Indonesiadaily.net – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasi) menyarankan agar wanita tidak hamil di atas usia 35 tahun.
Lantas, benarkah kehamilan tersebut beresiko tinggi? Berikut penjelasannya.
Ya memang wanita di atas 35 tahun harus berhati-hati jika sedang dalam proses kehamilan. Sebab, ada beberapa risiko yang mengintai selama kehamilan hingga proses persalinan, antara lain :
1. Tekanan darah tinggi
Risiko terkena tekanan darah tinggi selama kehamilan lebih tinggi. Berdasarkan data Mayo Clinic yang dikutip dari kompas.com, penelitian menunjukkan tekanan darah tinggi yang berkembang selama kehamilan lebih sering terjadi pada usia yang lebih tua.
2. Bayi lahir prematur
Ada risiko kelahiran prematur yang lebih besar dan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. Bayi prematur seringkali memiliki masalah medis yang rumit.
3. Risiko kelainan kromosom
Bayi yang lahir dari ibu yang lebih tua memiliki risiko lebih tinggi terhadap kondisi kromosom tertentu, seperti sindrom Down.
4. Komplikasi persalinan
Wanita berusia 30-an lebih cenderung membutuhkan operasi caesar daripada wanita yang lebih muda. Wanita yang melahirkan bayi pertama mereka setelah usia 35 tahun juga berisiko tinggi mengalami komplikasi persalinan lainnya, seperti persalinan lama.
Namun, meski banyak risiko yang bisa saja terjadi, bukan berarti wanita yang berusia 30 tahunan tidak bisa memiliki kehamilan yang sehat.
Direktur intervensi janin di UH Cleveland Medical Center, Ellie Ragsdale, mengatakan bahwa wanita yang hamil di usia 30 tahunan dan awal 40 tahunan dapat memiliki kehamilan yang aman dan sehat. Kemajuan dalam perawatan medis untuk ibu dan bayi dapat membantu mencegah dan menangani banyak risiko yang mereka hadapi.
“Perawatan prenatal dini dan teratur adalah kunci untuk memiliki bayi yang sehat di usia berapa pun,” kata Ragsdale.
“Sangat penting untuk memastikan Anda dalam keadaan sehat sebelum dan selama kehamilan. Makan makanan bergizi dan berolahraga secara teratur. Hindari rokok dan alkohol, yang dapat membahayakan bayi,” tambahnya.
Selain itu, Ragsdale menyarankan untuk mengonsumsi 400 mcg asam folat setiap hari sebelum dan selama kehamilan untuk membantu mengurangi risiko cacat lahir.
Untuk wanita yang menderita diabetes tipe 1 atau tipe 2, American Diabetes Association merekomendasikan untuk mengonsumsi aspirin dosis rendah mulai dari akhir trimester pertama untuk menurunkan risiko preeklampsia.
Konsultasikan dengan penyedia layanan kesehatan Anda untuk menentukan dosis dan frekuensi yang tepat.
“Diskusikan rencana kehamilan dengan dokter, agar dapat mengidentifikasi kebutuhan khusus yang mungkin Anda miliki dan membantu memberikan saran.” kata Ragsdale. (*)
Editor : Nur Komalasari






