Indonesiadaily.net – Pada 21 tahun lalu tepatnya tanggal 22 Januari 2002, menjadi momen berduka untuk wilayah Aceh. Dimana Abdullah Syafi’i yang merupakan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wafat.
Abdullah Syafi’i yang akrab disapa Teungku Lah meninggal dalam pertempuran sengit dengan pasukan TNI di hutan kawasan perbukitan Jim-jim, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya.
Saat konflik terjadi di Aceh, Teungku Lah merupakan salah satu tokoh dan elite GAM yang paling disegani. Bahkan, saat kepergiannya kala itu menyisakan duka bagi rakyat Aceh dan GAM menyatakan berkabung selama 44 hari.
Abdullah Syafi’i atau Teungku Lah lahir di Bireuen, Aceh pada Minggu, 12 Oktober 1947. Dia dikenal dengan sosok yang ramah dan santun serta konsisten di garis perjuangan GAM.
Teungku Lah meninggal bersama istrinya, Cut Fatimah serta dua pengawal setianya pada 22 tahun lalu di pertempuran dengan pasukan TNI di hutan Jim-jim, Pidie Jaya.
Meski sudah lama tiada, sosok Teungku Lah masih sangat melekat di hati dan pikiran eks kombat GAM yang pernah berjuang bersamanya.
Dalam sejarah perjuangan GAM, sosok Teungku Abdullah Syafi’i tertulis dengan tinta emas. Dimana, momen kematiannya selalu diperangti para eks kombatan dengan berbagai cara.
Bahkan tak sedikit pula, masyarakat Aceh yang memposting ulang foto almarhum di medsos setiap tanggal 22 Januari.
Ia juga dikenal sosok sederhana, taat beribadah dan tidak bicara sembarangan.
Sifatnya yang santun, membuat orang tidak pernah marah kepadanya dan bila ia berbicara berisi nasihat dan bijaksana.
Sebulan sebelum ia syahid, Abdullah Syafi’i menuliskan wasiat yang seolah menjadi pertanda perjuangannya akan berakhir.
Wasiat terakhir Panglima GAM itu ditulis sebelum ia gugur dalam kontak senjata di kawasan perbukitan Jim-jim, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya pada 22 Januari 2002.
Berikut wasiatnya:
“…jika pada suatu hari nanti Anda mendengar berita bahwa saya telah syahid, janganlah saudara merasa sedih dan patah semangat. Sebab saya selalu bermunajat kepada Allah SWT, agar mensyahidkan saya apabila kemerdekaan Aceh telah sangat dekat. Saya tak ingin memperoleh kedudukan apa pun apabila negeri ini (Aceh) merdeka!” (*)
Editor : Pebri Mulya






