Indonesiadaily.net – Tempe merupakan makanan sehat, murah dan bergizi tinggi yang terbuat dari kacang kedelai. Namun perlu berhati-hati dalam memilih tempe, karena tak semua tempe yang dijajakan memiliki kualitas yang baik. Masakan yang sedap dapat tercipta dari tempe berkualitas bagus. Agar tak salah, berikut ini tips memilih tempe dengan kualitas yang baik.
Memilih tempe berdasarkan kualitasnya sangat memengaruhi rasa hingga lama penyimpanannya. Kualitas tempe bisa dilihat dari tekstur, bau, hingga warnanya. Chef Aguk Prasetiyo dari Hotel Santika Cirebon yang dikutip kompas.com menjabarkan tips memilih tempe yang tepat.
1. Warna kedelai dan jamur pada tempe
Hal pertama yang dapat dilihat adalah warna kedelai dan jamur pada tempe. Perhatikan warna kedelai tempe yang kuning dan jamurnya masih berwarna putih.
“Ada tempe yang warnanya hitam atau sudah coklat, itu sudah mulai busuk,” paparnya.
2. Tekstur padat dan tak mudah hancur
Tekstur padat dan tidak mudah hancur Pilih tempe yang bertekstur padat dengan kacang kedelai dan sedikit jamur putih seperti kapas di sela-selanya. Permukaan tempe yang bagus akan tetap padat jika ditekan. Selain itu, teksturnya pun agak keras karena butiran kedelai yang rapat
Jika dipotong tidak mudah hancur atau terlepas butiran kedelainya. Tempe yang bagus kualitasnya, rasanya gurih dan tidak ada rasa pahit sedikit pun. Tempe yang dibungkus plastik lebih awet daripada tempe yang dibungkus daun. Tempe yang masih baru biasanya masih hangat, kedelainya utuh, dan padat.
3. Aroma jamur segar
Jangan pilih tempe yang agak basah, berwarna coklat kehitaman dan mudah patah. Tempe dengan ciri-ciri seperti ini akan cepat busuk.
Tempe yang kualitasnya baik adalah tempe yang memiliki aroma jamur segar. Selain itu hindari bau tempe yang terlalu menyengat dan sangit.
“Tempe memang selalu mengalami proses fermentasi jadi akan semakin matang setiap harinya, nah baunya akan terlihat berbeda saat tempe yang baik dan yang sudah mau busuk,” paparnya.
Tempe tidak dapat disimpan dalam waktu lama di lemari es. Tempe hanya bertahan sekitar 3-5 hari. Jangan menumpuk tempe karena akan membuatnya cepat busuk.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai. Ini telah dibuktikan pada bayi dan anak balita penderita gizi buruk dan diare kronis.
Dengan pemberian tempe, pertumbuhan berat badan penderita gizi buruk akan meningkat dan diare menjadi sembuh dalam waktu singkat. Pengolahan kedelai menjadi tempe akan menurunkan kadar raffinosa dan stakiosa, yaitu suatu senyawa penyebab timbulnya gejala flatulensi (kembung perut).Sepotong tempe goreng (50 gram) sudah cukup untuk meningkatkan mutu gizi 200 g nasi. (*)
Editor : Nur Komalasari






