responden yang setuju kalau anggaran menjadi masalah utama dalam masalah tersebut. Sementara itu, 15,2 persen responden mengatakan kenaikan tersebut tidak realistis, karena situasi keuangan Jepang dalam kondisi buruk.
Selanjutnya, ada 36,3 persen responden berpendapat, tindakan nyata lebih penting daripada jumlah uang yang dikeluarkan.
Mengenai cara membayar anggaran terkait anak, banyak responden yang menentang kenaikan pajak dan menambah beban terkait jaminan sosial. Hal itu tercermin dari 74,6 persen responden yang menentang kenaikan pajak konsumsi untuk tujuan tersebut.
Hanya 6 persen responden menyebut langkah-langkah pemerintah untuk menaikan angka kelahiran akan efektif. Sementara 33,6 persen mengatakan, kebijakan pemerintah akan berdampak kecil dan 21 persen mengatakan tidak akan berpengaruh sama sekali.
Sebuah lembaga bernama Badan Anak dan Keluarga didirikan pada April lalu, berfokus pada bidang kemiskinan masa kanak-kanak, penurunan kelahiran, dan pelecehan anak. Namun mengacu pada survei ini, sebanyak 23,3 persen responden mengaku tidak menaruh harapan apa pun pada agensi tersebut. Bahkan, ada yang mengaku sama sekali tidak tahu bahwa ada agensi tersebut. (*)






