Indonesiadaily.net – Di puncak acara HUT ke-15 Partai Gerindra yang diselenggarakan DPC Partai Gerindra Kota Depok, di Lapangan Kopelindo Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Sabtu (11/2/2023) belasan Odong-odong dikerahkan untuk membawa ratusan kader.
Seperti yang disampaikan koordinator Kader politikus Gerindra Yeti Wulandari dari Cisalak, Heru Siswanto, 36 tahun, timnya diminta untuk mengerahkan kader ke Lapangan Kopelindo menggunakan Odong-odong.
“Dari tim saya ada 12 mobil (Odong-odong), sekitar 150 orang yang naik mobil,” kata Heru.
Dia menuturkan, rata-rata yang menggunakan Odong-odong dari kalangan emak-emak, karena menilai lebih praktis dan pengap dibanding angkutan kota (Angkot).
“Kalau Odong-odong kan terbuka semuanya ya, jadi banyak yang mau naik odong-odong,” ujar Heru.
Pemilik Odong-odong, Dalih, 39 tahun mengungkapkan, dirinya kerap disewa Timses dari politikus atau calon kepala desa (Kades) untuk kampanye.
“Ada saja yang minta, buat anter orang-orang ke acara partai,” tutur warga Cileungsi ini.
Hari ini, dirinya bersama tiga orang temannya membawa empat Odong-odong dari Cileungsi membawa puluhan kader Gerindra di Cimanggis.
“Kalau sekarang masih belum ramai, biasanya pas musim kampanye, itu sebulan bisa empat kali sewa borongan, bisa lebih,” ujarnya.
Dalih mengungkapkan, tarif sewa yang dikenakan tergantung jarak ke lokasi acara, mulai dari Rp400 ribu hingga Rp700 ribu.
“Misalnya dari Cileungsi ke Taman Bunga Cibubur itu kena Rp400 ribu, kalau sewa yang sekarang itu Rp600 ribu. Paling jauh pernah dari Cileungsi ke Ragunan (Kebun Binatang Ragunan Jakarta), itu bisa Rp700 ribu,” ungkap Dalih.
Dalih menjelaskan, dirinya tergabung dalam komunitas Sopir Odong-odong, sehingga untuk sewa bisa saling koordinasi dengan rekan-rekannya.
“Tiap ada acara dikabarin dari mana, misalkan dari kranggan, Cikeas atau ke Depok, asal sewanya cocok dan kita bisa, ya kita ambil,” jelas Dalih.
Dalih mengatakan, meski lebih besar pendapatan dari sewa borongan. Namun, hal itu tidak tiap hari ada. Sehingga, ketika tidak ada sewa borongan, dirinya berkeliling kampung.
“Itu sih jarak dekat ya, orang dewasa Rp10 ribu, anak-anak Rp5 ribu, paling rata-rata dapat Rp150 ribu sampai Rp200 ribu, itu masih kotor belum dipotong bensin,” katanya.
Dalih menjelaskan, dirinya sejak 2012 menjalani profesi sopir Odong-odong, bermodalkan Rp25 juta, dia merombak mobil Toyota Kijang tahun 1986 menjadi Odong-odong.
“Tapi tidak termasuk speaker dan alat-alat elektroniknya. Alhamdulillah sampai sekarang,” ucap Dalih. (*)






