Tak Hanya Orang Dewasa, Hipertensi Juga Terjadi Pada Anak, Seperti Apa?

Hipertensi pada anak.(istimewa/indonesiadaily.net)

Indonesiadaily.net – Hipertensi atau tekanan darah tinggi tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tapi juga hipertensi juga terjadi pada anak dan remaja. Lalu, seperti apa hipertensi yang juga terjadi pada anak, berikut penjelasannya.

Dokter Anak Konsultan Nefrologi Prof. Dr.dr. Syarifuddin Rauf, Sp.A (K) mgengatakan, hipertensi pada anak memberikan dampak pada kesehatan kardiovaskular pada masa dewasa, karena pengerasan pembuluh darah (aterosklerosis) telah berlangsung sejak masa anak.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, hipertensi pada anak dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit tertentu dan hipertensi yang tidak disebabkan oleh penyakit, yang dikenal sebagai hipertensi primer/esensial dan hipertensi sekunder.

“Berdasarkan faktor risikonya, hipertensi pada anak dibedakan menjadi 2 yaitu hipertensi primer/esensial dan hipertensi sekunder,” kata Prof. Syarifuddin seperti dikutip dari laman CNBCIndonesia.com.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Hipertensi Primer dapat terjadi dengan sendirinya, tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi. Jenis hipertensi ini lebih sering terjadi pada anak yang usianya lebih tua, misalnya 6 tahun ke atas.

Faktor risiko yang dikaitkan dengan terjadinya hipertensi esensial adalah riwayat hipertensi dalam keluarga, obesitas, berjenis kelamin laki-laki, dan memiliki diabetes tipe 2 atau kadar gula darah tinggi.

Sedangkan Hipertensi Sekunder bisa terjadi karena disebabkan oleh kondisi lain, dan memang lebih sering terjadi pada anak-anak. Penyebab dari hipertensi ini meliputi penyakit ginjal kronis, penyakit ginjal polikistik, masalah jantung, seperti penyempitan parah (koarktasio) aorta, gangguan adrenal dan hipertiroidisme.

Hipertensi pada anak biasanya tidak menimbulkan gejala di tahap awal penyakit. Akan tetapi, ada beberapa tanda yang bisa mengindikasikan anak sedang mengalami keadaan darurat akibat tingginya tekanan darah.

Pada bayi baru lahir, hipertensi dapat memberikan gejala sesak napas, berkeringat, gelisah, pucat/sianosis, muntah, dan kejang. Pada anak yang lebih besar, gejala dan tanda berikut ini perlu dipikirkan kemungkinan hipertensi: rasa lelah, kejang, penurunan kesadaran, sakit kepala, mendadak penglihatan kabur, mual, perdarahan hidung (mimisan), nyeri dada, kenaikan berat badan yang tidak adekuat, perawakan pendek, dan kelumpuhan otot.

Secara umum, penanganan hipertensi pada anak tidak jauh berbeda dengan orang dewasa. Beberapa cara berikut dapat membantu mencegah sekaligus mengatasi hipertensi seperti menerapkan diet hipertensi, biasakan anak aktif bergerak, jauhkan anak dari asap rokok, konsumsi makanan sehat, kurangi asupan garam, dan berikan obat penurun tekanan darah sesuai anjuran dokter.(*)

Editor : Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *