Indonesiadaily.net – Tantangan ekonomi RI yang “terjebak” di angka 5% yakni pembangunan berlandaskan strategi utang sehingga sulit untuk tumbuh tinggi. Oleh karena itu, menurut Mantan Menko Perekonomian RI 2000-2002, Rizal Ramli diperlukan strategi penguatan bidang pangan, energi dan teknologi sebagai kunci untuk menjadi negara dengan ekonomi yang kuat.
Demikian disampaikan DR Rizal Ramli dalam talk Show yang bertajuk “Your Money Your Vote” kali ini mengulas kinerja Pemerintahan Presiden Jokowi selama hampir sepuluh tahun terakhir dan apa saja yang akan menjadi PR Capris 2024 berikutnya.
“Janjinya pemerintah Jokowi kan ekonomi tumbuh 7 %. Kenapa ga kesampaian ? Tentu memang ada faktor-faktor covid tapi ada hal-hal yang lebih fundamental lagi,” ujar Rizal.
“Kenapa ekonomi Indonesia tidak bisa tumbuh ke atas 5 % karena kita ikut model pembangunan tergantung kepada utang,” imbuhnya.
Ia pun memberikan contoh negara yang mengejar ketinggalan dari Barat seperti Jepang, China, Korea tidak menggantungkan berlandaskan utang. Jepang, China Korea berlandaskan pada strategi dan kebijakan. Misalnya Jepang terkenal bagaimana strategi industrialisasinya, eksport. Demikian juga negara Korea.
Sementara kata Rizal Ramli kita sudah terbius dengan hutang, tergantung dengan hutang, pejabatnya sama sekali tidak kreatif merumuskan policy dan kebijakan. Sebagai contoh : setiap quota import pejabatnya mendapat sogokan.
Jadi kata Rizal, paling gampanglah misalnya kalau beras itu bisa dapat 20 dollar/ton. Kalau import 1 juta ya tinggal dikalikan saja. Import bawang putih saja 17 triliun, dibagi dengan pejabat 1 triliun, pengusaha pemegang quota 16 triliun, masih pesta.
Kemudian Bang RR menyebutkan pidato Jokowi harusnya diperintahkan untuk Trisakti. Misalnya soal pangan yaitu kemandirian bidang pangan. Yang ada import-import melulu. Kenapa ? Dia setiap kali mengangkat pejabat, dipilih pejabat orang yang mau cari uang dari kewenangan jual atau kasih quota import.
“Selama hal ini tidak dibersihkan maka kita akan terus bermasalah. Karena negara besar seperti Indonesia itu harus bisa punya kedaulatan dalam bidang pangan, energi juga teknologi. Jika tidak maka akan mudah dilumpuhkan oleh negara lain,” tukasnya
Ia merasa bingung, semua capres diminta untuk melanjutkan program Jokowi. Mohon maaf, program Jokowi bikin hutang kebanyakan, yang miskin dan pengangguran mamin banyak
“Jangan gitulah, itu ga becus kok. Mau diteruskan, dipaksakan kepada capres yang baru. Capres yang baru mestinya lebih kreatif,” pintanya
“Saya kasih contoh soal food estate, menghabiskan puluhan triliun hasilnya nol. Apa memang itu satu-satunya cara untuk meningkatkan produksi pangan? Ya kaga lah,” sanggahnya
Kemudian Mantan menko ini menyampaikan jalan keluar dengan prinsip sederhana yaitu membuat petani mendapatkan keuntungan. Begitu mendapatkan keuntungan maka petani sendiri yang akan menaikkan produk. Sebagai contoh ketika dirinya saat menjadi menko tahun 2000 – 2001. Menaikkan produksi pangan caranya yaitu kesatu, hapuskan kredit macet petani karena kalau tidak dihapuskan kreditnya maka petani akan diuber-uber dan disikat tanahnya.
Cara yang kedua lanjut Rizal, yaitu menaikkan insentif buat petani supaya untungnya lebih besar. Ratio harga gabah dengan harga pupuk yang tadinya 1,5, yang 1 nya untuk pupuk
“Petani semangat, dapat untung, petani menaikkan sendiri produksi, selama dua tahun Indonesia tidak perlu import beras,” ujarnya lagi
Lanjut Rizal, kalau mau lebih jauh meningkat, naikkan ratio gabah pupuk dua kali lipat. Pasti pengusaha-pengusaha mau pada ikutan, mereka bikin sawah sendiri, menaikkan produksi sendiri. Karena mana ada sektor yang untungnya 100% pertahun meski untung kotor.
“Inilah contoh bedanya membangun dengan strategi dan kebijakan dibandingan dengan membangun berdasarkan hutang,” tandas Rizal
“Kita bisa ubah Indonesia lebih maju tumbuh diatas 12% seperti halnya China, Jepang yang mengandalkan stategi dan policy. Tentu syaratnya korupsi dan KKN harus dihapus. Ini yang nyolongnya kebanyakan, lihat aja kasus yang 349 Triliun. 23 miliar dollar – 349 T ini skandal terbesar di dunia.,” tutupnya. (*)
Editor: Pebri Mulya






