Indonesiadaily.net – Ada perubahan dalam pelajaran astronomi yang diberikan di sekolah. Dimana, sudah sejak lama, disebutkan ada sembilan planet di tata surya. Tetapi sejak 2006, Pluto bukan lagi disebut planet.
Persatuan Astronomi Internasional (IAU) mengubah status Pluto dari planet menjadi planet kerdil sejak tahun 2006.
Dalam menentukan status tersebut, IAU sempat mengalami dilema. Karena, jika menyebutkan Pluto sebagai planet maka ratusan objek lainnya yang ditemukan di masa depan akan disebut sebagai planet. Atau pilihan satu lagi, yakni menendang Pluto sebagai bagian dari barusan planet di Tata Surya.
Sampai akhirnya, mereka memilih opsi kedua. Ratusan ilmuwan setuju memilih untuk menghapus Pluto dari jajaran planet.
Lalu, mengapa Pluto bukan planet lagi?
Ketika IAU secara resmi mendefinisikan kata ‘planet’ untuk pertama kalinya, ternyata tidak cocok dengan Pluto.
Mengutip laman Popsci, Senin 30 Januari 2023 untuk bisa mempertahankan status planetnya bersama dengan Bumi, Mars, dan lainnya, harus melewati tiga tahap. Pertama planet harus mengorbit matahari, planet harus (mendekati) bentuk bulat, dan orbitnya harus bersih dari objek lain.
Secara teori, Pluto lulus dari tahap pertama ujian sebagai Planet, yakni berevolusi mengelilingi matahari setiap 248 tahun Bumi. Namun, untuk standar yang lain Pluto gagal.
Di tes kedua, Pluto juga bisa saja lolos. Tapi dijelaskan, asteroid yang lebih kecil [yang mengorbit matahari] memang dapat memiliki bentuk yang aneh. Itokawa, misalnya, terlihat seperti kentang yang menggumpal.
Namun saat massa sebuah benda langit membesar, gaya gravitasinya menarik bagian melebar ke tengah, sehingga menciptakan bentuk bulat. Pluto berkuran cukup besar untuk memaksa bentuknya menjadi bulat.
Tantangan utama Pluto ada pada standar ketiga, yang menjadi inti dari apa yang dipikirkan oleh banyak astronom ketika mereka mendengar kata ‘planet’.
Orbit dari delapan planet lain di Tata Surya bersih dari objek lain. Namun, Pluto berbeda. Saat melihat Tata Surya secara keseluruhan, Pluto berada di antara asteroid dan planet.
Sejauh yang diketahui para astronom, tidak ada objek terdekat yang mengadang Pluto. Namun, sekarang para peneliti mulai lebih mengerti tentang lingkungan Pluto.
Alih-alih menjadi planet terjauh, Pluto lebih pas menjadi anggota terdekat dari Sabuk Kuiper, sebuah cincin berbentuk donat yang mungkin terdiri dari satu triliun komet dan bola es yang mengorbit di luar Neptunus.
Setidaknya 200 dari objek ini cukup besar untuk berbentuk bulat, memenuhi syarat sebagai planet kerdil.
Seperti asteroid, mereka semua bergerak dengan cara yang sama. Pluto, kata astronom dari Institut Teknologi California, Mike Brown, disebut akan selalu menjadi bagian dari kawanan asteroid tersebut. (*)
Editor : Pebri Mulya






