Indonesiadaily.net – Saat si kecil mulai mencicipi makanan padat, ia akan belajar membedakan rasa dan tekstur dari berbagai makanan. Di sinilah perjuangan orang tua dimulai. Kebanyakan orangtua berharap anaknya bisa makan sesuai porsi dan menu yang mereka siapkan. Namun, tidak semua makanan yang disiapkan ibu atau ayah bisa dihabiskan oleh si kecil. Hal ini lantas membuat orangtua frustrasi dan menekan anaknya untuk makan. Namun, tahukah Anda memaksa anak makan memiliki dampak negatif, apa saja itu?
Dilansir dari Baby Destination, berikut tujuh efek buruk memaksa balita makan yang perlu diketahui para orangtua:
1 Anak kehilangan nafsu makan
Ayah atau ibu yang terus menerus marah dan menyuapkan makanan secara paksa akan membuat si kecil kehilangan napsu makan.
Memaksa anak untuk menelan menu yang disediakan orangtua lama kelamaan membuat mereka memiliki hasrat untuk memuntahkan seluruh makanannya. Lama kelamaan si kecil akan membenci rutinitas makan jika ayah atau ibu terus memberi paksaan.
2.Trauma terhadap makanan
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang dicekok paksa pada akhirnya mengalami trauma terhadap makanan. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual atau sakit perut setelah si kecil menelan makanan. Trauma dapat berlanjut hingga dewasa dan si kecil berisiko mengalami eating disorder atau gangguan makan, obesitas, anoreksia, hingga bulimia, jika kondisi ini tidak tertangani.
3. Membuat anak merasa stres
Sudah menjadi sifat manusia untuk menghindari apa pun yang menyebabkan stres atau ketidaknyamanan. Memaksa anak makan bisa membuat anak merasa stres, tegang, dan ketakutan. Hal tersebut lambat laun membuat anak-anak menghindar dari momen makan.
4. Kecenderungan terhadap makanan manis atau junk food
Anak yang dipaksa makan mungkin tidak pernah diajarkan kapan harus berhenti atau kehilangan respons terhadap perasaan kenyang. Hal ini terjadi karena mereka terbiasa mengonsumsi makanan secara berlebihan demi memuaskan orangtua. Jika dibiarkan, balita akan memiliki kecenderungan untuk ngemil di luar jam makan. Camilan yang mereka pilih pun rata-rata junk food atau makanan manis yang tidak baik untuk kesehatan tubuh.
Sebagai orang tua, fokus utama Anda adalah membiasakan si kecil untuk mandiri. Jadi, semakin sering Anda menyuapi, anak-anak justru kehilangan kendali akan diri sendiri. Ini akan menghambat kehidupan dan kebiasaan makannya bahkan saat ia tumbuh dewasa. Memaksa anak untuk makan atau menghabiskan seluruh makanan yang disiapkan orangtua dapat memberi dampak negatif.
Efek buruk memaksa anak makan antara lain mengakibatkan si kecil kehilangan napsu makan hingga trauma yang memicu gangguan makan hingga anoreksia.
Hal pertama untuk mengatasi anak rewel dan susah makan adalah bersabar. Pasalnya, kemarahan orangtua justru membuat anak-anak trauma terhadap sesi makan. Selain bersabar, berikut beberapa cara mengatasi anak susah makan yang dapat diterapkan ayah dan ibu terapkan jadwal makan pada anak secara teratur.
Hal ini berguna agar nantinya si kecil dapat mengetahui kapan merasa lapar dan kenyang. Biasakan makan bersama di meja makan. Orangtua juga perlu menunjukkan bagaimana tata cara makan yang baik kepada si kecil. Jangan paksa anak mengonsumsi porsi makanan yang terlalu banyak. Batasi camilan.
Hal ini agar si kecil tidak kekenyangan dan saat lapar ia mampu menghabiskan makanan apa pun yang tersedia untuknya. Libatkan anak dalam membersihkan bahan makanan, memasak, hingga menghidangkan di meja makan.
Aktivitas ini dapat meningkatkan ketertarikan terhadap makan. Kreasikan makanan agar terlihat lebih menarik. Misalnya, dengan membuat bento aneka bentuk atau menawarkan aneka buah dan sayuran berwarna cerah.
Setelah mengetahui dampak negatif memaksa anak makan, orangtua sebaiknya tidak lagi meneruskan kebiasaan ini dengan dalih pemenuhan nutrisi sang buah hati.
Cobalah untuk mengatasi anak susah makan dengan cara alami, mulai dari menerapkan jadwal hingga kreasi menu. Jika si kecil masih sulit makan, ayah dan ibu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis anak dan ahli gizi.(*)
Editor : Nur Komalasari





